Minggu, 24 Maret 2019
18 Rajab 1440 H
x
FOTO I Dok. sharianews
Indonesia dianugerahi dengan lahan beragam, mulai dari persawahan, hutan hujan, tanah hijau, hingga gunung yang diselimuti salju. Dengan lebih dari 257 jiwa, Indonesia merupakan negara berpenduduk terbanyak ke-empat di dunia.

Sharianews.com,

Segala sesuatu adalah milik absolut ALLAH (QS Yunus: 55,56; QS Ibrahim:2)

Manusia sebagai khalifah dipercaya untuk mengelolanya (QS Al Baqarah:195; QS Ali Imran: 180).

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, jelas nilai-nilai ekonomi syariah dalam kegiatan ekonomi telah lama menjadi ruh bagi pengembangan sistem ekonomi sebagaimana nilai-nilai luhur bangsa yang berlandaskan Pancasila. Pengembangan Ekonomi syariah ke depan akan mampu berperan menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan nasional yang semakin kompleks. Selain itu juga memiliki kemaslahatan besar dan bersifat kaffah (multidimensional).

Sistem ekonomi syariah sudah mulai menjadi salah satu pilar pendukung dari sistem perekonomian saat ini.  Hal ini disebabkan nilai-nilai dan perinsip-prinsip dasar ekonomi dan keuangan syariah bukanlah merupakan suatu konsep yang eksklusif. PBB bahkan telah merumuskan nilai-nilai ini dalam Sustainable Development Goals (SDGs) yakni yang selaras dengan tujuan dunia internasional yakni menjaga kelestarian dan kesinambungan hidup masyarakat dunia secara menyeluruh.

Urgensi Program

Apabila kita lihat esensi dari ekonomi syariah adalah perilaku dan aktivitas manusia harus mampu mengendalikan harga agar tidak menumpuk dan terus mengalir menuju investasi secara optimal (kuantitas) dan produktif (kualitas) yang dilengkapi dengan mekanisme distribusi harta kepada masyarakat miskin. Juga ikut mendorong partisipasi masyarakat untuk berkontribusi bagi kepentingan publik, dalam rangka mengembangkan perkonomian yang transparan, adil, berbagi risiko, dan tidak membahayakan serta tidak mengandung zat yang haram.

Untuk itu dibutuhkan suatu strategi dan rencana aksi yang dapt mengarahkan seluruh sumber daya pendukung program pengembangan secara komprehensif, interaktif, berdasarkan nilai-nilai dan prisip-prinsip syariah.

Beberapa tantangan dan peluang dapat kita manfaatkan mengingat begitu banyak potensi yang dapat kita manfaatkan dalam pengembangan ekonomi syariah ini.

Potensi Pariwisata

Sebagai negara kepulauan terbesar dunia, Indonesia memiliki berbagai potensi, terutama sumber daya alamnya. Jumlah pulau-pulau yang terbentang berpasir putih berkisar 13.466 memiliki daya pikat yang luar biasa. Indonesia dianugerahi dengan lahan beragam, mulai dari persawahan, hutan hujan, tanah hijau, hingga gunung yang diselimuti salju. Dengan lebih dari 257 jiwa, Indonesia merupakan negara berpenduduk terbanyak ke-empat di dunia.

Dari segi budaya, Indonesia memiliki kekayaan beragam mulai dari candi kuno, musik mulai dari tradisional hingga pop, tarian, ritual, dan kearifan lokal yang unik dari satu pulau ke pulau lainnya, dan satu daerah ke daerah lainnya.

Data kementerian pariwisata menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mengalami peningkatan walaupun masih jauh tertinggal apabila dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia yang mencapai 25 juta dan 42 juta wisatawan pada periode tersebut.

                        Sumber BPS

Pariwisata sebagai mesin pemerataan memerlukan dukungan dan sinergi dari berbagai pihak. Berbagai upaya dilakukan guna mengembangkan pariwisata antara lain: Mengembangkan wisata di daerah perbatasan (cross border tourism) yang berbasis halal guna menjaga kearifan lokal: wisata desa dikuasai oleh investor besar, tetapi rezeki pariwisata harus dinikmati oleh masyarakat lokal agar pemerataan kemakmuran dan multiplier effect dapat terwujud.

Potensi wisata di daerah perbatasan menjadi destinasi wisata di Indonesia.  Sebanyak 92 pulau terluar yang berbatasan dengan negara tetangga menjadi daya tarik potensi alam, budaya lokal yang akan menjadi magnet bagi para wisatawan asing maupun domestik untuk melancong ke desa2 setempat.

Pulau yang menjadi wilayah perbatasan langsung dengan 10 negara tetangga yaitu Australia, Malaysia, Singapura, India, Thailand, Vietnam, Filipina, Palau,  Papua Neugini, dan Timur Leste berada di wilayah perairan yang dapat didorong menjadi tempat wisata untuk mendongkraklaju perekonomian pedesaan. 

Wisata Halal

States of Global Islamic Economy (SGIE) 2017-2018 menyampaikan bahwa Muslim menghabiskan 177 dolar AS miliar untuk perjalanan 2017 dan jumlahnya diproyeksikan mencapai 274 dolar AS miliar pada 2023. Wisata halal berkembang melalui penawaran libuar bernuansa religi dan budaya, sejalan dengan berkembangnya teknologi sehingga memudahkan pencarian tempat-tempat wisata melalui situs aplikasi travel. 

Pariwisata halal buka hanya soal ibadah (haji dan umrah), tetapi juga dapat meningkatkan berbagai aspek seperti spiritual, menambah rasa syukur dan pengetahuan dari tempat yang dikunjungi.

Besarnya populasi muslim global saat ini yang angkanya sudah melebihi seperempat populasi dunia dan akan terus tumbuh dan didominasi usia produktif. Menurut States of Global Islamic Economy 2016 konsumsi muslim saat ini telah mencapai hampir 2 triliun dolar AS. Bahkan Produk Domestik Bruto untuk penduduk di wilayah Asean saat ini sudah mencapai 6,8 triliun dolar AS dengan jumlah penduduk muslim hampir mencapai 250 juta jiwa.

Wisata syariah Indonesia memang masih baru beberapa tahun berjalan tetapi beberapa penghargaan telah mampu kita raih. Halal Travel Summit merupakan ajang perhargaan berbagai katagori destinasi Halal. Pada tahun 2015 yang lalu menetapkan Lombok, sebagai World Best Halal Tourisim Destination dan World Halal Honeymoon Destination, dan World Best Family Friendly Hotel, Jakarta (Sofyan Hotel Betawi).

Potensi Industri Halal

Industri pariwisata tidak bisa berjalan sendiri tanpa didukung oleh sektor yang lain.  Peluang bisnis halal tentunya sangat besar apabila melihat skala ekonomi yang dihabiskan oleh belanja muslim seperti belanja, gaya hidup, meliputi kosmetik, fashion makanan, leisure/wisata. Sejalan dengan hal tersebut juga mengingat posisi Indonesia sebagai pasar besar produk halal diharapkan Indonesia tidak hanya sebagai player tetapi juga sebagai pemain dalam industri ini.

Pertanyaannya, apakah kita mampu sebagaimana Thailand menjadi “kitchen of the world” makanan halal, Australia pemasok daging sapi halal dunia, Brazil exprotir daging ayam halal di Timur Tengah, China pengekspor baju muslim terbesar ke Timur Tengah, Korea Selatan sebagai destinasi utama wisata halal dunia, Arab Saudi jantung Islam dunia, maka Indonesia tentu juga bisa paling tidak pemasok makanan halal untuk kebutuhan dalam negeri? 

Potensi Sektor Keuangan

Indonesia juga memiliki potensi yang besar dari sektor keuangan sosial syariah yaitu zakat, infaq, sadaqah dan wakaf atau Ziswaf. Potensi ini dapat dioptimalkan sebagai mesin penggerak baru bagi pembangunan bangsa. Pengelolaan Ziswaf diyakini akan dapat berperan aktif dalam mewujudkan distribusi pendapatan dan distribusi kesempatan, serta pemberdayaan masyarakat secara inklusif. 

Namun hal ini membutuhkan sinergi dan komitmen dari seluruh pihak guna mendukung partisipasi aktif sosial masyarakat. Investasi Ziswaf akan mampu mendukung berbagai program investasi nasional yang terkait dengan kepentingan publik, seperti pembangunan infrastruktur, rumah sakit, maupun fasilitas publik lainnya. 

Adapun pelaku Ziswaf, begitu banyaknya pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang apabila dioptimalkan perannya yakni sebagai pelaku, pendidik dan penggiat ekonomi syariah yang handal. Potensi sumber daya insani yang besar ini diharapkan juga memiliki kemampuan distribusi yang luas dengan melibatkan perekonomian masyarakat di sekitarnya hingga ke unit ekonomi terkecil.

Nah, terbukti bahwa tantangan dan peluang ini harus benar-benar kita manfaatkan.  Apakah kita bisa menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia seperti Dubai yang menjadi ibukota ekonomi syariah dunia dan London-Inggris menjadi pusat keuangan syariah di Barat? (*)

 

oleh: Irma Zainal (Analis BI)