Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H
FOTO | Dok. www.indotravelers.com
Banyak negara Islam seringkali malah memperlihatkan ketidakadilan, korup, dan menjadi daerah yang terbelakang dalam berbagai bidang.

Sharianews.com, Jakarta. Berdasar sebuah studi yang dipublikasikan di The Global Economy Journal, Hossein Askari, Profesor pada Sekolah Bisnis dan Urusan Internasional di George Washington University, Amerika Serikat, mengatakan bahwa ajaran dan nilai keislaman justru lebih terlihat di masyarakat Barat dari pada di negara-negara Islam sendiri.

Guru Besar kelahiran Iran ini melanjutkan, penilaian ini merujuk pada seberapa dekat kebijakan dan pencapaian negara yang mencerminkan ajaran ekonomi Islam. Sementara di antara empat dari 10 negara peringkat teratas diduduki negara-negara Skandinavia, yakni Finlandia, Swedia, Norwegia, dan Denmark.

“Penelitian dilakukan di 208 negara dan wilayah. Hasilnya, selain negara-negara Skandinavia, wilayah teratas dalam pencapaian ekonomi dan nilai sosial Islam adalah Irlandia, Luksemburg dan Selandia Baru. Inggris juga masuk dalam daftar sepuluh besar,”sambungnya sebagaimana dinukil dari The Telegraph.

Sedangkan negara-negara dengan mayoritas berpenduduk Islam hanya mampu berada di posisi 50 besar, dengan di posisi tertinggi Malaysia hanya menduduki peringkat 33 di 2014, dan turun lima tingkatan menjadi 38 pada 2016. Sementara Kuwait pada urutan 48 serta yang paling mengagetkan Saudi Arabia menempati rangking 131.

Agama sebagai instrumen pengontrol

Mengomentari hasil penelitian, Askari menjelaskan, negara-negara Muslim masih menggunakan agama sebagai instrumen untuk mengontrol dan menguasai negara. Banyak negara Islam seringkali malah memperlihatkan ketidakadilan, korup, dan menjadi daerah yang terbelakang dalam berbagai bidang.

“Negara-negara Islam telah gagal untuk mengimplementasikan nilai-nilai kepercayaan agama mereka sendiri dalam politik, bisnis, hukum dan masyarakat,”papar Askari.

Askari menambahkan, negara Islam tidak disebut islami jika baik pemerintahan atau masyarakatnya menampilkan karakteristik korup, saling menindas, ketidakadilan dan ketidaksetaraan di hadapan hukum, ketimpangan dalam pembangunan manusia, tidak adanya kebebasan memilih termasuk urusan agama, dan bermewah-mewahan di atas kemiskinan.

“Termasuk bukan dari nilai islami lagi ialah lebih menonjolkan kekuatan dan agresi sebagai instrumen resolusi konflik dibanding dengan dialog dan rekonsiliasi, serta meratanya ketidakadilan dalam bentuk apapun dan semacamnya,”sambungnya.

Askari menegaskan, melakukan kewajiban agama memang hak setiap elemen masyarakat di mana pun. Namun, apabila tidak menempatkan etika Islam dalam tindakan dan praktik, korupsi akan menjadi merajalela, dan kerusakan akan terjadi di kemudian hari.

“Mengutip kata-kata dari novelis Irlandia Lord Bernard Shaw, ‘Islam adalah agama terbaik dan umat Islam adalah pengikut terburuk’,” pungkasnya.(*)

 

Reporter: Emha S Ashor Editor: Ahmad Kholil