Senin, 16 September 2019
17 Muḥarram 1441 H
Home / Sharia insight / Urgensi Labelisasi Kantin Halal
FOTO I Dok. sharianews
Berbagai macam konsep kantin halal telah diterapkan. Sebagai contoh pada Kantin Halalan Tayiban Universitas Brawijaya. Selain menyediakan makanan halal yang sudah tersertifikasi halal dari MUI, Kantin Halalan Tayiban juga memiliki musala yang dapat menunjang ibadah salat bagi seorang Muslim.

Sharianews.com, Seorang Muslim diwajibkan untuk mengonsumsi makanan halal. Makanan yang dikonsumsi bukan hanya halal, tetapi juga harus baik (tayib) Hal ini sesuai dengan Alquran surat Al-Maidah ayat 8.

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya. Mengonsumsi makanan halal dapat memberikan banyak manfaat bagi manusia. Selain untuk pemenuhan kebutuhan jasmani, makanan halal juga dapat mempengaruhi amal dan perilaku manusia menjadi lebih baik.

Oleh karena itu sangat penting bagi Muslim untuk mengonsumsi makanan halal dan tayib. Makanan halal dapat didefinisikan sebagai makanan yang secara syariat diperbolehkan untuk dikonsumsi Muslim.

Mengonsumsi makanan halal berarti Muslim dilarang untuk mengonsumsi makanan haram yang dijelaskan dalam Alquran, seperti bangkai, darah, daging babi dan hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah.

Selain itu, makanan halal juga dapat dikategorikan berdasarkan zatnya, cara memperolehnya, cara memproses dan penyajian serta penyimpanannya. Oleh karena itu seorang Muslim harus lebih berhati-hati dalam memilih makanannya. Mengonsumsi daging sapi memang diperbolehkan, tetapi harus diperhatikan kembali mulai dari proses penyembelihan, pengolahan sampai dengan penyajiannya.

Jangan sampai mengonsumsi daging sapi tetapi yang dimasak dengan menggunakan alkohol atau minyak babi, karena segala sesuatu yang berasal dari babi merupakan zat yang haram. Adanya kewajiban seorang Muslim untuk mengonsumsi makanan halal dan tayib menjadikan fasilitas makanan seperti kantin halal sangat diperlukan.

Hal ini juga didukung dengan mayoritas jumlah penduduk Muslim di Indonesia. Keberadaan kantin halal, baik itu kantin kantor, sekolah maupun kantin kampus diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memilih dan mengonsumsi makanan halal tanpa adanya keraguan. Pengelola kantin halal harus memperhatikan makanan yang dijual.

Dalam beberapa kasus, biasanya kantin yang terdiri dari beberapa penjual atau tenant, sehingga dalam hal ini, pengelola kantin harus memperhatikan tenant yang akan mengisi kantin. Konsep kantin halal sebenarnya telah diterapkan di beberapa tempat di Indonesia, seperti Kantin Salman Institut Teknologi Bandung (ITB), Kantin Halalan Tayiban Universitas Brawijaya, dan Goedang Popsa di Makassar.

Berbagai macam konsep kantin halal telah diterapkan. Sebagai contoh pada Kantin Halalan Tayiban Universitas Brawijaya. Selain menyediakan makanan halal yang sudah tersertifikasi halal dari MUI, Kantin Halalan Tayiban juga memiliki musala yang dapat menunjang ibadah salat bagi seorang Muslim.

Peluang Permintaan Kantin Halal Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Jumlahnya pun merupakan yang terbesar di seluruh duania. Hal ini yang membuat potensi permintaan masyarakat akan kantin halal sangat besar. Makanan halal juga bersifat universal sehingga pelanggannya kemungkinan bukan hanya Muslim, tetapi juga nonmuslim.

Permintaan akan kantin halal sangat kuat kaitannya dengan permintaan akan makanan halal. Kantin halal merupakan salah satu fasilitas masyarakat dalam memperoleh makanan halal.

Secara umum, permintaan akan makanan halal dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah tingkat religiusitas dan pengetahuan masyarakat akan makanan halal. Tingkat religiusitas masyarakat biasanya berbanding lurus terhadap permintaan masyarakat dalam mengonsumsi makanan  halal.

Indikator religiusitas dapat dilihat dari rutinnya seseorang dalam menjalankan ibadahnya, baik ibadah mahdah maupun ghairu mahdah. Selain dari sisi religiusitas, pengetahuan masyarakat akan makanan halal juga mempengaruhi permintaan masyarakat untuk mengonsumsi makanan halal.

Beberapa masyarakat, terutama Muslim ada yang tidak mengetahui dan menyadari terkait makanan halal. Beberapa masih berpendapat bahwa makanan halal adalah hanya makanan yang tidak mengandung babi.

Akan tetapi, dengan adanya sosialisasi terkait makanan halal, diharapkan semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya produk halal. Tingginya religiusitas dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya mengonsumsi makanan halal dapat menyebabkan potensi permintaan masyarakat akan kantin halal semakin tinggi.

Potensi pengembangan kantin halal seperti yang telah disebutkan bahwa beberapa kantin yang ada di Indonesia sudah mulai menerapkan konsep kantin halal. Akan tetapi dari sisi jumlah, masih sangat sedikit. Beberapa kantin sekolah mulai mengusung konsep kantin sehat, yang diharapkan ke depannya akan melakukan sertifikasi, termasuk sertifikasi halal.

Ada beberapa hal yang dapat mendorong pengelola kantin untuk mengadopsi konsep kantin halal. Pertama, adanya permintaan masyarakat akan kantin halal. Tingginya tingkat kesadaran masyarakat terkait konsumsi makanan halal serta besarnya jumlah penduduk Muslim di Indonesia dapat menyebabkan permintaan terhadap makanan halal semakin tinggi.

Adanya permintaan masyarakat ini dapat mendorong pelaku pasar membuka usaha kantin halal. Adanya gerakan halal lifestyle diharapkan juga dapat memunculkan minat pengusaha makanan untuk melakukan sertifikasi halal. Selain itu, hadirnya beberapa kantin halal diharapkan dapat menarik pengelola kantin makanan untuk membuka usaha yang sama.

Oleh karena itu, perlu dibuat semacam pilot project di suatu kota atau kampus untuk memiliki minimal satu kantin halal. Dalam satu kampus biasanya terdiri dari beberapa kantin kampus. Adanya minimal satu kantin yang memiliki konsep kantin halal diharapkan dapat mendorong motivasi pengelola kantin lain untuk mengadopsi konsep yang sama.

Dorongan pemerintah juga dapat membuat pengusaha makanan untuk membuka kantin halal. Beberapa daerah di Indonesia telah mencanangkan wisata halal atau kota halal. Adanya konsep kota halal atau wisata halal secara tidak langsung harus didukung dengan adanya penyediaan fasilitas pendukung seperti kantin halal.

Hal ini akan membuat pengelola kantin terdorong untuk mengadopsi kantin halal. Adanya wisatawan asing terutama yang berasal dari Timur Tengah merupakan potensi pasar yang besar sehingga keberadaan kantin halal ini diharapkan dapat menarik minat wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia. (*)

Oleh: Tita Nursyamsiah