Senin, 17 Juni 2019
14 Shawwal 1440 H
Home / Keuangan / Tiga Dampak Rendahnya Literasi Keuangan
FOTO I Dok. Ahmad Arif Sharianews.com
Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Muhamammad Bagus Teguh Perwira mengatakan, target tersebut sebetulnya masih sangat rendah. Rendahnya tingkat literasi keuangan memberikan berbagai dampak.

Sharianews.com, Jakarta ~ Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia hanya sebesar 29 persen. Tahun depan ditargetkan meningkat menjadi 36 persen.

Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Muhamammad Bagus Teguh Perwira mengatakan, target tersebut sebetulnya masih sangat rendah. Rendahnya tingkat literasi keuangan memberikan berbagai dampak.

“Pertama, masyarakat kita menjadi memiliki perilaku yang konsumtif. Bila tanggal muda pergi ke mall, hingga sulit mencari parkir. Perilaku kita seperti itu, konsumtif. Karena literasi kita rendah,” jelas Bagus pada acara Topi Diksi yang diselenggarakan MES, di Serang, Kamis (11/4).

Dampak kedua, rasio masyarakat untuk menabung sangat rendah, terlebih ketika berbicara rasio investasi, jumlahnya lebih rendah lagi.

Teguh berseloroh, investor di seluruh Indonesia lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pengikut akun Instagram penyanyi Ayu Ting-Ting. Pengikut Ayu Ting-Ting mencapai 25 juta, sedangkan investor di Bursa Efek Indonesia kurang dari 1 juta investor, ini menunjukan tingkat literasi keuangan yang rendah sekali.

Efek ketiga dari literasi keuangan yang rendah adalah maraknya investasi bodong. Keinginan masyarakat untuk mendapatkan hasil investasi yang besar, sangat tinggi.

“Tetapi inginnya instan, maunya cepat, karena tidak punya tingkat literasi yang baik,” ujar Teguh dalam acara bertajuk Pembiayaan Syariah, Solusi Bisnis Pelaku UMKM ini.

Lebih lanjut, ia menyampaikan, jika literasi keuangaan secara umum saja masih rendah, apalagi jika spesifik tingkat literasi keuangan syariah, lebih rendah lagi.

Untuk karena itu, MES mengelar roadshow, sudah dijadwalkan ke beberapa daerah di Indonesia, di antaranya direncanakan ke Makassar dan Surabaya. Karena dibutuhkan usaha terus menerus, supaya masyarakat itu terbiasa dengan keuangan yang syariah. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo