Senin, 27 Januari 2020
02 Jumada al-akhirah 1441 H
Home / Lifestyle / Tren Fesyen Hijab 2019, Science Fiction dan Kembinasi Motif Tradisional
FOTO | Dok. Okezone Lifestyle
Semesta akan memberikan banyak inspirasi kepada para desainer, tak hanya warna, tetapi mungkin juga bentuk dan siluet.

Sharianews.com, Jakarta. Desainer populer Hannie Hananto, memprediksi tren fashion busana muslim di 2019, mengarah ke tema besar science fiction. Menurutnya, warna pop art akan bergeser dan warna-warna galaksi, bintang, itu akan banyak dipakai misalnya warna silver, hitam, biru dongker, mungkin juga hologram. “Arahnya lebih ke futuristic,”ujarnya kepada sharianews.com di Jakarta (Rabu, 28/11).

Selain itu, warna-warna dingin juga akan lebih mendominasi di tahun 2019. Semesta akan memberikan banyak inspirasi kepada para desainer, tak hanya warna, tetapi mungkin juga bentuk dan siluet.

Untuk busana muslim potongan sendiri, menurutnya juga masih sama, yaitu tidak jauh dari bentuk tunik dan dress. Hanya saja tekniknya yang berubah dan menemukan gaya baru.

Lebih lanjut dia mengatakan, kain printing dan bercorak diperkirakan masih mewarnai tahun 2019. Tren ini dimulai di tahun 2017 dan makin menggaung tahun ini. Tak hanya hijab atau pattern scarf saja, tetapi kain printing pada baju atau celana juga akan mewarnai tahun 2019.

Potongan simpel akan menjadi primadona

Sementera Rudy Chandra, Ketua Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), yang mewadahi 65 anggota aktif perancang busana, berpendapat bahwa ke depannya busana berpotongan simpel dengan bahan yang ringan akan jadi primadona. “Warna-warna yang menyejukkan dan netral juga akan lebih diminati, seperti off white, abu-abu, dan navy blue,”katanya kepada sharianews.com, di Jakarta, Rabu (28/11).

Lebih lanjut Rudy menuturkan tidak hanya tren busana yang berkembang, tetapi juga keberadaan desainer baru yang terus bermunculan akan menambah kekayaan fashion muslim di negara ini. Rudy mengungkapkan ada tiga desainer anggota APPMI yang memiliki kreativitas kuat.

"Saya melihat ada sejumlah desainer yang memiliki kreativitas sangat kuat dan harus diantisipasi oleh fashionista muslim pada tahun depan. Mereka ini adalah Ariy Arka, Dana Duryatna, dan Nita Seno Adjie,"ujar Rudy.

Ketiga desainer yang disebutkan memiliki karakter busana yang cukup berbeda. Abee by Ariy Arka memiliki ciri khas sentuhan bordir dalam karyanya. Sementara, Dana Duryatna menyukai desain busana-busana longgar dengan bahan-bahan print dari linen dan katun. Sedangkan, Nita Seno Adjie lihai dalam memadukan desain modern dengan motif-motif tradisional.

Rudy menuturkan, meski tahun 2019 belum tiba, namun persiapan untuk muncultnya tren fesyen hijab sepertinya sedang dilakukan. Dengan begitu, baik para desainer baru yang memiliki brand lokal dan memasarkannya hasil karyanya secara online, sama-sama memiliki kontribusi besar dalam perkembangan model fesyen. “Sebab tak jarang, tren busana muslim kerap datang dari media sosial (online) dan para influencer hijab-nya,”tutur Rudy.

Hijab Mom's Community

Iya begitulah, kekayaan model fashion di Indonesia tampaknya akan terus berkembang. Dengan dukungan banyak komunitas yang konsen pada fesyen serta banyaknya perancang busana muslim, pertumbuhan tersebut kini melaju lebih cepat.

Hijab Mom’s Community (HMC) misalnya, komunitas yang memiliki passion di bndang fesyen muslim, juga memiliki desainer-desainer handal dalam dalam meramaikan model fashion hijab. HMC sendiri telah memiliki tiga brand andalan dengan ciri khas masing-masing, yitu Ummi Muslimah, Qnan, dan Zafirah.

Mengamati selera fesyen hijab konsumen di tanah air serta hasil karya para desainernya, HMC memprediksi tren fesyen hijab muslimah di tahun 2019, tidak akan berbeda juah dengan tren 2018, meski disebutnya akan ada banyak inovasi yang dikembangkan pada 2019.

Jadi sudah siapkah menyambut tren busana muslimah di 2019?(*)

Reporter: Fahtia Rahma Editor: Ahmad Kholil