Senin, 30 Maret 2020
06 Sha‘ban 1441 H
Home / Keuangan / Sudah 56 BWM Berdiri, Total Pembiayaan Capai Rp36,6 Milyar
FOTO I Dok. pexels.com
BWM sendiri memang didirikan untuk menyediakan akses pembiayaan bagi masyarakat kecil yang belum memiliki akses pada lembaga keuangan formal.

Sharianews.com, Lombok ~ Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya untuk meningkatkan inklusi keuangan, khususnya untuk masyarakat kecil melalui Bank Wakaf Mikro (BWM). BWM sendiri memang didirikan untuk menyediakan akses pembiayaan bagi masyarakat kecil yang belum memiliki akses pada lembaga keuangan formal.

Baca juga: Diresmikan Wapres, BWM di Lombok Salurkan Pembiayaan Rp335 Juta

OJK mencatat, saat ini sudah ada 56 Bank Wakaf Mikro (BWM) yang sudah beroperasi sejak program ini diluncurkan pada Oktober 2017.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso menyampaikan, sampai Januari 2020, 56 BWM sudah tersebar di 18 provinsi dan sudah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp36,6 milyar untuk 27.871 nasabah yang terdiri dari 3.511 kelompok.

OJK diamanatkan undang-undang sebagai regulator di sektor jasa keuangan harus memiliki peran dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, antara lain melalui penyediaan akses keuangan.

"Dengan memberikan akses pembiayaan yang mudah dan murah bagi pelaku usaha mikro kecil yang belum terjangkau akses keuangan formal, program Bank Wakaf Mikro turut mendukung program pemerintah untuk meningkatkan inklusi keuangan," kata Wimboh, di Lombok, Kamis (20/2).

Program Bank Wakaf Mikro merupakan sinergi atau kerja sama antara OJK, para donatur, Laznas, dan tokoh masyarakat setempat, pimpinan pondok pesantren atau lembaga pendidikan tradisional. Program Bank Wakaf Mikro juga merupakan sarana bagi pondok pesantren mengoptimalkan peran dalam dakwah ekonomi dengan menyediakan pendampingan usaha bagi masyarakat kecil di sekitar pondok pesantren.

Skema dalam Bank Wakaf Mikro dirancang sesuai kebutuhan dan kemampuan masyarakat kecil yang didorong untuk berpeluang mendapatkan pembiayaan yang lebih besar dari lembaga jasa keuangan lain sesuai skala usahanya.

Pembiayaan diberikan tanpa bagi hasil, hanya membayar biaya administrasi sebesar 3 persen per tahun dan nasabah tidak perlu memberikan agunan/ijin usaha. Cukup dengan melengkapi dokumen administratif seperti KK/ KTP, serta mengikuti Pelatihan Wajib Kelompok (PWK) selama lima hari berturut-turut. Kelompok nasabah yang lulus PWK akan tergabung dalam satu Kelompok Usaha Masyarakat sekitar Pesantren Indonesia (KUMPI).

Dengan pembiayaan yang murah dan mudah ini, nasabah hanya memiliki kewajiban untuk mengangsur sekitar Rp20 ribu per minggunya. Calon nasabah dan nasabah juga tidak akan dilepas begitu saja, tetapi ada pemberdayaan dan pendampingan, baik pengembangan usaha kecil, manajemen ekonomi rumah tangga maupun peningkatan kapasitas dan ruhiyah seluruh nasabah Bank Wakaf Mikro melalui Halaqoh Mingguan (HALMI).

OJK mendorong pengurus dan pengelola BWM untuk berperan aktif dalam menjaring nasabah-nasabah potensial di lingkungan sekitar pondok pesantren dan mulai memanfaatkan teknologi seperti e-commerce untuk memasarkan produk, meningkatkan kapasitas pelayanan, maupun mengembangkan usaha Bank Wakaf Mikro. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo