Senin, 1 Juni 2020
10 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Tiga Hal Kenapa Kinerja UUS Lebih Baik dari BUS
-
Perkembangan bank syariah secara umum membaik. Tapi dibanding BUS, kinerja UUS masih jauh lebih baik.

Perkembangan bank syariah secara umum membaik. Tapi dibanding BUS, kinerja UUS masih jauh lebih baik.

Sharianews.com. Jakarta - Kinerja Unit Usaha Syariah (UUS) lebih baik dibandingkan Bank Umum Syariah (BUS) terkait biaya operasional pendapatan operasional (BOPO), kredit bermasalah (NPF), dan Return on Assets (ROA). Hal ini berdasarkan data Statistik Perbankan Syariah (SPS) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mei 2018.

Pakar ekonomi syariah, Irfan Syauqi Beik mengatakan, BOPO UUS lebih baik dari BUS setidaknya lantaran tiga hal. Pertama, UUS banyak terbantu oleh induknya.

“Dari layanan teknologi sampai penyertaan modalnya UUS banyak dibantu oleh induknya,” jelas Irfan, saat dihubungi Sharianews.com, Kamis (9/8/2018).

Kedua, ketika induk menjadi bank yang lebih besar dan kemudian menjadi efisien, lanjutnya, hal ini tentu berpengaruh kepada UUS. Sehingga dari sisi BOPO kinerja UUS lebih efisisen.

“Walaupun secara bisnis UUS itu independen atau unit yang otonom, tapi dukungan atau bantuan dari induknya juga berpengaruh besar,” ungkapnya.

Ketiga, dalam praktiknya, peran induk itu sangat menentukan kinerja UUS. Irfan mencontohkan, terkait investasi teknologi misalnya, UUS tidak perlu lagi keluar biaya karena otomatis memakai teknologi induknya.

“Dari sisi ini saja UUS sudah jauh lebih efisien dibandingkan dengan BUS. Belum lagi soal office channeling. Semua jaringan induknya bisa digunakan,” jelasnya.

NPF Turun, Laba Naik

Terkait turunnya kredit bermasalah (NPF), Irfan menambahkan, itu pertanda bahwa industri perbankan syariah secara umum mampu mengelola dan menurunkan rasio pembiayaan bermasalahnya.

“Salah satu masalah yang dihadapi bank syariah, terutama dalam kurun tiga tahun terakhir ini, adalah meningkatnya pembiayaan bermasalah,” kata Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CI-BEST) Institut Pertanian Bogor ini.

Menurutnya, dari sisi pembiayaan bermasalah, tahun ini sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Yang paling parah, lanjutnya, pada 2015. Mulai 2016 dan 2017 ada reborn. Bank syariah kemudian tumbuh dengan lebih baik dan NPF-nya juga bisa dikelola dengan baik.

“Ini berarti manajemen risiko pembiayaan syariah itu berjalan dengan lebih baik dan sebagian bank syariah juga lebih fokus pada bisnis yang memang dikuasainya,” ulasnya.

Artinya, kata Irfan, bank syariah sudah masuk ke wilayah atau sektor-sektor bisnis yang sistemnya sudah diketahui dengan baik.  

Dari sisi kemampuan adaptasinya, Irfan menambahkan, juga jauh lebih baik. Ketika ada pembiayaan bermasalah tentu ada hal yang dipelajari, dianalisis, dan kemudian ada proses adaptasi.

“Roda ini juga berjalan dengan baik,” urainya.

Irfan juga mengakui, di beberapa pembiayaan terjadi proses restrukturisasi. Berbagai hal ini yang menyebabkan menurunnya kredit bermasalah.

Restructuring pembiayaan ini dilakukan dengan baik. NPF kemudian jadi turun,” imbuhnya.

Turunnya kredit bermasalah ini, ujar Irfan, tentu berpengaruh pada tingkat keuntungan atau ROA.

“Ketika ROA meningkat ini berarti kinerja bank syariah cukup baik dan bisa memberikan keuntungan yang baik,” jelasnya.

Data SPS OJK, Mei 2018, menyebutkan bahwa BOPO UUS 72,36 persen dan BUS 88,90 persen, Sementara, NPF UUS 2,52 persen dan BUS 4,86 persen. Lalu ROA UUS 2,43 persen dan BUS 1,31 persen. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman. Editor: A.Rifki.