Kamis, 27 Juni 2019
24 Shawwal 1440 H
Home / Zakat insight / Zakat dalam Pusaran Ekosistem Halal Value Chain
FOTO I Dok. sharianews
Data dari Global Islamic Economy Report pada tahun 2018 menunjukan bahwa saat ini Indonesia menduduki peringkat pertama dalam aspek tingkat konsumsi produk-produk halal yang mencapai 170 miliar dolar AS atau setara Rp2.465 Triliun kurs Rp14.500.

Sharianews.com, Rantai pasok halal atau yang lebih dikenal sebagai halal value chain merupakan sebuah konsep baru yang ditawarkan dalam sistem ekonomi syariah. Halal value chain adalah sebuah ekosistem atau rantai pasok halal dari industri hulu sampai hilir. Halal value chain mencakup empat sektor industri, yakni industri pariwisata halal, kosmetik dan obat-obatan halal, industri makanan halal dan industri keuangan halal mulai dari hulu sampai ke hilir.

Laporan Global Islamic Economy 2018/2019 mencatat, secara global nilai valuasi industri halal pada tahun 2017 telah mencapai angka yang cukup fantastis yaitu 2.107 miliar dan diproyeksikan akan tumbuh 42 persen pada tahun 2023 sebesar 3.007 dolar AS. Hal ini mengindikasikan bahwa industri halal memiliki prospek yang cukup menjanjikan untuk terus tumbuh.

Sebagai negara dengan mayoritas Muslim di dunia, tentunya Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dalam membangun ekosistem halal value chain atau rantai pasok halal baik dari konteks supply side yakni industri halal dan juga demand side yaitu pasar industri halal. Data dari Global Islamic Economy Report pada tahun 2018 menunjukan bahwa saat ini Indonesia menduduki peringkat pertama dalam aspek tingkat konsumsi produk-produk halal yang mencapai 170 miliar dolar AS atau setara Rp2.465 Triliun kurs Rp14.500.

Namun sayangnya, dalam konteks produksi produk halal, Indonesia hanya menempati peringkat 10. Hal ini ditanggapi serius oleh para stakeholder halal di Indonesia dengan mendirikan sebuah organisasi nonprofit yaitu Indonesia Halal Lifestyle Center. Organisasi ini bertujuan untuk mendorong para pelaku industri ikut terlibat aktif dalam menciptakan ekosistem halal value chain di Indonesia.

Lalu bagaimana relevansi Zakat dengan ekosistem halal value chain? Zakat sebagai instrumen keuangan sosial dalam keuangan syariah memiliki peran yang cukup penting dalam menciptakan ekosistem halal value chain. Melalui program-program unggulan, baik itu program ekonomi maupun program sosial yang dilakukan oleh organisasi pengelola zakat (OPZ), zakat secara tidak langsung ikut terlibat aktif dalam menciptakan dan mendukung ekosistem halal value chain.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) sebagai institusi yang diberikan wewenang oleh Undang-undang untuk mengelola zakat secara nasional memiliki program-program unggulan yang turut mendukung dan menciptakan ekosistem halal value chain di Indonesia. Dalam konteks program ekonomi, saat ini Baznas memiliki tiga program unggulan yaitu Lembaga Zakat Community Development (ZCD), Lembaga Program Ekonomi Mustahik (LPEM), dan Baznas Microfinance (BMFi).

Melalui Lembaga ZCD, Baznas memberdayakan mustahik berbasiskan komunitas dan desa dengan mengintegrasikan aspek dakwah, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan kemanusiaan secara komprehensif dengan menggunakan sumber pendanaan zakat, infak, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya (DSKL). Tujuan dari ZCD itu sendiri adalah untuk mendorong desa atau komunitas suatu daerah agar memiliki kemandirian dari segala aspek baik itu ekonomi kesehatan dan pendidikan.

Kemudian, melalui LPEM juga Baznas berkomitmen untuk memajukan ekonomi mustahik melalui program Balai Ternak, Lumbung Pangan, Mustahik Pengusaha dan Z-Mart. Dalam program Balai Ternak, mustahik akan diberikan aset produktif berupa hewan ternak untuk dikelola menjadi usaha yang berkelanjutan. Program Lumbung Pangan ditujukan sebagai upaya untuk memberdayakan mustahik melalui pemberian bibit tanaman dengan kualitas unggul serta pendampingan dari Baznas agar memiliki usaha pertanian yang berkelanjutan. Lebih lanjut, Program Mustahik Pengusaha ditujukan untuk menciptakan entrepreneur di kalangan mustahik melalui pendampingan dan pelatihan kewirausahaan dan bantuan modal usaha. Kemudian melalui program Z-Mart, Baznas memberdayakan mustahik dengan melibatkan mereka dalam mengelola usaha retail. Dalam skala lebih besar, Z-Mart melibatkan keluarga-keluarga mustahik untuk memenuhi permintaan grosir dan eceran toko-toko kelontong.

Lebih lanjut, dalam program BMFi, Baznas menyediakan layanan pembiayaan produktif kepada mustahik dalam rangka mengembangkan usaha. Salah satu kendala yang dihadapi mustahik adalah mereka kesulitan dalam mengakses modal dari layanan keuangan formal seperti bank dikarenakan persyaratan administratif dan teknis yang cukup sulit yang tentunya hal ini akan menghambat perkembangan usaha mereka sehingga Baznas hadir melalui program BMFi untukmengatasi hal tersebut.

Program-program pemberdayaan ekonomi yang telah dilakukan dilakukan Baznas memang terlihat tidak begitu besar, tetapi secara agregat dan dihitung secara nasional dengan program pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat yang lainnya maka akan memiliki dampak atau multiplier effect yang begitu besar dalam meningkatkan kesejateraan ekonomi masyarakat menengah ke bawah yang pada akhirnya para penerima manfaat zakat juga ikut terlibat dalam menciptakan ekosistem halal value chain di Indonesia. Oleh karenanya penulis jugamenghimbau kepada seluruh stakeholder terkait untuk tidak meremehkan zakat, karena zakat yang anda beri melalui lembaga zakat resmi, akan turut andil dalam pusaran ekosistem halal value chain yang bermuara pada kesejateraan bangsa Indonesia lahir dan batin. Wallahualam (*)

Oleh: Abdul Aziz Yahya Saoqi

Tags: