Sabtu, 11 Juli 2020
21 Thu al-Qa‘dah 1441 H
Home / Ekbis / Strategi Industri Pariwisata Halal Agar Bisa Bertahan di Tengah Pandemi
Foto dok. Konevi/Pexels
Industri pariwisata menjadi salah satu sektor yang terdampak Covid-19, tidak terkecuali industri pariwisata halal. Meski begitu, sebagai seorang muslim tetap harus optimis bahwa pariwisata halal mampu bangkit.

Sharianews.com, Jakarta - Industri pariwisata menjadi salah satu sektor yang terdampak Covid-19, tidak terkecuali industri pariwisata halal. Meski begitu, sebagai seorang muslim tetap harus optimis bahwa pariwisata halal mampu bangkit.

Demikian disampaikan Ketua Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) Riyanto Sofyan. Untuk pariwisata halal, ia memaparkan strategi agar industri pariwisata halal mampu bertahan saat situasi pandemi.

Diantaranya adalah overhaul business model. Bongkar pasang bisnis model perlu dilakukan pelaku pariwisata. Ia menyampaikan, dalam bisnis pariwisata masih bisa dikatakan berjalan meski dalam keadaan rugi, tapi bisnis pariwisata bisa dikatakan mati kalau arus kasnya macet.

“Di pariwisata yang paling utama adalah manajemen arus kas. Caranya otomatis kita harus merestruktur biaya yang ada, karena sekarang ini, kalau meminta pinjaman tambahan tidak akan mungkin,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Komisatis Utama PT. Sofyan Hotels Tbk ini, dalam Webinar yang diselenggarakan Pusat Kajian dan Advokasi Halal (Pusjilal), akhir pekan lalu.

Ia menjelaskan, skema kemitraan pelaku pariwisata harus dijalankan agar pariwisata mempunyai nafas yang lebih panjang dengan arus kas yang terbatas.

Kondisi di lapangan menunjukan, isebagian ndustri pariwisata mau tidak mau ada yang beralih usaha, apapun dikerjakan. Contohnya beralih usaha menjadi penjual sembako.

Strategi selanjutnya, untuk pariwisata saat ini adalah pembuatan safe procokol, sesuatu yang memerlukan biaya tambahan tapi mesti dilakukan.

Kemudian, strateginya selanjutnya yakni inovasi dan kreativitas. Industri pariwisata memiliki tantangan tersendiri dibanding industri yang lain. Pariwisata tidak menjual produk atau jasa yang bisa diantar kurir, tetapi yang dijual pariwisata menjual pengalaman dan pengalaman itu diperoleh dengan mengunjunginya langsung. Untuk itu, inovasi dan kreativitas yang dilakukan dalam hal ini sangat diperlukan.

Riyanto mengusulkan inovasi dan kreativitas itu bisa dengan menyediakan perjalanan wisata ke alam, ke tampat yang jaraknya dekat atau daerah domestik yang bisa dikembangkan sedemikan rupa. Jadi, semua yang terkait dengan pariwisata bisa tetap berjalan.

Strategi yang lain adalah kembangkan digital. Permudah pelayanan turis dengan digital. Prosedur-prosedur pariwisata bsia dijangkau secara digital.

Selanjutnya, strategi yang tidak kalah penting menurut Riyanto adalah mitigasi jika gelombang kedua pandemi Covid-19 terjadi. Serta, mitigasi bencana alam juga diperlukan.

Rep. Aldiansyah Nurrahman