Senin, 17 Juni 2019
14 Shawwal 1440 H
Home / Forum Milenial / Wakafpreneur Upaya Meningkatkan Gerakan Mahasiswa Sadar Wakaf di Lingkungan Kampus
Gusti Dirga (Dok/Foto Sharianews)
Dalam berbagai literatur sejarah, wakaf menjadi salah satu komponen pendukung dalam mencapai kesejahteraan umat.

Sharianews.com, Umat muslim mengenal wakaf sebagai salah satu sunnah dari Nabi Muhammad SAW yang mendatangkan banyak manfaat dalam kesejahteraan umat. Wakaf adalah salah satu bentuk distribusi harta dalam Islam selain Zakat, Infaq, dan Shodaqoh dan empat hal tersebut sering digabungkan dengan istilah ZISWAF.

Namun tentu saja, meskipun memiliki tujuan yang sama yaitu demi mencapai kesejahteraan umat, masing-masing komponen tersebut memiliki definisi yang tentu berbeda antara satu sama lain. Wakaf bertujuan untuk memberikan manfaat atau faedah harta yang diwakafkan kepada orang yang berhak dan dipergunakan sesuai dengan ajaran syariah Islam.

Hal ini sesuai dengan fungsi wakaf yang disebutkan pasal 5 UU no. 41 tahun 2004 yang menyatakan wakaf berfungsi untuk mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum.

Dalam berbagai literatur sejarah, wakaf menjadi salah satu komponen pendukung dalam mencapai kesejahteraan umat. Bermula sejak Rasulullah menanamkan pondasi ketauhidan, memberi pengajaran bahwa dalam setiap harta seorang muslim ada hak bagi orang lain, wakaf menjadi salah satu instrumen keuangan negara yang sangat penting selain zakat.

Pengembangan wakaf sebagai salah satu instrumen peningkatan kesejahteraan negara berlanjut hingga saat ini, dimana Indonesia adalah salah satu negara yang giat dalam peningkatan literasi wakaf. Berbagai peraturan dan undang-undang disusun sedemikian rupa demi memperkuat aturan tentang wakaf di Indonesia. Salah satu komitmen dari pemerintah dalam menyukseskan penyelenggaraan pengelolaan wakaf di Indonesia adalah dengan didirikannya Badan Wakaf Indonesia.

Kelahiran Badan Wakaf Indonesia (BWI) merupakan perwujudan amanat yang digariskan dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf. Kehadiran BWI, sebagaimana dijelaskan dalam pasal 47, adalah untuk memajukan dan mengembangkan perwakafan di Indonesia.

Untuk kali pertama, Keanggotaan BWI diangkat oleh Presiden Republik Indonesia, sesuai dengan Keputusan Presiden (Kepres) No. 75/M tahun 2007, yang ditetapkan di Jakarta, 13 Juli 2007.

Jadi, BWI adalah lembaga independen untuk mengembangkan perwakafan di Indonesia yang dalam melaksanakan tugasnya bersifat bebas dari pengaruh kekuasaan manapun, serta bertanggung jawab kepada masyarakat. Kelahiran badan resmi pemerintah tersebut pada akhirnya melahirkan berbagai konsep dalam pengembangan literasi wakaf di berbagai kalangan, salah satunya adalah wakafpreneur.

Wakafpreneur dapat diartikan sebagai orang atau individu yang giat dalam melakukan kegiatan tentang wakaf. Wakafpreneur hadir sebagai sebuah kebutuhan umat islam dalam upaya peningkatan literasi wakaf. Orang-orang yang disebut sebagai wakafpreneur adalah mereka yang giat mengajak orang-orang disekitarnya untuk ikut serta dan aktif dalam kegiatan perencanaan, pengelolaan, dan peningkatan pengetahuan tentang wakaf. Peningkatan literasi tentang wakaf harus dilakukan dengan melihat fakta bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

Wakaf tidak bisa dianggap remeh di Indonesia. Potensi aset wakaf di Indonesia mencapai Rp 2.000 triliun dan potensi penerimaan wakaf uang mencapai Rp 188 triliun rupiah pertahun. Potensi tersebut dapat direalisasikan apabila peningkatan literasi tentang wakaf di Indonesia berjalan dengan baik.

Hal ini sejalan dengan pemahaman bahwa, selain  wakaf adalah sunnah dari Rasulullah, wakaf juga dapat digunakan sebagai instrumen dalam membangun negara. Berbagai proyek infrastruktur, layanan pendidikan, kesehatan, dan kualitas masyarakat dapat ditingkatkan melalui penyaluran wakaf.

Selain di lingkungan masyarakat, wakafpreneur juga harus bergerak dilingkungan kampus. Hal ini dikarenakan kampus adalah tempatnya pemuda-pemudi dalam mengasah kemampuan akademik dan softskill yang lebih tinggi. Kampus adalah gudangnya calon-calon intelektual masa depan yang melahirkan berbagai terobosan penting dalam pembangunan bangsa. Kampus adalah hulu dari berbagai konsep pemikiran yang teoritis dan aplikatif sehingga upaya peningkatan sadar wakaf sangat berpotensi untuk tumbuh dan berkembang di lingkungan kampus.

Peranan wakafpreneur dalam pengembangan literasi tentang wakaf di lingkungan kampus dapat dilakukan dengan berbagai hal. Pertama, diadakannya kajian-kajian ilmiah seputar wakaf. Mahasiswa-mahasiswa yang ingin tahu banyak tentang wakaf dapat turut serta mengikuti kajian tersebut.

Kegiatan ini dapat dimulai dengan sejarah wakaf, pengertian wakaf, konsep distribusi harta dalam Islam, peranan wakaf dalam membangun kesejahteraan umat, hingga membahas tentang isu-isu yang menyinggung soal wakaf di era modern seperti sekarang ini. Supaya lebih sistematis, dapat disusun suatu kurikulum khusus mengenai konsep penting dalam wakaf. Sehingga, pendalaman kajian wakaf dapat dilakukan secara komprehensif dan menyeluruh.

Kedua, penyelenggaraan kuliah umum seputar wakaf dengan pemateri yang mumpuni dan pakar di bidang wakaf. Berbagai permasalahan muamalah kontemporer yang menyinggung tentang wakaf bisa dibahas secara lebih jelas. Hal ini mengikuti perkembangan zaman dimana dunia selalu dinamis sehingga perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan harus sejalan ke arah yang positif.

Ketiga, pembentukan Small Group Discussion (SGD), yaitu semacam kelompok kecil yang beranggotakan beberapa orang yang sanggup untuk turut serta dalam membangun gerakan sadar wakaf di kalangan mahasiswa. Adanya kelompok kecil ini untuk memudahkan antara mahasiswa dalam bertukar pendapat, isu, dan gagasan demi pengembangan wakaf di lingkungan kampus.

Sejalan dengan tujuan dunia perkuliahan yang mengharapkan mahasiswanya tidak hanya paham dalam teori namun juga cakap dalam aplikasi, kelompok kecil ini diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu-ilmu tentang wakaf yang diperoleh dalam kajian ilmiah untuk pengembangan wakaf, contohnya adalah Gerakan Mahasiswa Sadar Wakaf.

Gerakan Mahasiswa Sadar Wakaf adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh wakafpreneur dalam peningkatan literasi wakaf di lingkungan mahasiswa. Gerakan ini diilhami dari fakta bahwa mahasiswa adalah Agent of Change. Ketika kepercayaan rakyat kepada pemerintah berkurang, justru kepercayaan kepada mahasiswa semakin bertambah. Mahasiswa dengan suaranya yang lantang dapat merubah tatanan sebuah negara, sehingga dapat dipahami bahwa peranan mahasiswa sangat penting dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gerakan Mahasiswa Sadar Wakaf dapat berperan sangat penting. Adanya mereka berfungsi dalam menyadarkan betapa besarnya peran wakaf dalam perekonomian sebuah negara. Kita ambil contoh negara Malaysia yang sukses menjadikan wakaf dalam menjalankan program hajinya. Sekarang, Malaysia menjadi negara peringkat satu dunia dalam pengembangan perekonomian Islam. Bagaimana dengan Indonesia?

Ada banyak hal yang menjadi tugas dalam gerakan ini. Pertama, mengubah pola pikir kita tentang wakaf yang masih sangat sempit. Kita hanya mengenal wakaf sebatas wakaf tanah saja, tidak dengan wakaf-wakaf yang lain. Dan kenyataannya sekarang, banyak aset-aset wakaf tanah yang menganggur dan tak terurus, padahal jika dikelola secara baik tentu tanah-tanah wakaf tersebut menjadi aset yang sangat produktif.

Kedua, peningkatan pengembangan wakaf tunai dan wakaf produktif. Wakaf tunai sudah menjadi primadona di kalangan penduduk muslim saat ini. Potensi penghimpunan wakaf tunai di Indonesia yang mencapai Rp 188 triliun pertahun sangat berpotensi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hanya dengan mengeluarkan beberapa ribu rupiah, kita sudah bisa berwakaf secara tunai.

Hal ini menjadi salah satu upaya pengembangan wakaf tunai di Indonesia. Begitu juga dengan perkembangan wakaf produktif. Upaya pengembangan wakaf produktif sudah dilakukan beberapa waktu belakangan ini. Berbagai inovasi terus dilakukan dalam peningkatan wakaf produktif. Contohnya, nadzir (pengelola wakaf) sudah harus tersertifikasi oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) sehingga peran nadzir tidak dianggap sebelah mata. Dana wakaf yang dihimpun dari waqif dapat digunakan untuk pembelian sukuk maupun investasi syariah. Pengelolaan dana tersebut menghasilkan keuntungan yang cukup besar.

Keuntungan tersebut digunakan untuk membiayai sektor-sektor produktif seperti peternakan, pertanian, perkebunan, perikanan, bahkan dalam sektor UMKM. Selain itu, keuntungan tersebut juga dapat digunakan untuk membangun fasilitas umum dan infrastruktur masyarakat seperti pembangunan jalan, jembatan, perumahan, rumah sakit, masjid, dan berbagai hal lainnya.

Sehingga, wakaf tersebut menjadi instrumen penting dalam pembangunan negara. Kita bisa menghindari utang yang terlalu besar dengan mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam berwakaf. Pahala mengalir deras kepada waqif, para nazhir semakin profesional, dan masyarakat pun merasakan dampak langsung dari pengelolaan wakaf tersebut.

Ketiga, mengajak mahasiswa untuk berperan serta sebagai nadzir wakaf. Mahasiswa diberi pelatihan oleh BWI tentang tata cara menjadi nadzir wakaf yang baik dan sesuai syari’at Islam. Selain itu, mahasiswa juga dapat diangkat menjadi semacam volunteer yang bertugas mendakwahkan wakaf di tengah masyarakat dan juga berperan dalam pengumpulan wakaf. Jika memungkinkan, mahasiswa tersebut diberi ujrah (upah) oleh BWI.

Tujuan dari program tersebut adalah wakaf terdakwahkan dan mahasiswa tersejahterakan. Jika selama ini nadzir terkesan hanya dilakukan oleh kyai atau orang-orang tua, maka terobosan ini memungkinkan wakaf bisa lebih tersiarkan dan bisa dikumpulkan.

Keempat, membangun masyarakat di sekitar kampus. Lingkungan kampus bukan hanya tempat para mahasiswa untuk kuliah saja, tetapi lingkungan kampus mencakup aspek yang lebih luas seperti penduduk, kawasan pertokoan, jalan, perumahan, dan area yang berada di sekitar kampus tersebut. Pengembangan wakaf pun bisa dilakukan dengan menjadikan beberapa hal tersebut sebagai sasarannya.

Ada banyak hal yang menarik untuk dibahas jika kita menanggapinya secara serius. Contohnya, penyaluran wakaf tunai kepada para pemilik kost mahasiswa di sekitar kampus. Setiap periode, jumlah mahasiswa di sebuah kampus semakin bertambah. Hal ini juga memberikan efek kepada para pemilik kost mahasiswa. Mereka ingin dapat meningkatkan daya tampung mahasiswa terhadap kost yang dimilikinya.

Pemberian wakaf tunai kepada para pemilik kost tersebut mampu memberikan efek yang sangat besar dalam upaya peningkatan kehidupannya. Para pemilik kost merasa terbantu dengan adanya wakaf yang disalurkan, para mahasiswa juga ikut merasakan dampaknya secara langsung.

Objek lain yang juga dapat dikembangkan adalah penyaluran wakaf kepada para pemilik usaha kecil di sekitar kampus. Setiap penduduk atau pemilik usaha yang tinggal di sekitar kampus tentu mengharapkan adanya peningkatan kualitas usahanya.

Hal ini tidak hanya untuk mencari keuntungan semata, tetapi bagaimana caranya agar para mahasiswa tertarik dan lebih nyaman dalam bertransaksi. Penyaluran wakaf kepada para pemilik usaha tersebut diharapkan mampu untuk mengembangkan usahanya secara lebih luas lagi.

Jika demikian, tenaga kerja yang dibutuhkan juga semakin banyak dan akhirnya banyak penduduk yang tersejahterakan. Dengan demikian, masyarakan dapat merasakan dampak langsung dari adanya penyaluran wakaf tersebut.

Namun tentu saja, gerakan mahasiswa sadar wakaf tidak akan pernah berhasil jika tidak adanya komitmen yang kuat untuk membangun bangsa. Jika satu mahasiswa saja yang dengan wakafnya dapat memajukan kesejahteraan penduduk, apalagi seluruh mahasiswa dalam satu kampus.

Dan jika dengan satu kampus kesejahteraan penduduk meningkat, bagaimana dengan sepuluh? Hal ini tentu menjadi hal yang membanggakan. Wakaf, tidak hanya dipandang sebagai sebuah sunnah saja, tetapi akhirnya wakaf menjadi salah satu instrumen dalam pembangunan fisik dan mental negara.

Gerakan mahasiswa sadar wakaf jika digarap secara serius akan melahirkan wakafpreneur-wakafpreneur muda yang siap berkontribusi dalam pembangunan negara, siap memaksimalkan potensi yang dimiliki melalui pengembangan wakaf. Dan pada akhirnya, Indonesia dapat menjadi negara yang unggul dalam sistem ekonomi syariah di dunia.

 

Munir Abdillah

Tags: