Sharianews | Wadiah dan Aplikasinya dalam Muamalah  
Kamis, 18 Oktober 2018 / 08 Ṣafar 1440

Wadiah dan Aplikasinya dalam Muamalah  

Jumat, 3 Agustus 2018 15:08
Wadiah dan Aplikasinya dalam Muamalah  
-

Akad wadiah bisa dibagi menjadi 2, yakni wadiah yad amanah dan wadiah yad dhamanah. Bagaimana aplikasinya dalam muamalah, berikut ini penjelasannya.

Akad wadiah bisa dibagi menjadi 2, yakni wadiah yad amanah dan wadiah yad dhamanah. Bagaimana aplikasinya dalam muamalah, berikut ini penjelasannya.

Sharianews.com, Jakarta. Muhammad bin Qasim al Ghazi dalam kitab Fath al Qarib al Mujib, Syarah Kitab at Taqrib mengatakan bahwa wadiah berasal dari kata wadii’ah berpola (wazan) fa’iilatun dan kata wad’a yang bermakna meninggalkan.

Wadiah adalah meninggalkan atau menitipkan sesuatu kepada orang lain (untuk menjaga sesuatu itu). Sifat wadiah adalah amanah di tangan wadi’ (penerima titipan).

Wadiah merupakan akad tabarru’at (tolong menolong atau saling membantu), sehingga masuk dalam kategori akad nonprofit.

Namun, akad ini bisa menjadi akad mu’awadhah (transaksi pertukaran) atau tijarah (transaksi motif profit) jika disepakati ada skema bisnis berupa jual beli manfaat barang (sewa fasilitas) dan/atau jual beli manfaat perbuatan (jasa) atas penitipan sesuatu tersebut.

Hukum menerima titipan adalah sunnah, apalagi jika penerima titipan itu memang memliki kemampuan untuk menjaganya. Ketika penerima titipan sudah menyatakan siap dititipi sesuatu, maka ia wajib menjaga titipan (amanah) itu.

Rukun wadiah yang harus dipenuhi adalah keberadaan penitip, penerima titipan, barang titipan, dan ijab qabul. Orang yang berakad harus memenuhi syarat sebagai orang yang berakad, apalagi jika akad ini terkait dengan hukum positif legal formal.

Barang titipan harus jelas, dapat dipegang, dan dapat dikuasai untuk dipelihara. Ijab qabulnya harus jelas, baik secara hukum (hukmi), hakikat (haqiqi) dan/atau sesuai kebiasaan (urf) yang berlaku.

Berbagai Kitab klasik seperti Fath al Qarib al Mujib, Bidayah al Mujtahid wa Nihayah al Muqtashid dan I’anah ath Thalibin menyiratkan bahwa wadiah adalah akad amanah, sehingga penerima titipan tidak wajib mengganti barang titipan kecuali jika terjadi kerusakan.

Ketika terjadi kerusakan yang disengaja, maka penerima titipan harus menanggung dengan mengganti barang titipan. Inilah yang disebut dengan dhaman atau dhamanah (menanggung sesuatu).

Ada dua jenis wadiah

Oleh karena itu, wadiah bisa dibagi menjadi 2, yakni wadiah yad amanah dan wadiah yad dhamanah.

Wadiah yad amanah adalah titipan yang berlaku kaidah asal titipan, yakni menjaga amanah. Pada skema ini, penerima titipan tidak mempergunakan barang titipan. Inilah skema wadiah yang asli, tidak terjadi pengubahan esensi akad.

Contoh penerapan wadiah yad amanah adalah pada produk Save Deposit Box (SDB). Pada skema ini, Nasabah menitipkan barang kepada Bank Syariah. Sejak awal transaksi disepakati adanya jual beli manfaat barang (sewa penyimpanan) dan/atau jual beli manfaat perbuatan (jasa penjagaan atau pemeliharaan) barang titipan tersebut, sehingga Bank Syariah boleh mengenakan fee kepada Nasabah.

Berikutnya adalah wadiah yad dhamanah. Wadiah yad dhamanah adalah titipan yang ditanggung oleh penerima titipan karena barang titipan tersebut dipergunakan dan/atau dihabiskan, sehingga pihak pengguna titipan harus mengganti titipan seperti semula.

Pada wadiah yad dhamanah ini terjadi tahawwul al aqd (perubahan akad) dari akad titipan menjadi akad pinjaman oleh karena titipan tersebut dipergunakan oleh penerima titipan.

Dengan demikian, pada skema wadiah yad dhamanah ini berlaku hukum pinjaman qardh (jika barang titipan dihabiskan) atau pinjaman ariyah (jika barang titipan tidak dihabiskan).

Penerima titipan boleh memberi kelebihan – bonus

Pada kedua jenis pinjaman ini berlaku kaidah bahwa pemberi pinjaman (penitip) tidak boleh mensyaratkan ada kelebihan dalam pengembalian, namun penerima titipan boleh memberikan kelebihan pengembalian berupa bonus kepada Nasabah, asalkan bonus tersebut tidak diperjanjikan sebelumnya.

Contoh penerapan wadiah yad dhamanah dalam esensi qardh adalah pada produk Tabungan Wadiah dan Giro Wadiah. Pada skema ini, Nasabah menitipkan dana kepada Bank Syariah (dalam bentuk rekening tabungan atau giro).

Dana titipan Nasabah dipergunakan oleh Bank Syariah (baik untuk transaksi bisnis maupun transaksi nonbisnis). Nasabah tidak boleh mensyaratkan adanya manfaat seperti minta syarat diberi hadiah, syarat ada kelebihan pengembalian dana titipan dan/atau manfaat lainnya, agar tidak terkena Riba.

Penerapan wadiah yad dhamanah dalam esensi ariyah bisa dilihat misalnya transaksi titipan kendaraan, tapi kendaraannya dipergunakan oleh penerima titipan. Kendaraan dipergunakan oleh penerima titipan, namun tidak dijual atau dihilangkan.

Penerima titipan wajib mengembalikan kendaraan tersebut sesuai kondisi semula. Pengembalian bukan berupa kendaraan lainnya. Jika kendaraan tersebut hilang, maka penerima titipan harus mengganti barang titipan tersebut.

Pemilik barang titipan tidak boleh mensyaratkan adanya manfaat atas transaksi ariyah ini, namun penerima titipan boleh memberikan sesuatu kepada pemilik barang (asalkan tidak terjadi konflik kepentingan).

Demikian sekilas tentang akad wadiah dalam muamalah kontemporer. Semoga manfaat dan barakah. Amin.

Oleh : Ahmad Ifham Sholihin

(Redaktur Ahli sharianews.com | Praktisi dan Pengamat Keuangan Syariah) 



KOMENTAR

Login untuk komentar