Selasa, 22 Oktober 2019
23 Ṣafar 1441 H
Home / Lifestyle / WNI Ini Peluk Anaknya saat Brenton Tarrant Eksekusi Jama'ah di Christchruch
Zulfirman Syah. (Dok/Foto Istimewa)
Seniman (pelukis) asal Padang, Sumatera Barat ini dikabarkan menerima lebih banyak peluru lantaran melindungi anaknya dari serangan tersebut.

Sharianews.com, Setelah terjadi penembakan brutal di dua Masjid Selandia Baru yang menyasar muslim saat solat Jumat (15/3/19) lalu, didapati sejumlah korban yang luka-luka maupun meninggal dunia.

Dari seluruh korban yang sejauh ini dilaporkan, tujuh diantaranya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang tengah berada di Masjid Al-Noor dan Lindwood di Christchurch.

Empat WNI dinyatakan selamat, dua lainnya mengalami luka dan masih dirawat intensif di rumah sakit sedangkan satu orang meninggal dunia.

Dikabarkan dua korban luka-luka ini merupakan ayah (Zulfirman Syah) dan anak (Averroes) asal Padang, Sumatera Barat yang baru menetap di Selandia Baru selama dua bulan. Satu korban meninggal dunia adalah Lilik Abdul Hamid, yang merupakan ketua Masyarakat Indonesia di Christchruch yang juga pendukung aktivitas dakwah Da’I Ambassador Lembaga Dompet Dhuafa. 

Muhammad Abdul Hamid (Lilik Abdul Hamid)

Muhammad Abdul Hamid atau dikenal dengan nama Lilik Abdul Hamid. Menurut pihak keluarga, Lilik sudah sekitar 17 tahun menetap di Selandia Baru, yakni sejak tahun 2002.

Lilik dikenal sebagai seorang yang sangat aktif dalam aktivitas apapun termasuk aktivitas dakwah. Saat ini ia diamanahkan menjadi ketua Masyarakat Indonesia di Christchruch yang juga pendukung aktivitas dakwah yang dilakukan Da’I Ambassador Lembaga Dompet Dhuafa.

Keaktifannya itu juga dilihat dengan kontribusi besarnya saat hari-hari besar umat islam. Denny

"Di kegiatan apapun, dia selalu jadi koordinator. Idul Fitri, Idul Adha. Istilahnya pentolan orang Indonesia di Selandia Baru," kata Denny, adik ipar Lilik melansir dari Tribun, Minggu (17/3/2019).

Tambah Denny, sosok Lilik juga dikenal dengan sifat baiknya yang suka membantu dan dermawan. Terbukti ketika ada warga Selandia yang hedak menikah sampai ada warga yang ingin menjadi muallaf (masuk islam), ia turut membantunya.  

Sementara itu, Ibu mertua Lilik, Tjiji, menjelaskan bahwa tempat tinggal menantunya memang dekat dengan Masjid Al Noor.

"Setiap hari memang solatnya di situ. Sekitar 200 sampai 300 meter dari rumahnya ke masjid," terang Tjitji.

Selain itu, alumni Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Tangerang, Banten ini diakui sebagai sosok taruna yang berprestasi. Sehingga hal tersebut membawanya terbang ke Selandia Baru sebagai teknisi di Air New Zealand.


Zulfirman Syah dan Averroes

Zulfirman Syah adalah ayah dari Averroes yang berusia dua tahun yang keduanya menjadi korban serangan tembakan. Seniman (pelukis) asal Padang, Sumatera Barat ini dikabarkan menerima lebih banyak peluru lantaran melindungi dengan memeluk anaknya dari serangan tersebut.

Sedangkan putranya, Averroes mengalami luka ringan dan telah menjalankan operasi untuk mengeluarkan serpihan peluru di kaki dan punggungnya.

"Dia (Averroes) menjalani pemulihan dengan baik dan tetap ceria dengan sifatnya yang banyak bicara dan energik dengan petugas yang berada di ruang perawatan," cerita isteri dari Zulfirman, Alta Marie pada akun facebooknya.

Zulfirman yang lebih akrab disapa Zul ini diketahui seorang alumni Insitut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta. Dimana kedatangannya ini baru dua bulan terhitung sejak Januari 2019 lalu lantaran ia menyukai suasana Selandia Baru yang damai dan tertib.

Dari penuturan Anton Rais Makoginta, teman Zulfirman di Sakato Art Community, Zul sudah bertahun-tahun berkontribusi di kelompok seniman seni rupa Indonesia ini.

Menurut Anton, ia juga pernah mengikuti pameran di Beijing, Cina.

"Karya lukisnya abstrak dengan kesadaran realis. Dia membuat wujud-wujud abstrak menjadi model yang kemudian dipindahkannya ke kanvas. Terakhir, dia baru saja ikut dalam pameran 'Plus' di Nadi Gallery, Jakarta. Saat itu ada pameran 15 seniman Sakato Art Community," kata Anton melansir dari BBC Indonesia.



Reporter: Fathia Editor: Munir Abdillah