Rabu, 21 Agustus 2019
20 Thu al-Hijjah 1440 H
Home / Kamus / Wadiah Vs Qardh

Wadiah Vs Qardh

Rabu, 21 November 2018 08:11
FOTO | Dok. istimewa
Sama atau berbedakah kedua akad dalam konsep muamalah tersebut? Bagaimana fatwa DSN-MUI terkait dengan penggunakan kedua akad tersebut?

Sharianews.com, Jakarta. Wadiah adalah titipan. Kitab Fathul Qarib mendefinisikan Wadiah sebagai akad amanah. Muncullah akad wadiah amanah atau wadiah yad amanah, yakni titipan yang sifatnya amanah.

Kitab Fathul Qarib tidak menyatakan larangan jika titipan dipergunakan. Namun, Fathul Qarib merumuskan bahwa ketika titipan (ditata atau disepakati untuk) dipergunakan, maka terjadilah Dhaman atau tanggungan dari penerima titipan untuk mengembalikan barang titipan. Inilah logika alasan munculnya akad wadiah yad dhamanah.

Tak perlu ilmu tingkat tinggi untuk memahami ketika terjadi skema titipan kok dipergunakan, maka terjadilah esensi akad pinjaman. Judul akadnya adalah titipan, alfazh akadnya adalah titipan, alur atau mabani akadnya adalah titipan. Oleh karena titipan dipergunakan, maka esensinya adalah akad pinjaman, maqashid dan ma'aninya adalah akad qardh.

Perhatikan bahwa Fatwa DSN MUI menyebut akad titipan yang dipergunakan dengan istilah wadiah, meskipun esensinya adalah qardh. Fatwa DSN MUI pun memisahkan Fatwa tentang Giro dan Tabungan berbasis wadiah yad dhamanah dengan Fatwa tentang Qardh, oleh karena keduanya memang merupakan dua hal yang berbeda.

Inisiasi wadiah adalah dari pemilik dana, sedangkan inisiasi qardh adalah dari pihak yang butuh dana. Wadiah tak berjangka waktu, sedangkan qardh berjangka waktu. Wadiah dipergunakan untuk skema pendanaan, sedangkan qardh dipergunakan untuk skema pembiayaan. Itu sebagian dari perbedaan antara wadiah yad dhamanah dengan qardh.

Meski keduanya tetap merupakan dua hal yang berbeda, namun perlakuan hukumnya sama, yakni sama-sama Qardh. Tidak boleh ada Qardh bersyarat aliran manfaat bagi Muqridh (pemberi Qardh).

Pada skema Tabungan Wadiah, tak ada syarat atau janji manfaat berupa bonus kepada pemilik dana (Nasabah Tabungan dan Giro), malah Bank Syariah boleh memberikan bonus kepada pemilik dana (Nasabah). Langkah ini dilakukan oleh Bank Syariah karena tiru-tiru rumus Hadits Rasulullah yang menganjurkan agar memberikan kelebihan dalam pinjaman.

Kalau ada Ustadz Dewean yang melarang Nasabah menerima bonus dalam Wadiah, sepertinya Pak Ustadz tidak sempat mencermati rumus dari Rasulullah beserta tafsirannya bahwa Rasulullah menganjurkan peminjam untuk memberikan kelebihan dalam pinjaman.

Satu hal lagi, ketika DSN MUI sudah bikin Fatwa, yakinlah bahwa Fatwa tersebut dibuat dengan metode Ushul Fiqh yang komprehensif, akurat jika ditinjau dari semua sisi, tiada tanpa dasar yang kuat, tiada tanpa ilmu. Wallahu a'lam.

Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

Tags: