Rabu, 3 Maret 2021
20 Rajab 1442 H
Home / Inovasi / Top Up dan Diskon dalam Transaksi Online Halal, Ini Lima Alasannya
-
Deposit dan transaksi online masuk dalam kategori ijarah yang halal hukumnya.

Deposit dan transaksi online masuk dalam kategori ijarah yang halal hukumnya.

Sharianews.com. Jakarta - Skema deposit (top up) dan diskon dalam transaksi jasa transportasi online masih menjadi polemik terkait kehalalannya bagi umat Islam. Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, Oni Sahroni, mengatakan bahwa skema ini halal.

Menurut Doktor pertama dari Indonesia di bidang perbandingan mazhab di Universitas Al-Azhar, Mesir ini, dalam fikih Islam skema itu diperbolehkan dengan lima alasan.

Pertama, kegiatan transaksi model ini sama dengan jual-beli jasa. Dalam hal ini, perusahaan menjual jasa pesan-antar ojek secara online. Transaksi terjadi antara pengguna dan perusahaan jasa. Supir ojek sebagai karyawan perusahaan itu mengantar kliennya ke tempat yang dituju.

“Ini bukan utang-piutang atau pinjaman. Hal ini sama dengan dokter menjual jasa medis atau guru yang menjual jasa mengajar,” jelasnya kepada Sharianews.com.

Kedua, mengenai sistem diskon dalam transaksi top up. Deposit pengguna, yang diasumsikan sebagai upah, dibayar tunai dan jasa yang dibeli/digunakan lalu diserahkan secara tidak tunai, sesuai permintaan pengguna. Dengan top up ini, pengguna mendapat harga lebih murah dari harga biasanya atau diskon.

Dewan Pengawas Syariah di Bank Muamalat Indonesia ini mengibaratkannya seperti seorang ibu yang menggunakan jasa ojek pangkalan selama sebulan untuk mengantar anaknya ke sekolah.

“Ojek yang selama sebulan mengantarkan sang anak ini, misalnya, total memakan biaya Rp 500 ribu. Tapi karena berlangganan, ia mendapat diskon jadi Rp 400 ribu,” paparnya.

Dalam akad ijarah ini, tambahnya, menjadi hak dari pihak yang menyewakan, dalam hal ini perusahaan transportasi online untuk memberikan bonus berbentuk diskon.

Ketiga, transaksi seperti ini bisa disebut sebagai transaksi jual-beli jasa untuk manfaat yang diserahterimakan (ijarah maushufah fi dzimmah).

“Jadi, deposit sebagai upah dibayar di muka dan jasa mengantar dibayar kemudian. Hal ini diperbolehkan secara syariah dengan syarat, kriteria barang sewa dapat terukur dan dapat diserahterimakan dalam waktu yang tepat,” ujarnya.

Keempat, karena berbentuk ijarah, deposit menjadi milik perusahaan jasa transportasi online. Sehingga hanya bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang terkait dengan perusahaan itu.

Terakhir, terkait adab dalam berpergian dan bermuamalah seperti keamanan dan keselamatan selama berkendara. “Ini semuanya mesti sesuai syariah,” tuturnya.

Dengan landasan lima hal itu, pengguna top up halal menggunakan transaksi online atau top up. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman. Editor: A.Rifki.