Senin, 16 September 2019
17 Muḥarram 1441 H
Home / Ziswaf / Tren Zakat Online Naik 12 Persen
FOTO I dok. Tecniasia.com
Munculnya pilihan dalam membayar zakat melalui aplikasi yang dikeluarkan oleh seperti Grab, Go-jek, Tokopedia, dan sejumlah aplikasi lainnya berhasil mendongkrak penghimpunan zakat.

Sharianews.com, Jakarta ~ Perkembangan teknologi saat ini semakin memudahkan masyarakat dalam melakukan pembayaran zakat. Di antaranya melalui marketplace dan perusahaan start-up.

Munculnya pilihan dalam membayar zakat melalui aplikasi yang dikeluarkan oleh seperti Grab, Go-jek, Tokopedia, dan sejumlah aplikasi lainnya berhasil mendongkrak penghimpunan zakat.

Badan Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Nasional (Baznas) pernah melaporkan bahwa pada saat kemunculan aplikasi tersebut, angka kecenderungan pemakaian aplikasi online untuk membayar zakat tumbuh sebesar 12 persen.

Sedangkan pada 2019 ini, angka tersebut diprediksi tumbuh sekitar 16 persen. Besar kemungkinan kenaikan angka pertumbuhan ini dipengaruhi secara signifikan oleh perilaku masyarakat yang sehari-harinya dikuasai oleh gadget, smartphone, dan media digital online lainnya.

Dikutip dari laman Nadhatul Ulama, Jumat (7/6), terdapat beberapa karakter masyarakat yang saat ini mempengaruhi tingginya penggunaan e-zakat, antara lain:

Masyarakat modern adalah masyarakat yang dipenuhi oleh hasrat ingin segalanya berlangsung cepat. Waktu adalah uang, menjadi karakter khas masyarakat ini. Kesibukan dan perhatiannya terhadap bidang pekerjaan yang digelutinya menjadikannya kurang efektif bila terlalu banyak melakukan gerak pindah tempat yang dipisahkan oleh jarak dan waktu.

Karakter masyarakat modern adalah karakter visual dan mesin. Visualisasi platform zakat yang menarik akan banyak memengaruhi pola kecenderungan masyarakat dalam membayar zakat lewat aplikasi itu.

Masyarakat modern merupakan masyarakat yang gemar belajar tanpa memandang perlunya dekat dengan seorang guru. Ruang tatap muka disatukan oleh media digital. Untuk itulah ruang pemasaran produk keagamaan terkadang memerlukan tempat yang bisa dengan cepat diakses mereka.

Itulah sebabnya proses pengiklanan keberadaan lembaga amil zakat (LAZ) dengan menawarkan tingkat penyaluran dan jaminan yang tinggi akan nilai syariahnya, akan lebih banyak diburu dibandingkan dengan LAZ konvensional tanpa media.

Ketiga alasan di atas secara tidak langsung menjadi satu tantangan tersendiri bagi LAZ. Mereka dipaksa untuk menyediakan struktur keamilan yang bisa menjawab kebutuhan tersebut dengan bekal media komunikasi dan digital.

Karena bagaimanapun, zakat merupakan praktik ibadah sosial yang mewajibkan adanya akad ijab dan kabul. Hal ini berbeda dengan praktik muamalah lainnya seperti jual beli yang dalam beberapa segi, akad ijab dan kabul dapat dilakukan menurut 'urf (tradisi) yang berlaku. (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo