Senin, 23 September 2019
24 Muḥarram 1441 H
Home / Lifestyle / Tiga Keistimewaan Bulan Syawal
FOTO I Dok. moslemchoice.com
Umat Muslim menganggap salah satu amalan terbaik di bulan Syawal adalah puasa enam hari di bulan tersebut. Memang tidak salah, tetapi masih banyak amalan lain yang bisa dilakukan pada saat bulan Syawal.

Sharianews.com, Bagi umat Muslim, bulan Syawal sangatlah istimewa. Bulan Syawal merupakan salah satu bulan terbaik setelah bulan Ramadan.

Umat Muslim menganggap salah satu amalan terbaik di bulan Syawal adalah puasa enam hari di bulan tersebut. Memang tidak salah, tetapi masih banyak amalan lain yang bisa dilakukan pada saat bulan Syawal.

Tiga amalan berikut sangat dianjurkan untuk dilakukan pada bulan Syawal. Sharianews telah merangkumnya dari berbagai dari berbagai sumber agar keistimewaanya dapat dirasakan.

Mengganti Amalan yang Tertinggal

Beberapa dari umat Muslim pasti ada yang melewatkan momen ibadah di bulan Ramadan, terlebih bagi wanita. Seperti berpuasa, Itikaf, atau mungkin ada pula yang belum mencapai target membaca Alquran karena halangan.

Untuk puasa Ramadan yang hukumnya wajib, tentu harus diganti menyesuaikan kondisi orang tersebut. Namun, untuk amalan yang hukumnya sunah, seperti itikaf Nabi Saw pernah melakukan qadla itikaf di bulan Syawal. Saat itu istri-istri beliau membuat kehebohan di rumah, karena mendirikan tenda-tenda di area masjid Nabawi, demi mengikuti itikaf bersama Nabi. 

Rasulullah pun terkejut, dan meminta para istrinya untuk membongkar tenda-tenda yang telah dibuat. Akhirnya, untuk sementara waktu beliau pun tidak beritikaf di masjid.

Dalam hal ini Nabi pun mengganti itikaf yang tidak dilakukannya pada Ramadan lalu di bulan Syawal. Cara menggantinya mudah, yakni dengan meniatkan itikaf yang dilakukan di masjid ini untuk mengganti yang terlewat di bulan Ramadan. Sebuah riwayat Sunan an-Nasa’i misalnya, disebutkan pula ada seorang sahabat yang biasa puasa pada pertengahan atau awal bulan Syaban, tapi kebetulan ia lewatkan.

Menikah

Nabi Saw kala itu juga menikahi istrinya Aisyah Ra di bulan Syawal. Seperti hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, bahwa istri Nabi, Aisyah radliyallahuanha, menyatakan bahwa ia dinikahi Rasulullah Saw pada bulan Syawal.

Sehingga dapat dikatakan umat Muslim yang melangsungkan pernikahan di bulan Syawal, sama saja mengikuti sunah Nabi Saw.

Di sisi lain, banyak pasangan yang memilih menikah di bulan Syawal lantaran masih dalam suasana Lebaran dan syarat akan bersilaturahmi. Rasulullah Saw pun menganjurkan untuk menikah di bulan Syawal.

Puasa pada Pertengahan Bulan

Mengutip dari beberapa hadis, Rasulullah membiasakan berpuasa di pertengahan bulan, tepatnya tanggal 13, 14 dan 15 tiap-tiap bulan Hijriyah.

Para ulama menamakan puasa tersebut dengan puasa Ayyamul bidh, karena pada tiga hari itu, bulan sedang purnama dan tampak cemerlang.

Seperti disebutkan di atas, amalan puasa Ayyamul Bidh tidak hanya dianjurkan dilakukan di bukan syawal, tetapi bisa juga di setiap bulan. (*)

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Achi Hartoyo

Tags: