Rabu, 19 Februari 2020
25 Jumada al-akhirah 1441 H
Home / Lifestyle / Virus Corona dan Larangan Islam Mengonsumsi Binatang yang Menjijikkan
FOTO I Dok. reddit.com
Virus corona diduga berasal dari pasar seafood di Wuhan, China. Virus ini bersumber dari orang-orang di Wuhan yang gemar mengonsumsi sup kelelawar dan katak.

Sharianews.com, Belakangan ini, semakin viral berita tentang virus corona yang menghebohkan dunia. Masyarakat di berbagai negara kini dibuat cemas dengan ancaman virus corona. Virus ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan orang yang terserang penyakit ini meninggal dunia.

Virus corona diduga berasal dari pasar seafood di Wuhan, China. Virus ini telah menyebar dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok ke berbagai wilayah bahkan hingga ke lintas benua.

Baca juga: Pelayanan Kerohanian bagi Pasien Kritis agar Tenang

Berdasarkan berita yang beredar, virus ini bersumber dari binatang liar yang diperjualbelikan di sana. Sebagian orang berpendapat bahwa virus ini bersumber dari orang-orang di Wuhan yang gemar mengonsumsi sup kelelawar dan katak.

Seperti diketahui, Islam sendiri telah mengatur agar manusia tidak sembarangan dalam mengonsumsi jenis makanan. Syariat Islam telah mengatur makanan atau binatang yang halal dan haram untuk dikonsumsi.

Dalam menjelaskan halal-haramnya mengonsumsi hewan atau binatang, syariat ada kalanya menyebutkan nama hewan tersebut lalu memberi status hukum mengonsumsinya secara tegas. Misalnya, tentang halalnya ikan dan belalang dan haramnya daging babi. 

Beragam jenis bahan pangan yang berasal dari binatang seperti bangkai, darah, dan hewan-hewan menjijikkan sangat dilarang untuk dikonsumsi. Larangan ini untuk kebaikan manusia sendiri. Hal tersebut sesuai dengan firmanNya dalam Al-Qur’an berikut ini:

“Hai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik, dan janganlah kamu mengikuti langkah langkah syaitan. Sesungguhnya dia bagi kamu adalah musuh yang sangat nyata.” (QS:Al Baqarah [2]:168).

Dalam ayat lain juga telah dijelaskan tentang larangan membunuh katak dan kelelawar apalagi sampai manusia mengonsumsinya.

“Janganlah kalian membunuh katak. Sesungguhnya kicauannya adalah tasbih. Dan janganlah kalian membunuh kelelawar. Sebab, ketika Baitul Maqdis dibakar, kelelawar itu berdoa kepada Allah ‘Ya Tuhan kami, kuasakan kami atas lautan sehingga aku bisa menenggelamkan mereka’.” (As-Sunan Ash-Shaghir, juz 4, halaman 59).

Larangan ini juga berlaku untuk membunuh katak, termasuk mengonsumsinya seperti dalam hadis berikut ini:

“Bahwa ada seorang dokter bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang katak yang akan dijadikan sebagai obat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk membunuhnya.” (HR. Nasa’i dan Abu Dawud, Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al-Hakim, Adz Dzahabiy rahimahumallah, dan Syeikh Albaniy rahimahullah).

Dengan demikian, jelas sudah bahwa mengonsumsi binatang yang dilarang agama, tentu akan memberikan dampak buruk bagi umat manusia. Karenanya kita diimbau untuk selalu berhati-hati.

Wabah virus corona tentu menjadi peringatan bagi kita semua agar tidak sembarangan mengonsumsi binatang-binatang tertentu seperti kelelawar dan katak. Wabah virus corona yang tengah menghebohkan masyarakat dunia saat ini, bisa diduga dampak dari masyarakat di sana yang suka memperjualbelikan dan mengonsumsi daging binatang yang dilarang dalam Islam. (*)

Achi Hartoyo