Senin, 16 September 2019
17 Muḥarram 1441 H
Home / Q&A / Take Over ke Bank Syariah

Take Over ke Bank Syariah

Selasa, 1 Januari 2019 02:01
FOTO | Dok. istimewa
Terlanjur memiliki tanggungan dan transaksi dengan bank konvensional dan ingin take over ke bank syariah? BAca terlebih dahulu kasus berikut ini.

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin. Ada kasus, teman Saya terjebak Hutang, di mana sertifikat rumahnya ditahan dan harus menebus sebesar 170jt, dalam kasus ini Bank Syariah apakah bisa bantu Take Over?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi, wabarakatuh.

Roni, tinggal di Jakarta.

Jawab:

Sdr. Roni yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten bertransaksi perbankan hanya di Bank Syariah saja. Amin.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika ingin melakukan take over dari Bank Konvensional ke Bank Syariah.

Pertama, pada prinsipnya, Bank Syariah bisa melakukan take over kredit dari Bank Konvensional. Hal ini sesuai arahan Fatwa DSN MUI No. 31 tentang Pengalihan Hutang. Selain itu ada Fatwa DSN MUI No. 89 tentang Pembiayaan Ulang. Fatwa ini jadi solusi terutama bagi yang terlanjur Kredit Riba.

Silahkan cermati baik-baik tentang berbagai alternatif akad yang bisa dilakukan saat proses take over, sebagaimana yang dijelaskan dalam setiap Fatwa tersebut. Anda tinggal ikut prosedur yang ada di Bank Konvensional dan Bank Syariah dalam rangka proses take over.

Namun, tidak semua kredit dari Bank Konvensional bisa dipindahkan (take over) ke Bank Syariah. Akan tergantung pada aplikasi akad dari produk take over yang dimiliki oleh Bank Syariah. Selain itu, keberadaan agunan Nasabah di Bank Konven juga sangat penting dalam rangka melakukan take over di Bank Syariah. Hal tersebut memudahkan pilihan akad yang bisa dipergunakan untuk take over.

Kedua, persiapkan kembali semua hal yang dibutuhkan dalam rangka pembiayaan di Bank Syariah, termasuk dokumen yang diperlukan dalam proses sampai pembiayaan disetujui. Hal ini disebabkan oleh karena take over dari Bank Konvensional ke Bank Syariah pasti membutuhkan analisis pembiayaan kembali dalam rangka statusnya pindah Bank.

Ketiga, sembari proses take over, pastikan atau upayakan terus agar pembayaran kredit di Bank Konvensional tetap berjalan lancar, tidak jatuh pada kolektibilitas. Hal ini merupakan prosedur wajar bagi setiap Bank Syariah ketika akan memutuskan persetujuan kepada Nasabah pembiayaan.

Perhatikan bahwa Ideb SLIK alias Informasi Debitur Sistem Layanan Informasi Keuangan (yang dulunya disebut BI Checking) merupakan instrumen paling awal penentu disetujui atau tidaknya pembiayaan take over. Instrumen tersebut merupakan indikator awal Nasabah bermental amanah. Oleh sebab itu, teruslah bermental tanggung jawab dalam semua kondisi.

Keempat, persiapkan dana khusus terkait proses take over. Dana ini biasanya digunakan oleh Bank Syariah untuk melakukan rangkaian proses take over. Dana ini biasanya masuk pada pos Biaya, sah dimiliki pihak Bank Syariah.

Kelima, sadari sepenuh hati bahwa kontrak pembiayaan di Bank Syariah adalah kontrak dagang yang sah sesuai Syariah Islam dan legal formal NKRI, bukan kontrak/akad Pinjaman.

Sebagai contoh, ketika outstanding pokok atau sisa kredit di Bank Konvensional adalah 100jt ditambah beberapa bulan angsuran bunga dan penalty, maka jangan bayangkan akad di Bank Syariah adalah akad pinjaman atas 100jt tadi. Pasti akadnya adalah dagang, sehingga bersiaplah bahwa nanti di Bank Syariah akan ada marjin jika akad jualnya jual beli, atau ada proyeksi bagi hasil jika akadnya kongsi.

Anda harus membaca perjanjian legal di Bank Syariah secara rinci. Oleh sebab itu, selalu tanamkan bahwa kontrak pembiayaan dengan Bank Syariah benar-benar Anda pahami sebelum Anda tanda tangan berkas legal.

Keenam, ikutlah seluruh arahan pihak Bank Syariah. Ketika suatu produk diluncurkan, prosedur dan semua skemanya pasti sudah disetujui oleh Dewan Pengawas Syariah dan pelaksanaannya juga diawasi oleh tim audit serta OJK. Jika Anda tidak paham, bertanyalah kepada pihak yang paham. Jangan sibuk menafsirkan sendiri, apalagi bermodal katanya dan katanya. Lagi-lagi, pahami berkas legalnya.

Ketujuh, tetaplah menggunakan produk Bank Syariah, meskipun akhirnya kredit di Bank Konvensional tersebut tidak dapat ditake over ke Bank Syariah. Minimal dengan cara habiskan saldo di Bank Konvensional dan hanya bertransaksi dengan Bank Syariah saja. Semaksimal mungkin hal tersebut diupayakan.

Berdasarkan pada uraian di atas dan mengacu pada studi kasus yang Anda alami, maka take overlah ke Bank Syariah. Jika mengalami kesulitan atau kesempitan dalam proses take over, tetap teruslah bayar kewajiban di Bank Konvensional, meskipun harus membayar pokok dan bunga. Itu sebagai bukti kita taat aturan NKRI, negara tempat kita tinggal.

Demikian uraian singkat tentang take over di Bank Syariah. Insya Allah barakah. Amin. Wallahu a'lam. (*)

 

Sharia Corner | Diasuh oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin