Sabtu, 28 November 2020
13 Rabi‘ at-akhir 1442 H
Home / Ziswaf / Strategi Pengembangan Wakaf

Strategi Pengembangan Wakaf

Sabtu, 10 Oktober 2020 16:10
Foto dok. Kemenag
peningkatan literasi wakaf penting dalam upaya mengoptimalkan pengembangan wakaf

Sharianews.com, Jakarta - Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin menyampaikan peningkatan literasi wakaf penting dalam upaya mengoptimalkan pengembangan wakaf.

 “Oleh karena itu, Kemenag melalui strategi menuju gerakan wakaf inklusif melakukan beberapa langkah yaitu meningkatkan literasi wakaf masyarakat, menyesuaikan regulasi wakaf, memperkuat standar kompetensi nazir, mengembangkan instrumen wakaf serta memperluas kerja sama dalam rangka memproduktifkan aset masyarakat,” jelas Kamaruddin, dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) Virtual 2020, Kamis (08/10).

Optimalisasi pengembangan wakaf menjadi aset produktif memberikan banyak manfaat dalam perekonomian. Hal itu diungkapkan Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Mohammad Nuh yang mencontohkan salah satu bentuk implementasi pengelolaan wakaf produktif dari wakaf linked Sukuk senilai Rp 51 milar adalah pengembangan retina dan glaucoma center.

Dikesempatan yang sama, penandatangan komitmen wakaf tersebut dilakukan dalam High Level Seminar on Waqf “Akselerasi Gerakan Wakaf Menuju Indonesia Maju” pada hari ini (08/10) secara virtual. Rangkaian kegiatan tersebut merupakan bagian dari pekan wakaf dalam rangka ISEF Virtual 2020, dan akan mencapai puncaknya pada 27 - 31 Oktober 2020.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng menyampaikan bahwa untuk lebih mengoptimalkan wakaf di Indonesia, terdapat lima langkah yang perlu diambil.

Pertama, perlunya perubahan mindset dan peningkatan literasi. Misalnya, pemahaman bahwa wakaf tidak hanya tanah dengan peruntukan yang terbatas, namun dapat bermacam-macam bentuk termasuk tunai.

Kedua, inovasi produk wakaf menjadi social-commercial financing. Pada maret 2020, BI, Kementerian Keuangan dan BWI telah meluncurkan Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS)[2]. Ket yang merupakan instrument penempatan dana pada Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Ketiiga, penguatan ekosistem rantai nilai halal (halal value chain) sebagai objek wakaf produktif dan kredibel, antara lain melalui pesantren dan UMKM syariah.

Keempat, transparansi dalam keseluruhan proses wakaf mulai dari penyaluran dari wakif kepada nazhir, sampai dengan penggunaannya untuk sektor produktif.

Kelima, digitalisasi dalam mekanisme penyaluran wakaf, baik untuk tujuan sosial maupun integrasi social-commercial dalam CWLS, antara lain melalui pemanfaatan QRIS (QR Code Indonesian Standard) dalam penyaluran wakaf.

Rep. Aldiansyah Nurrahman