Jumat, 6 Desember 2019
09 Rabi‘ at-akhir 1441 H
Home / Ekbis / Ustaz Fatih Karim: Sertifikat Halal Secara Teknis Masih Rumit
Ustaz Fatih Karim saat diwawancari media. foto/dok.romy
Ustaz menyarankan supaya negara Indonesia cukup memberikan label haram karena jumlahnya lebih sedikit.

Sharianews.com, Jakarta ~ Sertifikasi halal yang sudah berubah menjadi mandatory (kewajiban) dari yang sebelumnya voluntary (sukarela) masih menuai pro dan kontra.

Ada yang mencibir karena prosesnya belum siap dan ada juga yang mendukung. Namun disampaikan oleh Ustaz Fatih Karim, memang ada beberapa hal yang membuat sertifikasi halal rumit secara teknis.

"Misal, contohnya warung kecil ketika ngecek dari mana dagingnya, dipotong di mana, rumah potong hewannya harus halal itu rumit kenapa karena subsistem kita nggak kompatibel," ujarnya ketika berbincang dengan Sharianews, Kamis (28/11).

Ustaz menyarankan supaya negara Indonesia cukup memberikan label haram karena jumlahnya lebih sedikit.

"Apabila di Indonesia sistemnya sudah halal semua, negara yang mendukung sistem halal jadinya mudah, namun bukan logo halal, tapi logo haram. Kayak misal lagi belanja di supermarket, ini bahannya babi kan jelas, kalau sekarang kan logonya logo halal bukan logo haram. Berarti yang haram banyak gitu," sambung Ustaz Fatih.

Ia pun menganalogikan sertifikasi halal seperti teman-teman wartawan memainkan permainan Angry Bird, tetapi memainkannya di gawai keluaran tahun lama.

"Nah, hal itu sama, ketika punya keinginan halal tapi sistem kita masih belum kompetibel, jadi rumitlah dan itu jadi cibiran semua orang," tuturnya.

Sertifikasi halal menjadi wajib dikarenakan adanya Undang-Undang Jaminan Produk Halal (UU Nomor 33 Tahun 2014, serta Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2019, yang menjadi landasan hukum Jaminan Produk Halal (JPH). (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo