Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H
-
Tukang becak bisa berkurban dan bahkan naik haji, kenapa kita tidak?

Tukang becak bisa berkurban dan bahkan naik haji, kenapa kita tidak?

Sharianews.com. Jakarta - Tiap umat Muslim Indonesia sebenarnya mampu berkurban, baik kambing atau sapi, saat Idul Adha. Dengan niat yang mantap sebagai wujud kepedulian terhadap kaum dhuafa disertai cara mengatur keuangan yang baik, berkurban bukanlah perkara sulit.

Hal itu disampaikan Kepala Kantor Wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat Koperasi Simpan-Pinjam dan Pembiayaan Syariah Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Bina Ummat Sejahtera (BUS), Astian.  

“Siapa pun bisa berkurban. Tukang becak saja, dengan penghasilan yang minim, bisa kurban dan pergi haji. Kita mestinya malu,” tegasnya kepada Sharianews.com  di Jakarta (20/7).

Astian mencontohkan, karyawan di Jakarta dengan upah minimum provinsi hampir Rp 4 juta juga bisa berkurban. Dengan cara menyisihkan gajinya tiap bulan.

“Misalnya, disisihkan Rp 300 ribu tiap bulan. Dikalikan 12 bulan itu totalnya sudah Rp 3,6 juta. Jumlah itu lebih dari cukup untuk kurban. Harga kambing di pedagang Jakarta yang paling murah itu Rp 2,5 juta,” paparnya.

Apalagi, sambung pria asal Rembang ini, jika kita membelinya langsung ke peternak di daerah. Tahun lalu, lanjutnya, seharga Rp 1,5 juta sudah dapat kambing kualitas bagus.

“Bayangkan, dengan uang Rp 3 juta kita dapat beli dua ekor kambing,” jelasnya.

Tabungan Kurban

Didasari dengan hal itu, pria satu anak ini mengungkapkan bahwa BMT Bina Ummat Sejahtera membuat program tabungan kurban. Tabungan ini mulai berjalan setelah Hari Raya Idul Adha sampai Lebaran Haji selanjutnya.  

“Dari awal sudah kami galakkan, misalnya, jika ada anggota BMT yang ingin membeli kambing Rp 2,5 juta perekor, harga itu dibagi 10-12 bulan sampai Idul Adha tahun depan. Itu bisa terlihat dalam sehari atau sebulan ia harus menabung berapa untuk mencapai Rp 2,5 juta,” urai Astian.

Lebih lanjut, ia mengatakan, anggota BMT juga bisa menabung pada periode pertengahan tahun. Ia dapat menentukan besaran harga dan kualitas hewan kurbannya, baik kambing maupun sapi.

"Jumlah tabungannya akan disesuai dengan pilihan jenis hewan kurban dan harganya,” tuturnya.

BMT Bina Ummat Sejahtera menetapkan untuk kambing minimal seharga Rp 2,5 juta dan sapi minimal Rp 18 juta.

“Kalau mau sapi yang seharga Rp 80 juta juga bisa, jika ada yang mau. Nanti tinggal dihitung perbulannya ia mesti menabung berapa,” katanya.

Setelah terkumpul tabungannya, sesuai harga hewan kurban yang ditetapkan, menjelang Idul Adha anggota BMT dapat menarik tabungan. Untuk penyalurannya diserahkan sepenuhnya ke anggota BMT.

“Anggota BMT dapat menyalurkannya sendiri ke tempat yang ia inginkan atau mau dititip ke BMT Bina Ummat Sejahtera,” imbuhnya

Akad yang digunakan dalam tabungan kurban ini adalah wadiah. “Seperti simpanan biasa,” jelasnya.

Tiap tahunnya, BMT Bina Ummat Sejahtera melakukan aksi sosial kurban. Tahun lalu, Astain mengatakan, untuk wilayah Jabodetabek, BMT ini menyalurkan satu ekor sapi.

“Tahun ini, insya Allah, kami akan memotong satu sampai dua ekor sapi yang akan dibagikan ke yang berhak,” ujarnya. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman. Editor: A.Rifki.