Sabtu, 16 November 2019
19 Rabi‘ al-awwal 1441 H
Home / Keuangan / Tiga Hal Utama untuk Implementasikan MEKSI
FOTO I Dok. lead.co.id
Ada tiga hal utama yang perlu dilakukan sebagai arah pengembangan industri keuangan syariah Indonesia.

Sharianews.com, Jakarta ~ Kehadiran Master Plan Ekonomi Syariah Indonesia (Meksi) yang disusun oleh Komite Nasional Keuangan Syariah, diharapkan dapat menjadi pedoman bersama bagi seluruh stakeholders baik di industri keuangan syariah Indonesia maupun industri halal lainnya, dalam menjalankan program yang mendukung pengembangan industri keuangan syariah.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen mengatakan sebagai implementasi masterplan tersebut, ada tiga hal utama yang perlu dilakukan sebagai arah pengembangan industri keuangan syariah Indonesia.

Pertama, penguatan lembaga keuangan syariah, antara lain melalui peningkatan modal usaha dan SDM, penguatan informasi, variasi produk, pemanfaatan teknologi dalam proses bisnis, serta penerapan tata kelola dan manajemen risiko yang baik,” jelasnya dalam rilis OJK (15/10).

Kedua, menciptakan demand keuangan syariah yang sustainable melalui peningkatan literasi dan inklusi masyarakat terhadap industri keuangan syariah, yang saat ini dirasakan masih kurang.

Ketiga, membentuk ekosistem keuangan syariah, melalui sinergi dan kolaborasi di antara pelaku jasa keuangan syariah di berbagai sektor, dengan pelaku industri halal di sektor riil.

Per Juli 2019, total aset keuangan syariah Indonesia (tidak termasuk saham syariah) telah mencapai Rp1.359triliun dan telah berkontribusi sebesar 8,71 persen dari total aset industri keuangan nasional.

Dari total aset industri keuangan syariah tersebut, pasar modal syariah berkontribusi paling besar yaitu sebesar 56,2 persen, disusul perbankan syariah sebesar 36,3 persen dan industri keuangan non bank syariah sebesar 7,5 persen.

Sektor perbankan yang lebih awal berkembang kini memiliki 14 Bank Umum Syariah (BUS), 20 UUS dan 165 BPRS. Total aset perbankan syariah per Juli 2019 telah mencapai Rp494,04triliun atau 5,87 persen dari total aset perbankan Indonesia.

Untuk sektor pasar modal syariah, per 20 September 2019, jumlah saham syariah mencapai 425 saham dengan nilai kapitalisasi sebesar Rp3.834triliun atau sebesar 53,6 persen dari seluruh saham yang tercatat di pasar modal.

Sementara itu jumlah outstanding Sukuk korporasi dan sukuk negara telah mencapai 211 sukuk dengan nilai Rp737,49triliun atau sebesar 14,89 persen dari total nilai outstanding surat utang korporasi dan negara. Selain itu, saat ini terdapat 266 Reksa Dana Syariah dengan total Nilai Aktiva Bersih mencapai Rp55,99triliun atau 10,16 persen dari total NAB Reksa Dana.

Adapun untuk Industri Keuangan Nonbank, per Juli 2019 terdapat 200 perusahaan yang menyelenggarakan usaha berdasarkan prinsip syariah baik berbentuk full fledge maupun unit usaha syariah baik itu perusahaan asuransi dan reasuransi syariah, lembaga pembiayaan syariah, modal ventura syariah, penjaminan syariah, pergadaian syariah, lembaga mikro syariah maupun financial teknologi syariah.

Total aset di industri keuangan nonbank syariah mencapai Rp101,87triliun atau 4,27 persen dari total aset di industri keuangan nonbank Indonesia. (*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo

Tags: