Jumat, 13 Desember 2019
16 Rabi‘ at-akhir 1441 H
Home / Fokus / Wisata Halal Global di 2019
FOTO I dok. Asonihaus.com
Secara global, total prediksi wisatawan Muslim ke berbagai negara tujuan mencapai 158 juta orang hingga akhir tahun ini.

Sharianews.com, Perkembangan demi perkembangan yang tengah dialami ekonomi Islam dari tahun ke tahun, tidak hanya bergantung pada sektor impor-ekspor konsumsi dan keuangan makro-mikro. Kian ramainya industri pariwisata seperti penyediaan hotel, biro perjalanan, dan restoran yang menganut prinsip syariah juga menjadi satu dari sekian penggerak pertumbuhan.

Sentuh 204 Miliar Dolar AS

Menurut rilis State of the Global Islamic Economy Report 2018/19 milik DinardStandard beserta Thomson Reuters dan Dubai The Capital of Islamic Economy, kondisi tersebut berbanding lurus dengan pertumbuhannya. Tidaklah mengherankan jika total belanja pasar pariwisata halal diprediksi menyentuh angka 204 miliar dolar AS di tahun 2019. Jumlahnya meningkat sekitar 7,6 persen dari setahun sebelumnya, yakni 190 miliar dolar AS.

Berpijak dari data Global Muslim Travel Index (GMTI) yang dirilis tahun lalu oleh Mastercard dan Crescentrating, besarnya nilai sektor pariwisata halal yang pada abad ke-17 dan 18 disebut pula dengan istilah ‘the Grand Tour’ tersebut, disebabkan bertambahnya kuantitas pelancong Muslim dunia.

Secara global, total prediksi wisatawan Muslim ke berbagai negara tujuan mencapai 158 juta orang hingga akhir tahun ini. Selisihnya kurang lebih 10 persen dibanding 2018 lalu yang hanya berjumlah 144 juta pengunjung.

Tumbuhnya pariwisata halal tersebut di atas didongkrak oleh beragam faktor. Faktor kuncinya, pertama, ialah bertambahnya populasi umat Islam disertai dengan peningkatan kelas menengah, skill yang dimiliki, dan juga pola hidup generasi milenialnya.

Kemudahan untuk mengakses informasi berbagai lokasi tujuan wisata melalui kemajuan teknologi, semakin banyak dan membaiknya pelayanan lingkungan dengan standar syariah, mulai dari penyediaan makanan halal di restoran dan hotel, hingga penawaran yang beragam, dipercaya turut mengerek perkembangan wisata halal.

Faktor lain yang ikut mendorong perkembangan wisata halal adalah meningkatnya budaya liburan saat dan usai Ramadan. Khususnya untuk ibadah umrah di bulan suci Ramadan dan untuk menghindari cuaca ekstrem atau durasi panjang puasa di sebagian wilayah, juga berkontribusi terhadap pertumbuhan wisata halal.   

Konsisten Sebagai Konsumen  

Dari perhitungan bisnis, harus diakui negara yang memperoleh pemasukan finansial (inbound) terbesar dari gemuknya pasar pariwisata halal dunia, mayoritas masih dipegang oleh negara-negara yang bukan anggota Organisasi Kerjasama Islam (non-OKI).

Negara tersebut antara lain, Rusia dengan menduduki peringkat pertama, kemudian diikuti yang kedua dihuni oleh Spanyol. Sedang yang ketiga hingga kelima ditempati oleh Prancis, Thailand, dan Singapura. Berkebalikan dengan itu, secara paradoks negara-negara Muslim yang tergabung dalam OKI senantiasa konsisten sebagai konsumen pasar (outbound) industri wisata halal.

Lima teratas, di antaranya, ialah Arab Saudi yang menempati posisi kesatu dengan biaya wisata yang dikeluarkan oleh penduduknya diprediksi bahkan mencapai 21 miliar dolar AS pada tahun 2023. Kalkulasi tersebut lebih banyak jika dibanding Uni Emirat Arab di rangking kedua dengan pengeluaran sekitar 16 miliar dolar AS.

Di tempat ketiga diduduki Qatar yang menghabiskan uang belanja diproyeksi sampai 13 miliar dolar AS. Sementara Kuwait dan Indonesia berada di posisi keempat dan kelima, dengan masing-masing warga Muslimnya sama-sama membelanjakan kurang-lebih 10 miliar dolar AS. (*)

 

Reporter: Emha S Ashor Editor: Achi Hartoyo

Tags: