Senin, 16 September 2019
17 Muḥarram 1441 H
Home / Artikel / Tukang Becak dan Faqih fid Din

Tukang Becak dan Faqih fid Din

Minggu, 30 Desember 2018 03:12
FOTO | Dok. rendra-fr.blogspot.com
"Siapapun yang Allah inginkan atasnya kebaikan, (maka Allah) memberikan kefaqihan kepadanya dalam (urusan) agama (din)." (Hadits)

Sharianews.com.  Rasulullah SAW memberi kita rumus: من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين Artinya, "siapapun yang Allah inginkan atasnya kebaikan, (maka Allah) memberikan kefaqihan kepadanya dalam (urusan) agama (din)". Ini rumus dari Rasulullah SAW. Tidak mungkin Anda tidak siap meyakini rumus tersebut.

Yang suka ngaji kitab klasik di kampung-kampung, pasti sangat familiar dengan Hadits tersebut. Biasanya ditayangkan di bagian pojok kiri atas Muqaddimah (bagian awal) dari kitab-kitab klasik. Seakan memberi peringatan kepada kita bahwa siapapun dari kita, siapapun diri kita, sangat mungkin diberi predikat Faqih fid Din oleh Allah, tanpa pandang profesi, jenis kelamin, suku, bangsa dan latar belakang apapun.

Jangan sepelekan Kyai Haji, karena bisa jadi Allah memberi karunia kefaqihan di bidang agama kepada beliau. Jangan sepelekan Presiden, karena bisa jadi Allah memberi karunia kefaqihan di bidang agama kepada beliau. Jangan sepelekan Ustadz Doktor Lc MA, karena bisa jadi Allah memberi karunia kefaqihan di bidang agama kepada beliau. Jangan sepelekan Tukang Becak, karena bisa jadi Allah memberi karunia kefaqihan di bidang agama kepada beliau.

Intinya, di mata Allah, semua orang bisa berpotensi mendapatkan predikat faqih fid din meski ia tak pernah belajar di Arab atau di Mesir dan sebagainya. Rasulullah SAW yang bikin rumus dengan awalan kata "man", yang artinya siapapun.

Ada salah satu Ifham Quotes yang seakan-akan saya sedang menghina atau merendahkan seseorang, padahal tidak, yakni "Perkataan Tukang Becak yang tidak menyelisihi Fatwa Ulama Dewan, lebih layak didengar dari pada Perkataan Ustadz Doktor Lc MA yang senang menyelisihi Fatwa Ulama Dewan." Padahal pernyataan tersebut sangat objektif.

Pertama, Rasulullah SAW telah bikin rumus bahwa derajat Faqih fid Din bisa dimiliki siapapun, tidak pandang profesi atau kesarjanaan. Berarti, urusan Faqih fid Din, jangan pernah sepelekan Tukang Becak, jangan pernah sepelekan siapapun.

Kedua, Allah memaksa manusia yang punya iman agar taat kepada Ulil Amri. Allah berfirman dalam Alquran Surat An Nisa ayat 59:

يايها الذين امنوا اطيعوا الله واطيعوا الرسول واولى الامر منكم فان تنازعتم في شيء فردوه الى الله والرسول

Artinya, "Wahai orang yang punya iman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasulullah dan kepada Ulil Amri di antara kalian. Dan ketika kalian berselisih pendapat atas sesuatu, maka kembalilah kepada Allah dan Rasulullah."

Ibnu Abbas menafsirkan Ulil Amri ada dua, yakni Ulama dan Umara. Untuk urusan ukhrowi, Ulil Amri-nya adalah Ulama. Untuk urusan duniawi, Ulil Amri-nya adalah Umara.

Zaman now, tak ada lagi Imam Mujtahid kaliber Imam Syafi'i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Malik dan lain-lain. Oleh karena itu, sangat mudah dilogika bahwa Ulama zaman now adalah Ulama Dewan, kumpulan para ahli di berbagai bidang, sehingga lebih representatif dalam mengeluarkan Fatwa, dibandingkan dengan Ulama Dewean (sendirian) dan dibandingkan dengan Akal Dewean (sendirian). Di Indonesia Ulama Dewan yang dimaksud adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Syariah Nasional (DSN MUI). Apalagi Fatwa DSN MUI sudah dipositivisasi.

Sedangkan Umara Dewan zaman now adalah perangkat pemerintahan dari Ketua RT sampai Presiden, termasuk semua Peraturan Hukum yang berlaku di NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Rujukan penerapan syariat Islam

Berdasarkan konteks dan kondisi tersebut bisa disimpulkan bahwa rujukan penerapan Syariat Islam, rujukan Faqih fid Din, rujukan penafsiran Alquran Hadits, rujukan penafsiran dalil muttafaq dan dalil mukhtalaf adalah MUI atau DSN MUI alias Ulama Dewan.

Dengan demikian mudah disimpulkan juga bahwa urusan Faqih fid Din dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah merujuk pada Fatwa Ulama Dewan, bukan sekedar menurut Pendapat Ulama Dewean, apalagi menurut Akal Dewean.

Tentu saja tak ada yang salah dengan adanya Ulama Dewean atau Akal Dewean yang merujuk pada Tafsiran Alquran Hadits dalam Fatwa Ulama Dewan. Inilah yang seharusnya dikondisikan.

Oleh sebab itu, ketika ada Perkataan Tukang Becak yang tidak menyelisihi Fatwa Ulama Dewan berarti sudah sesuai dengan perintah Allah, dibandingkan dengan siapapun, termasuk dibandingkan dengan Ustadz Doktor Lc MA yang suka menyelisihi Fatwa Ulama Dewan.

Ketiga, jika ada perselisihan pendapat, maka merujuklah kepada Ulil Amri. Logika ini masih berdasarkan Alquran Surat Ali Imran ayat 59 di atas bahwa ketika terjadi perselisihan, kembalilah kepada Allah dan Rasulullah SAW.

Perhatikan bahwa kembali kepada Allah dan Rasulullah SAW berarti kembali kepada Dalil Muttafaq (dalil yang disepakati yakni Alquran Hadits, Ijma' dan Qiyas) serta Dalil Mukhtalaf (Ushul Fiqh ada Mashlahah Mursalah, Urf, Istihsan, Istish-hab, Sadd adz Dzari'ah dan seterusnya).

Silahkan cermati bahwa Allah dan Rasulullah SAW tidak bisa diwawancara. Alquran dan Hadits tak bisa diwawancara. Imam Mujtahid zaman old juga tidak bisa lagi diwawancara. Mufassir zaman old juga tidak bisa diwawancara. Oleh sebab itu, wajib ada sang Penafsir atas semua Dalil dan semua karya Imam Mujtahid zaman old. Lagi-lagi, kembalikan kepada Ulil Amri (Ulama Dewan dan Umara Dewan).

Ada kaidah fikih yang menguatkan posisi Ulil Amri, yakni:

حكم الحاكم الزام ويرفع الخلاف Artinya, "hukumnya hakim (yang berwenang) adalah mengikat dan menghilangkan khilaf (perbedaan pendapat)". Jika masih ingin terikat oleh suatu negara, jika masih ingin menjadi warga negara yang taat, tentu saja terikat terhadap Ulil Amri (Ulama Dewan dan Umara Dewan).

Keempat, coba kenali Jumhur Ulama zaman now. Coba ketahui profil Ulama Dewan dalam MUI dan DSN MUI serta Umara Dewan dalam NKRI. Tak kenal maka silahkan kenalan. Agar paham kompetensi Ulama Dewan.

Ulama dewan di NKRI

Ketahuilah bahwa Ulama Dewan di NKRI ini isinya adalah Kyai Haji Ustadz Hafizh Hafizhah Profesor Doktor Lc MA MH MAg MSi MHI SE Ak, ada ahli ekonomi, ahli fiqh, ahli ushul fiqh, ahli fikih ibadah, ahli tashowuf, ahli tafsir, ahli hadits, ahli ilmu alat, ahli tarikh, ahli pasar modal, ahli perbankan, ahli asuransi, dokter, ahli ekonomi syariah, ahli hukum, ahli akuntansi, ahli pendidikan, ahli regulasi, ahli praktik, ada ormas NU, Muhammadiyah, Persis, dan lain lain yang semua kompetensi itu khayal dimiliki oleh satu orang Ustadz Doktor Lc MA saja.

Kelima, Ulama Dewan dan Umara Dewan pun jelas bisa salah, apalagi Ulama Dewaan, apalagi Akal Dewean. Kalau Anda meyakini ada yang salah dengan Ulil Amri, Rasulullah SAW bikin rumus:

من راى منكم منكرا فليغيره بيده فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه وذلك اضعف الايمان

Artinya, "Sesiapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan yad (kekuasaan). Jika tidak mampu (mengubah dengan yad) maka ubahlah dengan lisan. Jika tidak mampu (mengubah dengan lisan) maka ubahlah dengan hati, dan itulah selemah-lemah iman."

Jika Anda meyakini bahwa Ulil Amri Anda anggap melakukan kesalahan, maka Anda jadilah Ulil Amrinya, Anda jadilah Anggota MUI atau DSN MUI, atau Anda jadilah Presiden atau bagian dari pemerintah dari RT sampai pemerintah pusat.

Jika Anda tidak mampu jadi Ulil Amrinya, Anda cukup mengubahnya dengan lisan, misalnya audiensi dengan DSN MUI atau MUI atau Pemerintah. Audiensi baik-baik dan tentu saja pantaskan diri agar layak audiensi. Anda juga bisa nyaleg, jadi anggota legislatif agar bisa secara sistemik melakukan audiensi bahkan pengawasan kepada pemerintah.

Kalau Anda tidak lagi mampu menjadi Ulil Amri dan tidak mampu audiensi baik-baik dengan Ulil Amri, maka Anda diamlah, cukup mengingkarinya, mendoakannya agar selalu dalam kebaikan, meskipun itulah selemah-lemah iman. Diamnya orang tidak mampu, masih terkategori punya iman.

Demikian uraian tentang Tukang Becak dan Faqih fid Din. Semoga manfaat dan barakah. Amin. Wallahu a'lam.

 

Oleh: Ahmad Ifham Sholihin