Selasa, 21 Mei 2019
17 Ramadan 1440 H
Home / Artikel / Teladan dari Perilaku Hutang Rasulullah
FOTO | Dok. istimewa
Ternyata ada barakah dalam transaksi hutang, baik hutang karena jual beli (al bay ila ajal) maupun hutang karena pembiayaan modal usaha (muqaradhah). Seperti apakah hutang yang membawa barakah itu?

Sharianews.com. Rasulullah pernah berhutang kepada Yahudi untuk keperluan konsumtif. Beliau pernah menggadaikan baju perangnya kepada seorang Yahudi yang bernama Abu Syahm demi untuk membeli gandum yang akan beliau makan bersama keluarganya. Sampai wafatnya, Rasulullah SAW tidak sempat melunasi hutang tersebut hingga pada akhirnya Ali ibn Abi Thalib yang membayarkannya.

Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya sebagai berikut:

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, ia berkata, telah bercerita kepada kami Jarir, dari al-A’masy, dari Ibrahim, dari al-Aswad, dari Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah Saw pernah membeli makanan dari seorang Yahudi (Abu Syahm) dan menggadaikan baju perangnya kepada Yahudi tersebut”.

Hadits lain menyatakan bahwa ada barakah dalam hutang. Dari Suhaib ar-Rumi r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual.” (HR Ibnu Majah). Sanad Hadits tersebut dha’if. Hadits tersebut diungkap di Kitab Bulughul Maram min Adillat al Ahkam dan Kitab Subulussalam.

Hadits tersebut menyuratkan bahwa ada barakah dalam transaksi hutang, baik hutang karena jual beli (al bay ila ajal) maupun hutang karena pembiayaan modal usaha (muqaradhah). Dalam hutang atau pembiayaan, ada kebaikan, membantu sesama, memudahkan urusan orang lain.

Hadits tersebut terkuatkan oleh dalil nash pada Alquran Surat al Baqarah ayat 282 yang mengatur adab berhutang, yakni, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah (Bermuamalah ialah seperti berjual beli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya) tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya, dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar, dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan-mendektekan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau Dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa, Maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kita diperbolehkan atau bahkan disarankan untuk memberikan kelebihan dalam pinjaman atau hutang. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Raafi’ bahwasanya Rasulullah SAW pernah meminjam dari seseorang unta yang masih kecil. Lalu ada unta zakat yang diajukan sebagai ganti. Rasulullah SAW lantas menyuruh Abu Raafi’ untuk mengganti unta muda yang tadi dipinjam. Abu Raafi’ menjawab, “Tidak ada unta sebagai gantian kecuali unta yang terbaik (yang umurnya lebih baik, -pen).” Rasulullah SAW kemudian menjawab, “Berikan saja unta terbaik tersebut padanya. Ingatlah sebaik-baik orang adalah yang baik dalam melunasi hutangnya.” (HR. Bukhari No. 2392 dan Muslim No. 1600).

Dari hadits di atas para ulama mengatakan bahwa sah-sah saja untuk berhutang karena Rasulullah SAW dalam hadits di atas melakukannya. Dalil di atas juga menunjukkan bahwa boleh menunaikan hutang lalu mengganti dengan sesuatu yang lebih baik, asalkan tidak dipersyaratkan ada manfaat bagi pemberi hutang. Mengganti yang lebih baik di sini bisa jadi dari sisi sifatnya, bisa jadi pula dari sisi jumlah.

Tak sedikit pula Hadits yang menyatakan bahaya atau bencana tersebab oleh aktivitas berhutang. Namun, bahaya tersebut insya Allah tak akan terjadi jika kita mematuhi Alquran Surat Al Maidah, ayat 1, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu”. Aqad (perjanjian) yang dimaksud mencakup janji prasetia hamba kepada Allah dan Perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya, termasuk dalam hal berhutang. (*)

 

Oleh: Ahmad Ifham Sholihin