Selasa, 25 Januari 2022
22 Jumada al-akhirah 1443 H
Home / Haji umrah / Umrah Dibuka, Vaksin Mutlak Diterapkan Saudi
Foto dok. Kemenag
Vaksin yang diterima hanya yang disetujui Pemerintah Saudi, seperti Pfizer, Moderna, dan AstraZeneca

Sharianews.com, Saudi - Arab Saudi membuka kembali ibadah umrah. Aturan vaksinasi bagi jemaah umrah, serta yang ingin beribadah di Masjidil Haram mutlak diterapkan.

Sebelum melaksanakan umrah, calon jemaah umrah harus mengajukan permintaan lewat aplikasi Eatmarna dan Tawakkalna.

Calon jemaah umrah yang boleh mengajukan permintaan adalah yang sudah mendapatkan vaksin lengkap. Warga yang hanya mendapat satu dosis juga boleh mengajukan, syaratnya sudah 14 hari sejak divaksin.

Mengutip dari laporan Saudi Gazette, Rabu (18/05), vaksin yang diterima hanya yang disetujui Pemerintah Saudi, seperti Pfizer, Moderna, dan AstraZeneca.

Warga yang sudah sembuh dari Covid-19 juga boleh mengajukan. Aturan itu sudah ada sejak April lalu, syaratnya adalah sembuh dalam enam bulan terakhir.

Saat ini, calon jemaah bisa mengajukan keinginan umrah sebulan sekali. Namun, otoritas terkait mempertimbangkan agar pengajuan bisa dilakukan setiap 15 hari

Izin beribadah umrah setelah Ramadan ini masih diberikan secara terbatas dan melalui prosedur perizinan yang ketat. Izin umrah dibuka bagi warga negara Saudi dan ekspatriat yang saat ini tinggal di Saudi.

Sebelumnya, penegasan vaksin ini sudah disampaikan Konsul Haji KJRI Jeddah Endang Jumali (06/04). Ia mengatakan calon jemaah umrah yang akan mendaftar diwajibkan sudah divaksin. Selama di Arab Saudi, mereka juga diharuskan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Untuk pembatasan usia jemaah umrah, masih diberlakukan 18 - 60 tahun, kecuali bagi warga Saudi menjadi sebelum 70 tahun,” ujarnya.

Meski saat ini, umrah baru dibuka untuk warga negara Saudi dan ekspatriat di sana, tapi perthatian terhadap vaskin tidak terelakkan.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menegaskan bahwa vaksin menjadi salah satu syarat yang ditetapkan oleh Arab Saudi bagi jemaah yang akan beribadah umrah. "Vaksinnya itu harus sudah certified atau disertifikasi oleh WHO (Organisasi Kesehatan Dunia)," sambungnya (08/04).

Perihal Vaksin Sinovac belum tersertifikasi, Yaqut menilai bahwa belum sertifikasi, itu bukan berarti tidak tersertifikasi. Menurut Menag, bisa jadi ada proses yang sedang dilakukan agar Sinovac bisa teregistrasi oleh WHO.

Rep. Aldiansyah Nurrahman

Tags: