Sabtu, 19 Oktober 2019
20 Ṣafar 1441 H
Home / Sharia insight / Tantangan Ekonomi Islam untuk Kemaslahatan
Berbeda dengan ilmu ekonomi yang dibangun dengan model empiris, disusun berdasarkan fakta dan data, ajaran dalam ekonomi Islam berasal dari ayat-ayat yang terdapat dalam kitab suci Alquran.

Sharianews.com, Ekonomi Islam  secara sederhana dapat dimaknai sebagai ilmu ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai Islam dengan tujuan mencapai kemaslahatan (kondisi terbaik) sebagaimana tujuan syariah yang dikenal dengan maqashid syariah (Maqashid dalam bahasa arab berarti tujuan sehingga maqashid syariah artinya adalah tujuan syariah).

Berbeda dengan ilmu ekonomi yang dibangun dengan model empiris, disusun berdasarkan fakta dan data, ajaran dalam ekonomi Islam berasal dari ayat-ayat yang terdapat dalam kitab suci Alquran. Sehingga, secara otomatis nilai-nilai dalam ekonomi Islam merupakan bagian dari ajaran Islam. Bahkan ayat-ayat yang terkait dengan ekonomi juga disampaikan sebagian besar dalam bentuk perintah maupun larangan beserta implikasinya di dunia dan akhirat.

Sebagai contoh misalnya dalam surat an-Nisaa ayat 29 disebutkan: “Hai orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil”, ayat ini merupakan salah satu contoh larangan sedangkan ayat lain dalam surat at Taubah ayat 103, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka...’, ayat tersebut menunjukkan sebuah perintah yang harus dilaksanakan.

Salah satu perintah dalam Alquran yang memiliki dampak dalam perekonomian adalah infak, sedekah, zakat dan wakaf yang dikenal juga dengan keuangan sosial Islam yang dalam tulisan ini selanjutnya disebut infak. Perintah untuk melaksanakan infak diantaranya terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 267 “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan untukmu”. Perintah untuk menafkahkan rezeki ini juga ditemukan dalam ayat lain dengan redaksi yang berbeda namun memiliki esensi yang sama yaitu mengajak untuk berinfak, atau berbagi kepada yang lain.

Pada  ayat lainnya perintah untuk menafkahkan harta atau rezeki ini diawali dengan kondisi perbedaan rezeki (misal dalam surat Saba’ 39: “Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik- baiknya”

Menurut apa yang disampaikan ayat ini, sangat jelas bahwa terlepas dari kerja keras dan kerja cerdas seseorang, Allah memberikan rezeki dengan takaran yang berbeda bagi setiap orang. Sebagai contoh dua orang dengan profesi yang sama yaitu sebagai seorang driver. Keduanya berangkat bekerja selesai subuh dan kembali sebelum magrib, terafiliasi dengan perusahaan yang sama, tempat mangkal yang sama, namun memiliki hasil yang berbeda. Perbedaan rezeki inilah yang melatarbelakangi aktivitas saling berbagi baik dalam bentuk infak, zakat, sedekah, wakaf termasuk hadiah.

Lebih ekstrim lagi, perintah untuk menafkahkan rezeki tidak hanya ditujukan kepada mereka yang mampu namun juga kepada mereka yang disempitkan rezekinya, sebagaimana disampaikan pada surat at Thalaaq ayat 7: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya.”

Kembali kepada surah Saba ayat 34 yang menyatakan bahwa Allah mengganti rezeki dari apa yang dinafkahkan menjadi sebuah penawar kerisauan hati untuk berinfak baik dalam kondisi sempit maupun dalam kondisi leluasa, karena janji Allah dalam surat tersebut bahwa rezeki seseorang yang tidak akan berkurang karena bersedekah. Namun perasaan takut miskin sering membuat “galau” pada saat seseorang berinfak sebagaimana disebutkan dalam surat al-Mujadilah ayat 13, “Apakah kamu takut akan menjadi miskin karena kamu memberikan sedekah.....“ Di ayat lain Allah menyebutkan bahwa Ketakutan dan kekhawatiran timbul karena syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripadanya dan karunia. Dan Allah maha luas (Karunia-Nya) lagi Maha mengetahui (QS AlBaqarah :268)

Perintah Allah untuk berinfak selain merupakan ibadah yang dapat meningkatkan kualitas keimanan dan spiritualitas seseorang, juga memiliki dampak sosial dan ekonomi. Dampak sosialnya seperti terjadi ukhuwah antara kelompok kaya dan kelompok miskin sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Dalam perekonomian, peran penting infak dapat meningkatkan taraf hidup kelompok penerima dan pada akhirnya dapat mengurangi kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat. Jika dianalisis dengan teori kuantitas uang meningkatnya perputaran uang akibat aktifitas infak sedekah dan wakaf ini mempengaruhi besaran velositas uang dalam suatu perekonomian.

Semakin tinggi perputaran uang maka semakin tinggi aktifitas perekonomian yang terjadi dan sebaliknya, dan sebaliknya. Nilai velositas uang pernah mencapai titik terendah terjadi pada saat terjadinya Great Depression tahun 1930-an, yang menunjukkan rendahnya transaksi yang terjadi pada saat itu. Uang dalam perekonomian mungkin memiliki kesamaan dengan darah dalam tubuh, salah satu indikator kesehatan seseorang dapat dilihat dari lancar tidaknya peredaran darah. Hal yang sama antara uang dengan perekonomian dan infak salah satu instrumen yang bisa meningkatkan peredaran uang dalam perekonomian.    

Kembali kepada topik awal dari tulisan ini yaitu bicara tentang tantangan ekonomi Islam. Bahwa tujuan mencapai kemaslahatan ataupun masyarakat yang sejahtera melalui ekonomi Islam merupakan suatu keniscayaan jika setiap individu muslim mengindahkan perintah atau larangan khususnya terkait dengan ibadah sosial. Pada jaman Rasulullah para sahabat berlomba-lomba berinfak di jalan Allah dari pendapatan yang diterimanya pada hari tersebut setelah dikurangi kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi karena rasa "takut" ancaman Allah karena menyimpan harta diluar yang dibutuhkan.

 Selain itu mereka juga percaya bahwa mengeluarkan infak merupakan kebutuhan sebagaimana kebutuhan tubuh mengeluarkan kotoran sisa-sisa sari makanan. Bahkan tauladan kita nabi Muhammad, sang kekasih Allah memilih untuk hidup sederhana meskipun memiliki banyak peluang untuk hidup dalam kemewahan. Pada kondisi sekarang masihkah "rasa takut" akan ancaman Allah dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas infak yang kita keluarkan?               

Maka dari semua uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa tantangan terbesar dalam pencapaian kemaslahatan ekonomi ataupun upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan adalah implementasi nyata dari perintah dan larangan-Nya khususnya yang memiliki dampak sosial kemasyarakatan. 

oleh: Ranti Wiliasih