Selasa, 31 Maret 2020
07 Sha‘ban 1441 H
Home / Forum Milenial / Zakatnomics: Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat Melalui Zakat
FOTO I Dok. thejournal.ie
Harta tidak hanya berputar di antara orang-orang kaya saja, tetapi harus diberikan atau disedekahkan kepada orang yang membutuhkan seperti tercantum dalam QS. Al-Hasyr ayat 7.

Sharianews.com, Zakat merupakan salah satu instrumen dari filantropi ekonomi Islam. Namun, jika kita telisik makna dari firman Allah QS. At-Taubah ayat 103 yang artinya nya adalah “Ambilah zakat dari sebagian harta mereka...” dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa zakat bersifat wajib yang harus dipungut oleh para Ulil Amri dalam sebuah negara. Zakat sendiri dibagi menjadi dua yakni, Zakat Fitrah yang dikeluarkan sebelum shalat Ied pada bulan Ramadan dan Zakat Maal atau zakat harta.

Fenomena kemiskinan tidak pernah lepas menjadi permasalahan dalam sebuah negara di seluruh peradaban umat manusia. Padahal, seharusnya negaralah yang menjamin kesejahteraan hidup masyarakatnya. Permasalahan ini sedikit demi sedikit bisa di minimalisir apabila perputaran ekonomi atau velocity itu dapat berjalan dengan baik. Harta tidak hanya berputar di antara orang-orang kaya saja, tetapi harus diberikan atau disedekahkan kepada orang yang membutuhkan seperti tercantum dalam QS. Al-Hasyr ayat 7.

Apakah zakat bisa meningkatkan ekonomi masyarakat dan menjadi solusi bagi permasalahan kemiskinan? Zakat dalam ekonomi Islam sejatinya tidak dirancang hanya sebagai instrumen keagamaan, tetapi juga instrumen keuangan yang dapat dikelola dan di retribusi untuk mendorong produktivitas perekonomian dan konsumtif rumah tangga. Zakat bisa difungsikan sebagai kebijakan fiskal oleh pemerintah. Di Indonesia, praktik zakat yang diterapkan oleh Lembaga Amil Zakat besar, di mana dana zakat dan dana sosial lainnya seperti wakaf, infak dan sedekah digunakan untuk peningkatan fungsi alokasi pemerintah seperti pembangunan sekolah dan rumah sakit yang layanannya digratiskan kepada masyarakat fakir dan miskin.

Faktanya, dana zakat yang mempunyai potensi sebesar Rp200 triliun menurut Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), tetapi hanya Rp8,1 triliun yang terhimpun. Hal ini sangat disayangkan melihat mayoritas penduduk di Indonesia beragama Islam. Zakat bisa dijadikan sebagai solusi dalam upaya pengentasan kemiskinan karena zakat dikenakan pada basis yang luas dan meliputi berbagai aktivitas perekonomian. Zakat tidak hanya dikenakan pada penghasilan dari sektor jasa, tetapi juga pada sektor-sektor perekonomian yang lebih luas seperti pertanian, peternakan, pertambangan, perikanan, dan lain sebagainya.

Gagasan terbaru yang dibuat oleh Baznas yakni Zakatnomics adalah sebuah konsep untuk memajukan ekonomi masyarakat melalui zakat. Menurut Prof Ahmad Satori Ismail, Anggota Baznas “Konsep ini didefinisikan sebagai kesadaran untuk membangun tatanan ekonomi baru untuk mencapai kebahagiaan, keseimbangan kehidupan dan kemuliaan manusia yang didasari dari semangat dan nilai-nilai Islami melalui zakat”

Zakat tidak hanya difungsikan sebagai pemenuhan konsumtif bagi para mustahik, zakat juga dapat mendorong ekonomi yang produktif. Semua tujuan dari ekonomi Islam adalah kemaslahatan umat atau kesejahteraan manusia di dalamnya sehingga dapat terjaganya Maqashid Syariah, yakni hifdzu dien (agama), hifdzu nafs (jiwa), hifdzu aql (akal), hifdzu nasl (keturunan) dan hifdzu maal (harta). Dalam kaitannya dengan Zakatnomics, pemeliharaan terhadap Maqashid syariah merupakan tujuan yang dapat dicapai.

Dalam hal perlindungan terhadap aspek agama, perekonomian yang dibangun melalui Zakatnomics menempatkan zakat sebagai salah satu instrumen penting dan utama dalam perekonomian, mengingat zakat merupakan rukun Islam yang ketiga. Hal ini membuktikan bahwa di dalam agama besar kaitannya dengan perekonomian. Dalam perlindungan terhadap aspek Nafs atau jiwa, zakatnomics bertujuan untuk memenuhi kebutuhan primer dari setiap manusia, sehingga setelah terpenuhinya kebutuhan primer seperti pangan akan menimbulkan jiwa yang positif.

Dalam perlindungan terhadap aspek Aql atau Akal, mekanisme dari zakatnomics adalah dengan mengentaskan kemiskinan yang dicapai salah satunya adalah melalui pendidikan, apabila mustahik memiliki aksesibilitas untuk menempuh pendidikan akan dapat mendorong dirinya untuk memperbaiki kehidupan ekonominya. Dalam perlindungan terhadap aspek Nasl atau keturunan, zakat memiliki fungsi tidak langsung pada aspek ini, karena pada dasarnya zakat diberikan untuk rumah tangga dan keluarga saat ini.

Namun demikian, zakatnomics diharapkan dapat mendukung program-program yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat saat ini dan yang akan datang. Adapun zakat merupakan instrumen utama dalam perlindungan terhadap aspek Maal atau harta, yakni kebijakan ekonomi dengan mengutamakan economic welfare dapat diwujudkan melalui zakat. Dalam perspektif zakatnomics, indikator-indikator yang dijadikan sebagai acuan untuk memperbaiki perekonomian masyarakat adalah dengan memperhatikan harta yang kita dapat berasal dari mana dan harta yang kita keluarkan digunakan untuk apa.

Pada perspektif zakatnomics, kebijakan-kebijakan ekonomi yang diarahkan berfokus pada keadilan distribusi kekayaan yakni melalui zakat. Hal ini karena zakat memberikan kesempatan bagi semua orang untuk merasakan kesejahteraan melalui ekonomi dalam hidupnya. Konsep zakatnomics juga menekankan pada instrumen keuangan tanpa adanya salah satu pihak yang dirugikan.

Zakatnomics merujuk pada nilai-nilai dari zakat itu sendiri. Berdasarkan definisinya, terdapat empat nilai yang akan dibangun oleh zakatnomics untuk dapat diimplementasikan dalam pembangunan ekonomi yang tujuannya adalah meningkatkan perekonomian masyarakat (Purwakananta, 2018), yakni:

Faith/Semangat Ketakwaan

Nilai yang dibangun melalui zakatnomics salah satunya adalah ketakwaan melalui nilai-nilai agama dalam peningkatan perekonomian. Nilai-nilai yang dimaksudkan adalah berbagi, kepedulian, saling tolong-menolong, keadilan dan menghindari keserakahan dan materialisme.

Production Revolution/Budaya Produksi

Selain zakat yang dapat difungsikan sebagai pemenuhan kebutuhan konsumtif, zakat juga dapat mendorong seseorang untuk produktif dan menghindari sifat konsumerisme. Semangat produksi yang dimaksudkan adalah untuk memaksimumkan maslahah. Zakat yang dikeluarkan untuk mustahik selain dapat digunakan untuk konsumsi juga dapat mendorong mustahik untuk mandiri.

Fair Economic/Perekonomian yang Adil

Zakat sebagai fungsinya berupaya untuk meredistribusi pendapatan dari sekelompok yang kaya kepada sekelompok masyarakat yang miskin. Sebagai implementasinya, zakatnomics ini menerapkan fair economic sebagai pilar yang tidak hanya dicerminkan oleh perintah zakat dan sedekah secara umum, namun juga larangan-larangan dalam transaksi perekonomian yang dapat menghalangi keadilan seperti maysir, gharar, riba dan tadlis.

Zakat Implementation/Implementasi Zakat

Implementasi zakat yang disandingkan dengan instrumen filantropi lainnya yakni Infaq, Sedekah dan Wakaf adalah berbagi dan menolong sesama dalam kehidupan perekonomian. Dengan implementasi dari dana zakat khususnya, diharapkan pembangunan ekonomi akan tersebar secara merata dan adil.

Untuk mewujudkan empat nilai di atas, hal utama yang harus diperhatikan adalah pengentasan kemiskinan. Karena masalah kemiskinan merupakan masalah mendasar dari perekonomian. Hal ini penting karena pada akhirnya tujuan yang ingin dicapai dari zakatnomics ini adalah kesejahteraan (maslahah) dari seluruh lapisan masyarakat. Konsep ini sejalan dengan zakat yang sering dikaitkan dengan solusi dari pengentasan kemiskinan.

Zakatnomics sebagai salah satu perspektif dari pengimplementasian zakat dan implikasinya terhadap pengentasan kemiskinan. Di mana skema pengentasan kemiskinan dalam zakatnomics terdapat tiga hal utama yang menjadi fokus perhatian, yaitu aspek ekonomi melalui penguatan dan kemandirian ekonomi mustahik, aspek sosial melalui zakat yang merupakan pemenuhan aspek mendasar dalam kehidupan dan aspek advokasi melalui pengentasan kemiskinan yang merupakan upaya pembelaan hak-hak dari para mustahik. (*)

 

Editor: Achi Hartoyo

 

Oleh: Anisah Ajeng Jayanti

Tags: