Sabtu, 11 Juli 2020
21 Thu al-Qa‘dah 1441 H
Home / Sharia insight / Upaya Persiapan Karakter SDM Menghadapi Bonus Demografi
FOTO I Dok. Sharianews
Islam sangat mementingkan pemeliharaan terhadap lima komponen, yaitu agama, akal, jiwa, keturunan dan harta.

Sharianews.com, Al-maslahah (kebaikan) sebagai tujuan dasar diturunkannya syariat/ajaran Islam. Teori Islam dengan konsep maqasid al-syariah (tujuan diturunkannya syariat Islam) sangat mementingkan pemeliharaan terhadap lima komponen, yaitu agama, akal, jiwa, keturunan dan harta.

Agama misalnya, merupakan keharusan bagi manusia. Dengan nilai kemanusiaan yang dibawa oleh ajaran agama, manusia menjadi lebih tinggi derajatnya dari derajat hewan. Sebab beragama adalah salah satu ciri khas manusia (Muhammad Abu Zahrah).

Menurut Al-Qardhawi sesuai dengan pendapat al-Shatibi bahwa, kemaslahatan agama dan dunia ditegakan dengan memelihara kelima komponen di atas, dan kehidupan manusia dapat terwujud melalui kelima komponen tersebut (al-Qardhawi). Apabila kelima komponen tersebut rusak, hal-hal penting yang berkaitan dengan manusia dan tugasnya sebagai hamba Allah tidak akan terlaksana.

Demikian juga dengan urusan-urusan akhirat, akan terwujud jika kelima komponen tersebut terpenuhi. Sebagai contoh, apabila akal tidak berfungsi, keberagamaan tidak akan berlangsung karena akal-lah yang akan menerima tugas-tugas agama. Seandainya jiwa tidak ada, tidak ada manusia yang memeluk agama. Seandainya keturunan tidak ada, kehidupan akan punah, dan seandainya harta tidak ada, kehidupan tidak dapat berlangsung.   

Sa’id Hawa berpendapat tentang pemeliharaan terhadap akal, bahwa hanya dengan tegaknya Islam, manusia dapat memelihara akalnya. Eksperimen apa pun yang dilakukan suatu pemerintahan di dunia ini, tetap membuktikan bahwa kebaikan akal hanya dapat dijamin dengan dipraktikannya hukum Islam. Sedangkan dalam masalah pemeliharaan jiwa ia berkata: ‘Hak hidup adalah hak suci manusia, kecuali dalam beberapa keadaan tertentu dan tidak mudah membunuh manusia yang dimuliakan Allah’, sebagaimana dalam QS. Al-Isra: 70,

“Sesungguhnya telah Kami muliakan Bani Adam…..”

Tetapi situasi dunia akan menunjukkan kebalikannya jika Islam mundur dari percaturan dunia. Orang-orang akan begitu mudah membunuh sesama manusia, semudah meminum air, dengan alasan atau tanpa alasan. Demikian dengan pemeliharaan harta, bahwa harta adalah pasangan nyawa. Karena itu menjaga dan memeliharanya, merupakan sesuatu yang fundamental dan merupakan kebutuhan asasi bagi manusia. Tetapi jika tidak ada Islam maka musnahlah harapan terpeliharanya harta benda. Demikian dengan keturunan, maka akan terjaga jika Islam ditegakkan di muka bumi ini. Sa’id Hawa lebih menekankan agar manusia menegakan ajaran Islam untuk terjaganya lima komponen yang disebutkan sebagai kemaslahatan yang bersifat primer.  

Terkait dengan implementasi maqasid syariah untuk mengadapi bonus demografi yang akan dihadapi oleh bangsa Indonesia, salah satu jawabannya yaitu adanya pemeliharaan terhadap semua komponen di atas, yaitu pemeliharaan terhadap agama, akal, jiwa, keturunan dan harta. Karenanya tidak mungkin tanpa adanya pemeliharaan terhadap lima komponen tersebut dapat berjalan dengan mulus. Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim, tentu bonus demografi yang terbanyak pun adalah umat Islam. Oleh karenanya penerapan terhadap maqasid syariah adalah sebuah keniscayaan dan jawaban yang tepat dalam menghadapi bonus demografi.

Menurut Badan Pusat Statistik memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 269,6 juta jiwa pada 2020. Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) memprediksi bahwa pada tahun 2030-2040, Indonesia akan mengalami masa bonus demografi, dimana jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Pada saat itu, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sekitar 297 juta jiwa.

Bonus demografi bisa menjadi keuntungan atau tantangan, tergantung pada seberapa bagus kualitas sumber daya manusia Indonesia pada usia produktif. Peluang bahwa bonus demografi bisa menjadi manfaat bagi Indonesia dapat diwujudkan apabila peningkatan kualitas bangsa diberikan perhatian dalam pembangunan berkelanjutan. Kualitas yang dimaksud tidak hanya meliputi kemampuan anak bangsa dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga karakter yang mampu membangun dan memberdayakan ekonomi bangsa.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dapat dilakukan dengan pola pendidikan yang dimulai pada masa usia dini. Salah satunya dengan pendidikan karakter yang dibiasakan dan diajarkan saat anak belum memasuki usia sekolah dasar (SD). Karakter berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.

Karakter dikenal juga sebagai moral. Adanya karakter menjadikan seseorang mempunyai filter dalam bertindak. Hal ini sangat relevan dengan berbagai masalah di negeri ini yang terkait dengan krisis moral, seperti korupsi, pergaulan bebas, kekerasan, pelecehan, dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Karakter menjadi senjata dalam memerangi berbagai kasus seperti di atas. Maka dari itu, pendidikan karakter menjadi salah satu persiapan menuju bonus demografi. Semakin baik karakter anak bangsa disiapkan, semakin besar pula kesempatan Indonesia untuk dapat memanfaatkan bonus demografi dengan baik.

Pendidikan karakter semakin mudah dilakukan ketika anak berusia dini. UNESCO mendefinisikan anak usia dini sebagai anak usia 0-8 tahun, di mana pada masa ini, anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan orang di sekitar mereka. Pada usia ini, perkembangan mental berlangsung dengan cepat, sehingga lingkungan yang positif akan membentuk kepribadian yang positif pula.

Usia kanak-kanak ini, sering kali disebut sebagai masa emas (Golden Age) oleh para ahli psikologi, karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50 persen variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun.

Peningkatan 30 persen berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20 persen sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak. Terkait dengan hal ini, maka pengembangan karakter di fase ini harus dimaksimalkan. Orangtua maupun keluarga perlu memastikan dengan tepat bahwa anak dikelilingi oleh lingkungan dan orang-orang yang membiasakan mereka pada perilaku baik.

Thomas Lickona menyatakan bahwa pendidikan karakter terdiri dari tiga poin utama, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good). Jadi, pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan pada anak untuk membedakan mana yang benar dan salah, tetapi lebih dari itu, membiasakan pada anak hal-hal baik sehingga anak dapat memahami, mencintai, dan melakukan hal baik.

Anak usia dini adalah harapan bagi bangsa, dengan karakter sebagai salah satu indikator kualitas bangsa. Anak-anak yang memiliki karakter yang kuat, akan berpikir positif dan mampu mengubah hal-hal yang buruk menjadi lebih baik dalam kehidupan di masa yang akan datang. Karena itulah, pendidikan karakter dengan sasaran anak usia dini menjadi salah satu upaya sekaligus harapan bagi Indonesia dalam menghadapi bonus demografi.

Karakter dalam ajaran Islam merupakan bagian dari akhlak, akhlak merupakan tolok ukur kekuatan akidah dan iman seorang Muslim, akhlak juga sebagai buah dari akidah dan ia juga merupakan penentu diterima atau ditolaknya ibadah seorang Muslim. Seseorang yang berakhlak tentu akan melakukan perbuatan yang baik dan benar, bermanfaat untuk dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Oleh karenanya Islam sangat mengutamakan akhlak yang mulia dalam kehidupan seseorang, dengannya ia akan menjadi manusia yang berkarakter dan utuh. Inilah yang menjadi missi diutusnya Rasulullah SAW ke muka bumi ini, yaitu untuk menyempurnakan akhlak manusia sesuai dengan sabdanya: “Sesungguhnya aku diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Malik). (*)

 

Staf Pengajar pada Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, FEM, IPB

Editor: Achi Hartoyo

 

Oleh: Neneng Hasanah