Rabu, 1 Februari 2023
11 Rajab 1444 H
Home / Lifestyle / Tiga Rekomendasi MUI Terkait Penanganan Virus Corona
FOTO I Dok. pexels.com
MUI meminta pemerintah untuk melakukan pembatasan keluar atau masuknya barang ke Indonesia.

Sharianews.com, Jakarta ~ Virus corona (Covid-19) terus menjadi perhatian masyarakat dunia. Total pasien yang dinyatakan positif corona di Indonesia hingga Selasa (17/3) mencapai 172 orang. Dari total jumlah tersebut, sembilan pasien sudah dinyatakan sembuh dan dibolehkan pulang. 

Merespon dampak tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan tiga rekomendasi, terkait penanganan wabah virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19. Salah satunya, MUI meminta pemerintah untuk melakukan pembatasan keluar atau masuknya barang ke Indonesia.

"Pemerintah wajib melakukan pembatasan super ketat terhadap keluar-masuknya orang dan barang ke dan dari Indonesia kecuali petugas medis dan import barang kebutuhan pokok serta keperluan emergency," ungkap Ketua Dewan Fatwa MUI Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/3/2020).

Adapun isi lengkap tiga rekomendasi MUI yang tercantum dalam Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19 adalah:

  1. Pemerintah wajib melakukan pembatasan super ketat terhadap keluar-masuknya orang dan barang ke dan dari Indonesia kecuali petugas medis dan import barang kebutuhan pokok serta keperluan emergency.
  2. Umat Islam wajib mendukung dan mentaati kebijakan pemerintah yang melakukan isolasi dan pengobatan terhadap orang yang terpapar COVID-19, agar penyebaran virus tersebut dapat dicegah.
  3. Masyarakat hendaknya proporsional dalam menyikapi penyebaran COVID-19 dan orang yang terpapar COVID-19 sesuai kaidah kesehatan. Oleh karena itu masyarakat diharapkan menerima kembali orang yang dinyatakan negatif dan/atau dinyatakan sembuh.

MUI juga telah mengeluarkan fatwa terkait wabah ini, salah satunya adalah bagi orang yang telah terpapar virus corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya salat Jumat dapat diganti dengan salat Zuhur di tempat kediaman, karena salat jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal.

“Baginya haram melakukan aktivitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah salat lima waktu/ rawatib, salat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar,” jelas Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat Asrorun Niam Sholeh, di Jakarta, Senin (16/03). (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo

Tags: