Jumat, 20 September 2019
21 Muḥarram 1441 H
Home / Sharia insight / Teknologi SALIBU: Penghematan Sumber Daya Alam untuk Kesinambungan Keamanan Pangan Masa Depan.
FOTO I Dok. sharianews
Pada Teknologi Salibu, air irigasi tidak dibutuhkan pada saat olah tanah karena teknologi ini tidak memerlukan olah tanah. Pada masa proses ratooning yaitu sebelum dan setelah panen, tanah harus lembab atau pada kondisi kapasitas lapang (field capacity).

oleh: Dr Resfa Fitri Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, FEM, IPB

Sharianews.com, Isu tentang teknologi produksi padi dan keamanan pangan untuk penduduk dunia di masa depan menjadi topik bahasan utama pada Konferensi PAWEES & INWEPF yang diselenggarakan di Nara, Jepang pada tanggal 20-22 November 2018 yang lalu.

Isu ini menjadi menarik karena, berkenaan dengan makin terbatasnya ketersediaan sumber daya di masa depan dan bertambahnya jumlah penduduk dunia, maka teknologi produksi pangan khususnya padi seharusnya menjurus kepada penghematan sumber daya alam tetapi tetap bisa meningkatkan produksi. Hal ini merupakan sebuah tantangan yang diberikan kepada para ilmuwan dan peneliti khususnya yang bekerja di bidang produksi padi.

Dalam Islam sendiri, anjuran untuk melakukan penghematan dan tidak melakukan tindakan mubazir sudah disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti terdapat dalam Surat Al-Isra ayat 27 yang artinya: “Sesungguhnya orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”.

Teknologi Salibu alhamdulillah mampu menjawab semua tantangan tersebut di atas. Teknologi ini ditemukan oleh Ir. Erdiman, seorang peneliti tanaman pangan di Sumatera Barat pada tahun 2010 yang lalu melalui suatu proses penelitian dan pengamatan yang dilakukan secara pribadi. Teknologi Salibu merupakan salah satu inovasi di bidang teknologi penanaman padi yang menggunakan batang bagian bawah dari tanaman padi sebagai penghasil tunas yang merupakan calon tanaman padi berikutnya.

Keunggulan utama dari Teknologi Salibu ini adalah kemampuannya memperpendek umur produksi padi dibandingkan dengan sistem penanaman konvensional, karena teknologi ini tidak membutuhkan waktu untuk olah tanah, penyemaian serta penanaman.Sebagai konsekuensinya, teknologi ini menghemat pemakaian sumber daya antara lain air, tanah, benih dan tenaga manusia, serta ramah lingkungan dan tentu saja menghemat biaya produksi.

Tiga langkah sukses Teknologi Salibu dalam budidaya padi yang direkomendasikan adalah

  • Penanaman tanaman induk (Generasi-1), sesuai cara penanaman padi konvensional, di mana panen dilaksanakan lebih awal satu minggu dibandingkan cara konvensional. Kondisi tanah harus lembab pada saat panen. Apabila tanah terlalui kering harus diairi dengan ketinggian 2-3 cm dari permukaan tanah.
  • Mulai Budidaya Padi Salibu (Generasi-2), yaitu 7 hari setelah panen tanaman induk, dilakukan pemotongan batang bawah setinggi 3-5 cm dari permukaan tanah. Pada saat ini lahan harus bebas dari gulma dan kondisi air tanah minimum (kapasiatas lapang).
  • Pemeliharaan tunas (20-25 hari setelah panen tanaman induk). Beberapa perlakuan dilaksanakan pada periode ini yaitu pemisahan dan penyisipan, pemupukan, penyiangan, dan penguburan jerami sisa batang setelah pemotongan.

Teknologi Salibu dan Penghematan Sumber Daya

Pada pertanaman padi, air irigasi adalah faktor produksi yang sangat penting. Tanpa air yang cukup maka pertumbuhan padi tidak akan berlangsung secara optimal. Pada penanaman padi konvensional, air irigasi dibutuhkan cukup banyak, terutama pada saat persiapan lahan atau olah tanah, dan selama proses pertumbuhan vegetatif.

Sebaliknya pada Teknologi Salibu, air irigasi tidak dibutuhkan pada saat olah tanah karena teknologi ini tidak memerlukan olah tanah. Pada masa proses ratooning yaitu sebelum dan setelah panen, tanah harus lembab atau pada kondisi kapasitas lapang (field capacity).

Padi Salibu membutuhkan air irigasi yang agak banyak, hanya pada saat tunas sudah tumbuh pada bekas batang yang dipotong, dan setelah muncul akar, serta setelah pemupukan. Pada periode ini lahan diairi dengan ketinggian air sekitar 5 cm dari permukaan tanah. Berdasarkan penelitian Erdiman et al (2013), efisiensi pemakaian air irigasi pada tanaman padi Teknologi Salibu 2,5 kali lebih tinggi dari pada tanaman padi konvensional.

Efisiensi pemakaian pupuk pada padi Teknologi Salibu dilaksanakan melalui pembenaman jerami bekas batang padi yang berfungsi sebagai pupuk organik. Mekanisme ini juga berfungsi mengembalikan unsur hara yang hilang setelah panen. Menurut Erdiman et al (2013) pembenaman jerami bekas panen ini dapat mengembalikan pupuk organik sebanyak 20-30%.

Selain air dan pupuk, pemakaian tenaga kerja juga lebih efisien. Hal ini disebabkan padi Teknologi Salibu tidak membutuhkan proses pengolahan tanah, penyemaian dan penanaman. Selain itu, sebagian besar petani di Sumatera Barat khususnya menggunakan tenaga kerja keluarga (family labour) sehingga biaya untuk tenaga kerja bisa dihemat.

Keuntungan Teknologi Salibu Secara Ekonomis

Sedikitnya ada tiga alasan kenapa budidaya padi Teknologi Salibu lebih menguntungkan secara ekonomis dibandingkan budidaya padi konvensional. Pertama, padi Teknologi Salibu menggunakan sumberdaya secara efisien, khususnya benih dan tenaga kerja. Pengadaan benih dan pemakaian tenaga kerja merupakan faktor produksi yang membutuhkan biaya yang cukup besar bagi petani.

Kedua, padi Teknologi Salibu telah terbukti mempunyai produktifitas yang lebih tinggi daripada padi konvensional. Berdasarkan penelitian di beberapa kabupaten di Sumatera Barat, menunjukkan bahwa produktivitas padi Teknologi Salibu meningkat 5-20% dibandingkan padi konvensional (Erdiman et al 2014).

Penelitian ini menggunakan berbagai jenis varitas dan pada lingkungan yang berbeda-beda, sehingga dapat disimpulkan bahwa padi Teknologi Salibu bisa didisseminasikan ke daerah di luar Sumatera Barat. Untuk mendukung proses diseminasi ini, Badan Litbang Kementerian Pertanian telah menerbitkan Manual Padi Teknologi Salibu. Hal yang perlu diperhatikan dalam disseminasi teknologi ini adalah varitas, kondisi lingkungan dan drainase serta teknik bertanam (Abdulrachman et al, 2017).

Alasan ketiga adalah kemampuan padi Teknologi Salibu untuk dipanen beberapa kali untuk satu kali penanaman. Hal ini meningkatkan produktivitas lahan melalui peningkatan Intensitas Tanam. Pengalaman di Sumatera Barat menunjukkan bahwa padi Salibu dapat dipanen lima kali berturut-turut selama 22 bulan, yang memproduksi 40,5 ton beras (Gambar 1). Teknologi ini telah mampu meningkatkan Intensitas Tanam padi di Indonesia menjadi 2,5 per tahun dengan produktifitas 22,1 ton/ha/tahun (Erdiman et al 2014). Sebagai perbandingan tanaman padi konvesional mempunyai Intensitas tanam 2,0 per tahun dengan produktivitas 13 ton.ha/tahun (Kusnadi, 2017).

 Gambar 1. Produktivitas Padi Salibu (ton/ha) pada Tanaman Induk dan 5 generasi selanjutnya (Erdiman et al 2014).

Menggunakan indikator produktivitas seperti disebutkan di atas, maka dapat diturunkan beberapa indikator profitabilitas, seperti terangkum pada Tabel 1 berikut.

Keuangan Syariah untuk Pengembangan Pertanian

Padi Teknologi Salibu berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia sebagai upaya kemanan pangan dalam negeri.Sayangnya, pembiayaan sektor pertanian saat ini masih mendapat sedikit perhatian untuk pengembangannya dari institusi keuangan karena memiliki risiko yang tinggi dan aturan main kredit yang kaku.Sedangkan lembaga keuangan konvensional menerapkan banyak biaya dan bunga (interest) sebagai antisipasi kerugian dari pembiayaan untuk pertanian.

Lembaga Keuangan Syariah (LKS) memiliki peran yang strategis sebagai lembaga intermediasi antara pasar uang dengan dunia ekonomi riil, khususnya pertanian. Karena keuangan syariah bebas bunga dan memiliki prinsip bagi hasil dan risiko yang adil bagi pemilik modal dan petani.Salah satu akad dalam keuangan syariah yang sesuai untuk pengembangan pertanian Padi Teknologi Salibuadalah akad Salam (pengiriman yang ditangguhkan).

Akad salam telah banyak diterapkan untuk pembiayaan pertanian seperti di Sri Lanka, Sudan, Afghanistan, dan Indonesia.Dalam mekanisme salam ini, petani diberi uang pembiayaan di muka sebagai dana penjualan hasil panen dengan harga yang telah disepakati dan syarat bahwa petani akan menyerahkan hasil panennya kepada lembaga keuangan syariah kemudian.

Selanjutnya, dana pembiayaan ini dapat digunakan petani untuk membeli kebutuhan menanam padi seperti irigasi dan membeli bibit. Dikarenakan transfer barangnya tidak di waktu yang sama, pemilik modal atau LKS dapat meminta adanya jaminan dari petani. Muslim Aid misalnya, sebuah lembaga mikrokeuangan syariah, menerapkan adanya penjamin dari masjid setampat atau tokoh masyarakat sebagai kolateral setempat atau tokoh masyarakat lokal.

Saat panen tiba, petani menyerahkan hasil panennya ke LKS atau pemilik modal lainnya sebagai upaya memenuhi perjanjian di awal. Saat menyerahkan hasil panen, petani juga bisa ikut menyisihkan sebagian hasil panennya untuk zakat melalui LKS.

Selain itu, pemilik modal atau LKS dapat bekerja sama dan menerapkan prinsip bagi hasil dengan penggilingan padi setempat untuk mengolah gabah dan menjual hasilnya ke pasar. Keuntungan yang diperoleh pemilik modal atau LKS dapat digunakan sebagai revolving fund atau perputaran uang bagi petani-petani yang lain.

Model skema pembiayaan ini akan sesuai diterapkan untuk pengembangan Padi Teknologi Salibu. Karena dapat menguntungkan petani, LKS, dan lingkungan sosial melalui pemberian jaminan (guarantor) dari masjid atau amil. (*)

 

Oleh: Dr Resfa Fitri

Tags: