Selasa, 23 April 2019
18 Sha‘ban 1440 H
FOTO | Dok. www.khaleejtimes.com
Uni Emirat Arab (UEA) berada di peringkat pertama secara global di lima sektor ekonomi Islam, meliputi makanan halal, perjalanan halal, busana muslim, media halal dan rekreasi, serta obat-obatan dan kosmetik halal.

Sharianews.com, Jakarta. UEA menempati peringkat teratas secara global di lima sektor ekonomi Islam. Menurut laporan The State of the Global Islamic Economy Report 2018-19, aset keuangan Islam diperkiarakan akan meningkat menjadi USD3,8 triliun. Sementara total belanja di sektor makanan dan minuman masyarakat muslim global diperkiarakan akan mencapai USD1,9 triliun pada tahun 2023.

Dalam lima dari enam sektor ekonomi Islam, Uni Emirat Arab (UEA) menempati peringkat nomor satu secara global, sementara Malaysia sekali lagi berada di puncak Indikator Ekonomi Islam Global, berdasarkan laporan tersebut.

Ada pun kelima sector yang didominasi oleh UEA meliputi makanan halal, perjalanan halal, busana muslim, media halal dan rekreasi, serta obat-obatan dan kosmetik halal. Tahun lalu, UEA menduduki posisi teratas dalam tiga sektor saja. Demikian menurut laporan berjudul 'An Inclusive Ethical Economy' yang diterbitkan oleh Dubai Islamic Economy Development Centre (DIEDC), sebagaimana dikutip dari lama berita www.khalessjtimes.com Senin, (29/10/2018).

Sultan bin Saeed Al Mansouri, Menteri Perekonomian dan Ketua DIEDC, menunjukkan bahwa UAE telah meningkatkan skor Indikator Ekonomi Islam Global tahun ini dan mencapai posisi teratas dalam dua sektor tambahan.

"Kenaikan di peringkat negara tersebut menjadi saksi komitmen-komitmen DIEDC dalam mengimplementasikan inisiatif pemerintah. Juga merupakan kontribusi signifikan mereka terhadap perkembangan ekonomi Islam di Dubai, serta keberhasilan gerakan pembangunan berkelanjutan UEA sebagai bagian dari reposisinya setelah visi ekonomi berbasis minyak, "kata Al Mansouri.

Terjadi lonjakan permintaan produk syariah

Abdulla Mohammed Al Awar, Chief Executive Officer (CEO) DIEDC, mengatakan laporan tahunan melaporkan fakta-fakta baru dan statistik yang memberikan wawasan dan perspektif baru untuk lebih memahami dan lebih akurat mengantisipasi perilaku konsumen di kalangan muslim di pasar-pasar utama.

"Tahun ini, kami telah menyaksikan lonjakan permintaan untuk produk yang tidak hanya sesuai dengan pembiayaan syariah dan standar keberlanjutan lingkungan yang ketat, kesehatan dan keselamatan, tetapi juga diproduksi menggunakan bahan bersertifikat halal. Konsistensi yang merupakan bagian integral dari rantai pasokan menjelaskan meningkatnya daya tarik dan penyerapan produk ekonomi Islam di antara populasi global, "kata Al Awar.

Lebih lanjut, Al Anwar menegaskan kembali tekad DIEDC dalam meningkatkan skor Indikator Ekonomi Islam Global UEA melalui upaya bersama dengan mitra strategis untuk meningkatkan keuangan Islam dan sektor perbankan Islam - satu-satunya sektor di mana negara ini berada di urutan kedua.

Temuan-temuan laporan The State of The Global Islamic Economy Report 2018/19, yang diprakarsai oleh Thomson Reuters bekerjasama dengan DinarStandard dan Dubai International Financial Center (DIFC) bertajuk, ‘An Inclusive Ethical Economy’ dirilis dalam seminar yang diadakan di DIFC Conference Center, pada hari kedua Pekan Ekonomi Islam, Minggu ( 28/10/2018)

Dalam laporan tersebut diperkirakan bahwa umat Islam menghabiskan USD 2,1 triliun di sektor makanan, minuman, dan gaya hidup di tahun 2017, dan diperkirakan pengeluaran akan mencapai USD 3 triliun pada tahun 2023.

Sementara secara berturut-turut di kategori makanan dan minuman masyarakat muslim global akan membelanjakan USD 1,3 triliun, diikuti oleh mode di USD 270 miliar, media dan rekreasi senilai USD 209 miliar, wisata senilai USD 177 miliar, obat-obatan senilai USD 87 miliar, dan kosmetik senilai USD 61 miliar.

Ekonomi Islam adaptif terhadap teknologi investasi

Menurut laporan tersebut, ekonomi Islam juga membuktikan kemampuannya dapat mengikuti perkembangan terbaru di bidang teknologi dan investasi. Perusahaan bisa mengadopsi teknologi blockchain dalam pembayaran dan dapat digunakan untuk memastikan kepatuhannya terhadap konsep halal, dan melacak makanan, kosmetik dan produk farmasi dari fasilitas manufaktur ke pengecer. Sementara itu, kecerdasan buatan (AI), virtual reality (VR) dan internet of things (IoT) saat ini menarik lebih banyak investasi daripada sebelumnya.

Khamis Bu Haroon, Penjabat CEO dan Wakil Ketua ADIB, mengatakan perdagangan dan logistik, keuangan dan pariwisata adalah pilar utama ekonomi Islam dan UEA telah banyak berinvestasi dalam memposisikan diri sebagai pusat ekonomi halal kelas dunia untuk sektor-sektor ini.

"Inisiatif UEA untuk menciptakan ekonomi terbuka dan lingkungan bisnis yang berkembang menjadikannya pusat alamiah industri manufaktur, jasa, perdagangan, dan investasi Islam,"kata Khamis.

Sementara, Anita Yadav, Direktur Senior - Kepala Penelitian FI di Emirates NBD, mengatakan pemerintah Dubai bertujuan menjadikan dubai sebagai Ibu Kota Keuangan Islam Dunia.

"Pemerintah sedang melakukan beberapa langkah untuk mendorong penerapan standar kepatuhan syariah di perbankan, dalam pengolahan makanan, di bidang pariwisata, dan lain-lain. Sektor ini juga menelan dana investasi besar guna mendirikan perusahaan fintech di sektor keuangan Islam serta meluncurkan aturan yang jelas untuk daftar Produk Islam di bursa saham lokal,"katanya.

Atik Munshi, Mitra Senior di Crowe, mengatakan UAE dan Dubai adalah salah satu pemain kunci dalam ekonomi Islam. Secara umum, ekonomi Islam lebih dikenal untuk produk 'keuangan Islam' dan 'makanan halal', meskipun sebenarnya ekonomi Islam jauh lebih luas dan mencakup produk dan layanan seperti busana Islami, kosmetik Islami, perjalanan keislaman, obat-obatan Islam, dan banyak lainnya.

"Ukuran ekonomi tersebut sangat besar - lebih dari USD 2 triliun dan diperkirakan akan mencapai USD 3 triliun dalam beberapa tahun. Sektor ini berkembang pesat karena peningkatan populasi serta meningkatnya permintaan, kesadaran, dan ketersediaan produk-produk Islam seperti itu di seluruh dunia. Produk keuangan Islam dianggap lebih stabil dan karenanya bahkan non-muslim pun mulai berinvestasi dalam hal yang sama, "kata Munshi. (*).

Ahmad Kholil