Minggu, 26 Mei 2019
22 Ramadan 1440 H
Home / Ziswaf / Tiga Cara Membesarkan Wakaf
FOTO I Dok. Blog ACT
"Karena hakikatnya wakaf yang bisa dibagikan kepada mauquf alaih adalah nilai tambahnya," ujar Nuh.

Sharianews.com, Jakarta ~ Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Muhammad Nuh mengatakan, tantangan terbesar untuk membesarkan wakaf adalah kurangnya literasi kepada umat Islam.

Selama ini, pemahaman masyarakat terkait wakaf, identik dengan aset-aset produktif yang memiliki efek berantai rendah seperti pertanahan saja.

Menurutnya, ada tiga cara untuk membesarkan dunia perwakafan. Pertama, bagaimana caranya memperbanyak wakif, mulai dari wakif senior sampe wakif milenial.

"Itu yang sekarang kita harus dorong dan kita dorong terus, jangan lupa anak-anak yang sekarang umurnya 15 tahun, 10-15 tahun lagi dia berusia 30 tahun, dia sudah akan menjadi wakif," ujar Nuh di Jakarta, Rabu (13/3).

Isu yang kedua adalah pengelolaan harta wakaf, lebih lanjut dikatakan Nuh, kalau wakaf dahulu dikenal sebatas urusan tanah saja, maka saat ini harta wakaf semakin diverse.

"Mulai dari tanah, cash wakaf, royalti, apa saja, dan ini memudahkan orang untuk memberikan wakafnya tersebut," sambung Nuh.

Ketiga, adalah isu kenaziran, yaitu bagaimana para nazir bisa menciptakan value added atau nilai tambah.

"Karena hakikatnya wakaf yang bisa dibagikan kepada mauquf alaih adalah nilai tambahnya," imbuh Nuh.

Nuh menambahkan, apabila ingin melihat peradaban suatu umat yang sudah maju ataukah belum, lihat saja perwakafannya.

"Kalau wakafnya belum banyak berarti belum bisa meningkatkan value creation tadi, tapi kalau perwakafannya sudah modern, sudah semakin besar, maka di situ pertanda dari suatu peradaban," pungkas Nuh.

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo