Minggu, 7 Juni 2020
16 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Tahun 2018, Tahun Kebangkitan Bank Syariah
-
Tahun 2018 ini adalah tahun kebangkitan bagi BUS dan UUS, setelah melakukan konsolidasi selama kurun 2016-2017. Saatnya mulai ekspansi di sektor pembiayaan.

Tahun 2018 ini adalah tahun kebangkitan bagi BUS dan UUS, setelah melakukan konsolidasi selama kurun 2016-2017. Saatnya mulai ekspansi di sektor pembiayaan. 

Sharianews.com, Jakarta.  Pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia menunjukkan tren positif. Hal dapat terbaca dari Pemaparan Kinerja Semester I 2018, bank-bank syariah di Indonesia, terutama dari kelompok Bank Umum Syariah (BUS) yang rata-rata menunjukkan kinerja positif. Hal yang sama juga terlihat dari  kelompok Unit Usaha Syariah (UUS).

Menanggapi hal ini, Dhani Gunawan Idhat, Pemerhati Perbankan dan Ekonomi Islam dari Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), yang juga Advisor Bidang Pengendalian Kualitas Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengatakan, tahun 2018 ini memang sudah seharusnya menjadi tahun kebangkitan dari Bank Syariah Umum (BUS), setelah melakukan konsolidasi selama kurun 2016-2017.

“Sebagaimana kita ketahui,  non performing financial (NPF) BUS mulai memburuk di tahun 2015, sehingga dua tahun berikutnya 2016-2017 secara uumum merupakan pembenahan untuk memulihkan NPF, yang sebelumnya membuat kinerja BUS menurun,”ujarnya kepada sharianews.com, Rabu (8/8)/

Menurutnya,  tingginya nilai NPF yang berakibat pada penurunan kinerja BUS di periode 2015 adalah karena adanya pelemahan di sektor investasi  pertambangan dan perdagangan umum, sehingga berimbas pada anjloknya return on Asset (ROA) BUS.

Sementara untuk Unit Usaha Syariah (UUS), dinilainya lebih memperlihatkan kinerja yang stabil, meskipun pada sisi pembiayaan pada perdagangan umum juga sedikit  terpengaruh  oleh pelambatan ekonomi  nasional  pada periode 2014 sampai dengan 2017.

“Mudah-mudahan tahun 2018 ini, BUS  sudah mulai berekspansi  di  sektor pembiayaan, sehingga bisa memperbaiki  kinerja dan mutu bisnisnya,” ujarnya.  

3 hal yang harus ditingkatkan   

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja positif perbankan syariah di semester  I  ini? Menjawab hal ini, Dhani Gunawan menyebutkan setidaknya ada tiga hal yang harus ditingkatkan oleh BUS dan UUS.

Pertama,  harus mempersiapkan kecukupan cadangan penghapusan aktiva produktif yang  non-lancar (CKPN), sehingga dapat mengurangi penggerusan rasio modal. Itu artinya mekanisme penagihan pinjaman tidak lancar harus diperbaiki. “Dalam Islam aturan mengenai pembayaran hutang tertunggak atau tidak lancar sudah sangat jelas,”ujar Dhani.    

Kedua, membenahi kompetensi  sumber daya insani ( SDI).  Ini penting  agar lebih optimal dan lebih baik dalam aspek  tata kelola  dalam semua  aspeknya. Termasuk dalam hal pembiayaan, harus dilakukan perbaikan dari  sisi mutu analisa, pemantauan, dan penagihan pembiayaan.

Ketiga, mengevaluasi dan membenahi  strategi  bisnis yang tepat,  agar BUS dan UUS memiliki sasaran pembiayaan yang optimal sesuai dengan kapabilitas bank dan kompetensi  SDI.

Menurutnya, jika melihat perkembangan  dan dinamika  kinerja BUS dan UUS  selama 10 tahun terakhir, “ Maka  strategi bisnis yang sesuai adalah segmen retail  dan properti,” ujarnya.

Kinerja positif BUS dan UUS

Seperti diberitakan sebelumnya, di laman sharianews.com, Selasa  (7/8), beberapa  bank syariah dari kelompok BUS dan UUS, umumnya menunjukkan kinerja positif.

Kinerja dari tiga BUS, yaitu  Bank BNI Syariah, BCA Syariah, dan Bank Syariah Mandiri serta dua UUS, yaitu Bank Danamon Syariah dan CIMB Niaga Syariah, misalnya dilaporkan menunjukkan kinerja positif, antara lain dari  sisi nilai asetnya di semester I 2018.

PT Bank BNI Syariah misalnya, mencatatkan kenaikan signifikan dari sisi asetnya.  Direktur BNI Syariah Dhias Widhiyati, menyebut sampai dengan bulan Mei 2018 total aset BNI Syariah mencapai Rp 39,7 triliun. Jumlah tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 31,5 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Sementara itu,  Prisiden Direktur BCA Syariah, John Kosasih dalam Pemaparan Kinerja Semester I 2018 Bank BCA Syariah, juga menyatakan bahwa aset BCA Syariah secara tahunan meningkat sebesar 18, 6 persen secara  year on year (yon) atau menjadi  Rp 6,4 tirliun, dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 5,4 triliun.

Pertumbuhan aset perusahaan sebesar dua digit ini, salah satunya didukung oleh peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp 5,2 triliun atau tumbuh sebesar 21,8 persen dibanding posisi  Juni 2107 sebesar Rp 4,2 triliun.

Kinerja  positif juga dialami oleh PT. Bank Syariah Mandiri (BSM). Direktur Utama PT Bank Syariah Mandiri (BSM), Toni  EB Subari, memaparkan,  kinerja BSM mencatatkan pertumbuhan positif di semester  I 2018. BSM membukukan laba bersih Rp 120,68 miliar pada kuartal I-2018. Laba tersebut naik 33,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 90,26 miliar.

Menurutnya,  perolehan laba kuartal I-2018 ini diperoleh dari peningkatan pembiayaan yang tumbuh 10,47 persen  menjadi Rp 61,22 triliun, dibandingkan Rp 55,42 triliun periode sebelumnya.

Kinerja UUS  juga bergerak positif

Di lain pihak, kinerja beberapa UUS juga memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan. Direktur Syariah dan Operasional  Bank Danamon , Herry Hikmanto, dalam Paparan Kinerja Bank Danamon Semester I 2018 di Jakarta, juga menjelaskan hingga semester pertama 2018, total financing  Danamon Syariah tumbuh 13,3 persen  atau senilai Rp  400 miliar.

Danamon Syarian membukukan total dana pihak ketiga (DPK)  tumbuh sebesar 12,8 persen. Selain itu, Danamon syariah juga mencatatkan laba bersih sebesar  Rp 151 miliar.

Tidak ketinggalan, Unit Usaha Syariah PT Bank CIMB Niaga Tbk. (CIMB Niaga Syariah) juga mencatatkan kinerja positif sepanjang paruh pertama tahun 2018, didorong oleh sektor infrastruktur dan pembiayaan perumahan.

Keberhasilan tersebut antara lain tercermin dari pertumbuhan indikator keuangan utama seperti pembiayaan, dana pihak ketiga, dan laba sebelum pajak.

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara menyatakan, penyaluran pembiayaan hingga Juni 2018 tumbuh sekitar 54 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Pertumbuhan tahunan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan pada Juni 2017 sebesar 33 persen, secara year on year (yoy).

Terkait peningkatan DPK yang dibukukan oleh BUS dan UUS, ini Dhani Gunawan menyatakan sesuatu perkembangan yang positif. Karena hal ini bisa menandakan adanya kesadaran literasi perbankan syariah yang semakin membaik di kalangan masyarakat muslim.

“Meski begitu, hal ini harus dibarengi dengan perbaikan dari sisi strategi bisnis. Juga pemilihan yang tepat di sektor pembiayaannya, sehingga dapat membantu mendongkrak kinerja perbankan Islam secara keseluruhan,”pungkasnya.  (*)

Ahmad Kholil