Sabtu, 4 April 2020
11 Sha‘ban 1441 H
Home / Keuangan / Tangkal Virus Corona yang 'Menginfeksi' Ekonomi, Ini Antibiotik dari Pemerintah
FOTO I Dok. wefa.fm
Efek negatif ini juga akan menekan perekonomian Indonesia, mengingat Tiongkok merupakan mitra ekonomi yang besar.

Sharianews.com, Jakarta ~ Pemerintah menerapkan berbagai strategi untuk menangkal dampak dari pertumbuhan ekonomi Tiongkok akibat dari virus corona. Dampak negatif virus corona diperkirakan membuat pertumbuhan ekonomi Tiongkok menurun antara 1,2-1,8 persen.

Efek negatif ini juga akan menekan perekonomian Indonesia, mengingat Tiongkok merupakan mitra ekonomi yang besar. Imbasnya, terjadi penurunan kinerja sektor pariwisata, perdagangan internasional, dan aliran investasi.

Dalam konferensi pers bersama dengan Kementerian Keuangan, Kementerian Pariwisata, dan Kantor Staf Kepresidenan (KSP) di KSP, Jakarta, Kamis, (13/02) bahwa pemerintah berkoordinasi untuk menangkal efek virus corona 'menginfeksi' atau melemahkan perekonomian Indonesia.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan, hal pertama yang dilakukan pemerintah adalah mendirikan pusat informasi (posko) di KSP terkait perkembangan terkini virus corona agar tidak perlu mengonfirmasi tiap Kementerian/Lembaga (K/L).

Sementara itu, menukil sumber resmi Kementerian Keuangan, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Arif Baharudin memaparkan langkah antisipasi antara lain mempercepat belanja K/L terutama bantuan sosial seperti PKH, mendukung pembangunan destinasi wisata, mempercepat belanja padat karya, dan meningkatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) baik dari penerima, plafon maupun kredit tanpa agunan.

"Langkah antisipasi, kita berusaha menjaga konsumsi masyarakat. Pertama kita cepat-cepat realisasi belanja Kementerian/Lembaga (K/L), terutama untuk belanja bantuan sosial seperti PKH dan kesehatan, serta belanja non-operasional,” ucap Arif.

Kemudian juga bisa menghidupkan destinasi wisata yang ada. Kementerian Keuangan mendukung dengan menyiapkan kebijakan fiskal dan nonfiskal untuk menstimulasi sektor pariwisata.

Ketiga, kita mendorong dan mempercepat belanja padat karya untuk kegiatan produktif yang menyerap banyak tenaga kerja, terutama belanja infrastruktur di pusat dan daerah. Lainnya, yaitu mempercepat penajaman program Kredit Usaha Rakyat (KUR), termasuk perluasan sasaran. Misalnya penerima KUR dari 6 juta menjadi 10 juta, plafon dinaikkan serta kredit tanpa agunan juga dinaikkan.

Selain itu, Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Dirjen Bea Cukai Syarif Hidayat mengatakan, antisipasi virus corona di perbatasan seperti di Malaysia, Singapura untuk urusan ekspor-impor sudah berkoordinasi dengan instansi terkait.

Begitu pula koordinasi dengan Angkasa Pura baik di laut maupun udara, aparat penegak hukum, dan lain-lain terhadap barang-barang yang masuk. Sesuai aturan Kemendag, pelarangan hanya terhadap hewan hidup yang berasal dari Tiongkok dan yang transit ke Tiongkok yang dilarang masuk ke Indonesia. Untuk barang-barang lain tidak ada.

Raden Kurleni Ukar atau Nike, Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengatakan bahwa sektor pariwista adalah yang paling terdampak.

Kemenparekraf berkoordinasi dengan maskapai dan Kementerian Keuangan untuk memberi paket insentif yang tepat. Selain itu, Kemenparekraf juga mengimbau kepada seluruh Kementerian/Lembaga untuk melakukan perjalanan dinas di destinasi-destinasi wisata dan meminta media menggencarkan promosi destinasi dalam negeri.

"Untuk mengatasi potential loss, kami mencari strategi membuka pasar-pasar wisata baru. Pak Menteri sudah berkoordinasi dengan maskapai untuk membuka peluang mengisi slot China (Tiongkok) yang ditutup,” tutur Raden.

Kemenparekraf terus berkoordinasi strategi, insentifnya seperti apa apakah perlu diskon. Selain itu, juga ingin membantu industri pariwisata dengan mengusulkan paket insentif dengan Kementerian Keuangan.

“Kami juga mengimbau kepada seluruh Kementerian/Lembaga untuk melakukan perjalanan meeting di destinasi-destinasi wisata. Kami juga ingin media menyebarkan pesan agar memanfaatkan destinasi dalam negeri, jangan pergi ke luar negeri," pungkas Raden. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo