Kamis, 24 September 2020
07 Ṣafar 1442 H
Home / Keuangan / Votalitas Pasar Tinggi, OJK dan SRO Jaga Keberlangsungan Perdagangan Bursa Efek
FOTO I Dok. pexels
PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Klliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) akan terus memantau perkembangan pasar.

Sharianews.com, Jakarta ~ Virus corona (Covid-19) menjadi tantangan besar bagi seluruh industri di tanah air. Dampak wabah tersebut turut dirasakan oleh industri keuangan. Volatilitas pasar sangat tinggi akibat pandemi Covid-19.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) pasar modal di Indonesia, yakni PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Klliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) akan terus memantau perkembangan pasar dan secara proaktif meninjau serangkaian kebijakan yang berlaku untuk menjaga pasar modal Indonesia.

OJK dan SRO juga akan terus mengupayakan keberlangsungan aktivitas perdagangan bursa efek yang teratur, wajar dan efisien, serta layanan pasar modal kepada seluruh stakeholders.

“Untuk mencapai hal tersebut, OJK bersama SRO pasar modal telah melaksanakan Business Continuity Management (BCM) untuk menjamin kelangsungan operasional kegiatan di pasar modal dengan serangkaian aktivitas,” jelas Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo dalam keterangan tertulisnya, Senin (23/3).

Serangkaian ativitas tersebut antara lain:

Pembagian area kerja (split operation) ke beberapa lokasi kerja.

Pelaksanaan bekerja dari rumah (Work from Home/WfH) dengan tetap memperhatikan keberlangsungan layanan kepada stakeholders.

Membatasi kegiatan-kegiatan, seperti sosialisasi, rapat, dan kegiatan lain yang memerlukan interaksi dengan orang banyak dengan menggunakan fasilitas elektronik.

Memastikan lingkungan kerja yang sehat dan memastikan kesehatan karyawan.

Selain melaksanakan BCM, sejumlah stimulus juga telah diberikan oleh OJK dan SRO kepada stakeholders pasar modal untuk memberikan kepastian hukum dalam menghadapi situasi saat ini, di antaranya:

Pembelian kembali (buyback) saham oleh emiten atau perusahaan publik tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan jumlah maksimum saham hasil pembelian kembali (treasury stock) ditingkatkan dari 10 persen menjadi 20 persen dari modal disetor.

Perpanjangan batas waktu penyampaian Laporan Keuangan Tahunan Tahun 2019, Laporan Tahunan bagi emiten dan perusahaan publik, termasuk perusahaan tercatat, yaitu selama dua bulan dari batas waktu penyampaian.

Perpanjangan batas waktu penyampaian Laporan Keuangan Interim I Tahun 2020 bagi perusahaan tercatat selama dua bulan dari batas waktu penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan BEI. Sehubungan dengan perpanjangan batas waktu tersebut, maka bursa akan menyesuaikan pengenaan notasi khusus "L" pada kode perusahaan tercatat.

Perpanjangan batas waktu penyelenggaraan RUPS Tahunan oleh emiten dan perusahaan publik selama dua bulan.

Penyelenggaraan RUPS oleh perusahaan terbuka dapat dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas Electronic Proxy pada sistem E-RUPS

Perubahan batasan Auto Rejection Pada Peraturan Perdagangan di Bursa Efek.

Pelarangan Transaksi Short Selling bagi semua Anggota Bursa mulai tanggal 2 Maret 2020 hingga batas waktu yang ditetapkan OJK.

Pelaksanaan trading halt selama 30 menit dalam hal IHSG mengalami penurunan mencapai 5 persen.

Penyesuaian nilai haircut dan perhitungan risiko (risk charge) untuk stimulasi pasar. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo

Tags: