Rabu, 24 Juli 2019
22 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Lifestyle / TKW Mendunia Berkat Memutus Rantai Kemiskinan melalui Gerakan Anak Petani Cerdas
Heni Sri Sundani (Dok/Foto Femina)
Waktu itu baru balik dari Hongkong, saya melihat anak-anak buruh tani tidak bersekolah.

Sharianews.com, Heni Sri Sundani, muslimah mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hongkong kerap mendunia dengan gerakan yang dibuatnya yakni Anak Petani Cerdas dengan memberikan pendidikan untuk anak petani.

Gerakan yang telah dibangun sejak 2013 silam, diakui Heni berawal dari sebuah keresahan akan kemiskinan keluarga buruh tani serta tertinggalnya pendidikan di daerah Ciamis atau lingkungan tempat ia tinggal.

“Waktu itu baru balik dari Hongkong, saya melihat anak-anak buruh tani tidak bersekolah. Sekalipun bersekolah mereka di pelosok-pelosok kampung yang bisa dibilang kualitas pendidikan seadanya. Bahkan guru-gurunya pun hanya berpendidikan paling tinggi setingkat SMA begitu,” ungkap wanita kelahiran Ciamis, 2 Mei 1987 kepada sharianews setelah mengisi talkshow pada acara Gebyar Muslimah 2019, beberapa waktu lalu di Sekolah Tinggi ekonomi Islam SEBI.

Berangkat dari keresahan itu, lanjutnya, timbulah sebuah keinginan untuk merubah keluarga miskin petani agar bangkit dari keterpurukan tersebut.

“Dan saya percaya bahwa salah satu caranya yaitu melalui pendidikan,” ujar Heni.  

Oleh karena itu, dimulai 15 anak dengan modal 100 ribu itu gerakan Anak Petani Cerdas berdiri dengan visi besar yaitu memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan.

Heni mengemukakan dalam sekolah anak petani, kurikulum yang diberikan menyesuaikan dengan kebutuhan anak bukan berdasarkan kurikulum standar sebagaimana sekolah pada umumnya.

“Jadi di setiap kampung kan suka beda-beda ya kebutuhannya. Misalnya, dalam pelajaran bahasa inggris, anak kelas enam SD apabila kita kasih materi kelas enam yang standarnya mereka belum sampe. Bahkan anak kelas satu SMP tidak dapat mengerjakan materi kelas tiga SD. Jadi sesuai kebutuhan mereka,” kata penerima penghargaan Forbes bertajuk 30 Under 30 Asia untuk kategori social entrepeneurs ini.

Dalam Anak Petani Cerdas, yang digagas pertama kali adalah linguistik atau kemampuan berbahasa. Tidak hanya bahasa Inggris dan bahasa Indonesia tetapi juga diajarkan bahasa Cina, korea dan lainnya.

Untuk materi linguistik sendiri, Heni seringkali mengadakan program Bule Coming dan Hunting. Dimana dalam program Bule Coming, akan mengundang orang asing (bule) untuk menjadi native speaker (pembicara) di dalam kelas.

Sedangkan dalam program Bule hunting, anak-anak akan diajak ke tempat wisata dan berbicara langsung dengan orang luar negeri. Dengan program ini, Heni mengharapkan anak didiknya dapat praktik berbicara bahasa asing secara langsung.

Kemudian, lanjut mantan TKW sukses ini, gagasan kedua setelah linguistik adalah literasi. Menurutnya, literasi bukan hanya sekadar baca dan tulis melainkan belajar mengasah pola piker.

“Karena kan anak-anak harus bisa mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Mungkin kalo anak-anak kota dari keluarga berada, ketika umur 20 tahun masih kuliah dan masih minta ang ke orang tua. tetapi kalau di kampung enggak kayak gitu,” imbuh dia.

Gagasan ketiga yaitu Life Skill (kemampuan). Dalam life skill, anak-anak diajarkan kemampuan sesuai kebutuhan masing-masing. Sebagai contoh, ia menuturkan, adalah kemampuan pertanian dari yang modern hingga organic dan cooking class (kelas memasak).

“Pokoknya segala macam life skill yang mereka butuhkan. Bahkan ada pula diajarkan menggunakan kalkulator. Karena ada anak SMP yang harus bantu orang tuanya kerja di toko. Tetapi baru sehari kerja udah di pecat karena tidak bisa pakai kalkulator. Karena kalau di sekolah, mereka berhitung tidak boleh pakai kalkulator,” cerita Heni.

 

Reporter: Fathia Editor: Munir Abdillah