Senin, 1 Juni 2020
10 Shawwal 1441 H
Home / Ekbis / Thailand Menjadi Pengekspor Produk Makanan Halal Terbesar Ke-10 di Dunia
FOTO | Dok. www.bangkokpost.com
Industri halal Thailand merambah ke berbagai sektor manufaktur seperti farmasi, kosmetik, peralatan mandi dan peralatan medis, serta di sektor jasa seperti logistik, pembiayaan, perbankan, dan pariwisata.

Industri halal Thailand telah merambah ke berbagai sektor manufaktur seperti farmasi, kosmetik, peralatan mandi dan peralatan medis, serta di sektor jasa seperti logistik, pembiayaan, perbankan, dan pariwisata.

Sharianews.com, Jakarta. Thailand telah menjadi pengekspor produk makanan halal terbesar ke-10 di dunia, dengan total 200 miliar baht (USD 6 miliar) atau 22 persen dari total ekspor makanan secara keseluruhan.

Di antara ekspor makanan utama Thailand adalah beras, jagung, tepung tapioka, gula, kerupuk, ayam, ikan, udang, tuna kaleng, jus sayuran, buah-buahan, produk buah olahan, dan bumbu.

Menurut National Food Institute (NFI), Thailand memiliki potensi pasar makanan halal yang menjanjikan, dengan ukuran dan tingkat pertumbuhannya yang cepat. Indikasi ini bisa dilihat dengan kualitas tinggi hasil pertaniannya, kemampuan pengusaha Thailand, kepercayaan dan keandalan lembaga agama di negara tersebut, dan dukungan dari pemerintahnya.

Membaca besaran peluang tersebut, pada 25 Desember 2017, NFI, yang diwakili oleh Presiden Yongvut Saovapruk, dan Dewan Islam Pusat Thailand (CICOT) serta diperantarai oleh Sekretaris Jenderal Pol. Jenderal Surin Palarae, telah dilakukan penandatanganan Memorandum of  Understanding (MoU) tentang kerja sama antara para ahli, standar halal serta para peneliti & pengembang industri halal Thailand, di Thai Food Heritage, National Food Institute.

Penandatanganan MoU ini bertujuan meningkatkan dan memperkuat industri makanan halal di Thailand dan membantu produk makanan halal Thailand agar mendapatkan penerimaan baik di negara-negara Muslim maupun non-Muslim.

Industri halal Thailand merambah sektor manufaktur

Saat ini, industri halal Thailand telah berkembang  dan merambah ke berbagai sektor manufaktur lainnya seperti farmasi, kosmetik, peralatan mandi dan peralatan medis, serta di sektor jasa seperti logistik, pembiayaan, perbankan dan pariwisata.

Namun demikian, makanan halal tetap menjadi produk dengan pangsa terbesar dan potensi terbesar. Pada 2016, total sumbangan produksi makanan halal mencapai 61 persen secara keseluruhan dari industri halal.

Sedangkan tujuan eksportir makanan halal yang utama di dunia bukanlah negara Muslim, tetapi beberapa negara non-muslim, seperti Amerika Serikat, Brasil, Belanda, Cina, dan Jerman.

Hal itu mengindikasikan bahwa industri makanan telah mendapatkan penerimaan yang meningkat bahkan di antara konsumen non-Muslim. Dengan demikian, makanan halal telah menjadi salah satu sektor pasar yang tumbuh paling cepat, khususnya 2010-2015, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 8 persen.

Negara non-muslim melirik industri halal

Ada beberapa faktor, mengapa negara-negara non Muslim tertarik mengembagkan industri makanan halal. Pertama, didorong oleh populasi penduduk Muslim yang mencapai lebih dari 2 miliar orang di seluruh dunia, atau sekitar 28,3 persen dari populasi dunia.

Selain itu, juga karena produk makanan halal dianggap memiliki kualitas tinggi dan diproduksi di bawah kondisi yang aman dan bertanggung  jawab sesusai dengan peraturan dan prosedur.

Selanjutnya, Organisasi Kerjasama Islam (OIC), yang terdiri dari 57 negara Islam, juga telah berpartisipasi dengan mengimpor lebih dari USD 164 miliar produk makanan ke seluruh dunia pada tahun 2014.

Jumlahnya dilaporkan tumbuh 16 persen per tahun selama lima tahun terakhir ini, lebih tinggi dibanding dengan tingkat pertumbuhan tahunan dari pasar makanan secara keseluruhan, yang hanya tumbuh sekitar 10 persen per tahun. (*)

 

Reporter : Emha S. Asror Editor : Ahmad Kholil