Minggu, 17 Oktober 2021
11 Rabi‘ al-awwal 1443 H
Home / Keuangan / Tantangan Industri Keuangan Syariah di Tahun Eskalasi Politik
-
Akankan eskalasi politik jelang Pilpres 2019 berpengaruh signifikan terhadap industri keuangan syariah? Inovasi dan strategi apa yang harus dilakukan?

Akankan eskalasi politik jelang Pilpres 2019 berpengaruh signifikan terhadap industri keuangan syariah? Inovasi dan strategi apa yang harus dilakukan? 

Sharianews.com, Jakarta. Memasuki tahun eskalasi politik Pilpres 2019, industri keuangan syariah harus mulai bersiap untuk menjawab tantangan boleh akan semakin besar. Sebab menurut Muhammad Nur Rianto Al Arif, Dosen Ekonomi Syariah Universitas Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dipastikan eskalasi politik sedikit banyak akan mempengaruhi industri keuangan syariah.

Muhammad Nur Rianto Al Arif mengatakan, bahwa menjadikan perbankan syariah sebagai suatu  solusi sistem keuangan keumatan, di tengah tahun politik yang cenderung labil, jelas merupakan tantangan tersendiri bagi praktisi perbankan syariah.

“Apabila merujuk pada data market share, industri perbankan syariah hanya berkisar 5 persen. Dengan market share yang masih sedikit ini kehadiran industri perbankan syariah belum mampu menjadi penentu dalam perekonomian. Sehingga tantangan terbesar bagi industri perbankan syariah saat ini adalah bagaimana menaikkan market share dari industri perbankan nasional, agar mampu menjadi salah satu penentu dalam sistem perekonomian,” ujar Al, panggilan akrab dosen yang ditemui di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (12/07).

Menurutnya, meski sama dengan tahun-tahun sebelumnya, hingga saat ini belum ada satupun partai politik menjadikan industri keuangan syariah sebagai salah satu produk kampanyenya. Perbankan syariah atau industri keuangan syariah harus berjuang meyakinkan pemerintah terpilih bahwa industri keuangan syariah bisa menjadi suatu sistem ekonomi alternatif.

Karena itu, “Pemerintah yang terpilih ke depannya, mestilah bersedia melanjutkan perkembangan industri keuangan syariah sesuai dengan roadmap yang telah disusun oleh pemerintah sebelumnya,” tuturnya.

Tetap ada optimisme

Terlepas dari masih adanya kelemahan pada industri keuangan syariah, optimisme di industri keuangan syariah akan selalu ada. "Perkembangan industri keuangan syariah toh tidak hanya bertumpu pada industri perbankan syariah. Masih ada faktor lain," ujarnya. 

“Meski masih ada kelemahan, hal tersebut tidak menjadikan kita kemudian harus meninggalkannya. Seluruh stakeholder harus bersama-sama menyempurnakan kelemahan yang terdapat pada industri keuangan syariah, bukan menjadi bagian yang melemahkan.” Ujar dosen yang juga editor Jurnal Iqtishad Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah ini.

Al mengatakan regulator harus mampu membuat suatu kebijakan yang revolusioner untuk meningkatkan peran industri keuangan syariah. 

Jika belum ada kebijakan revolusioner yang lahir maka pertumbuhan industri keuangan syariah akan sama seperti dengan tahun-tahun sebelumnya.

Karenanya, ia berharap pemerintah perlu terus mengevaluasi kebijakan yang kontra-produktif dan menyusun suatu kebijakan yang revolusioner.

“Salah satu kebijakan kontra-produktif ialah kebijakan spin-off unit usaha syariah untuk menjadi bank umum syariah, dimana kebijakan ini dilakukan pula pada industri asuransi syariah,” katanya.

Sebab menurutnya, berdasarkan  beberapa kajian menunjukkan bahwa justru kebijakan spin-off ini merupakan hal yang kontra-produktif dalam meningkatkan kinerja, terutama pada unit usaha syariah yang dimiliki oleh Bank Pembangunan Daerah.

Pikirkan kemungkinan merger

Di lain pihak, Al juga menyebutkan salah satu kebijakan yang dapat dilakukan untuk mendorong perkembangan industri perbankan syariah yang signifikan adalah merger beberapa unit usaha syariah menjadi bank umum syariah. Akuisisi unit usaha syariah oleh Bank Umum Syariah besar serta konversi salah satu bank Badan Umum Milik Negara menjadi bank umum syariah.

Ada beberapa yang perlu dilakukan oleh para pelaku industri keuangan syariah sehingga mampu menstabilkan sistem ekonomi, selain keharusan sinergitas dengan seluruh pihak terkait dalam proses edukasi dan sosialisasi tentang  industri keuangan syariah kepada masyarakat.

“Hal-hal yang perlu dilakukan oleh pelaku industri keuangan syariah ialah harus mampu membuat suatu produk inovatif yang diminati oleh masyarakat,"ujarnya.

Saat ini salah satu tantangan industri keuangan syariah ialah kurangnya produk inovatif. Selain itu, para pelaku industri keuangan syariah harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa keuangan syariah merupakan solusi atas ketidakstabilan sistem ekonomi saat ini.*

Reporter : Agustina Permatasari

Editor : Ahmad Kholil