Selasa, 25 Januari 2022
22 Jumada al-akhirah 1443 H
Home / Wawancara / Strategi Bisnis dan Optimisme HIK Grup
-
Tahun 2015 dapat dikatakan sebagai tahun krusial bagi sector bisnis di Indonesia. 

Tahun 2015 dapat dikatakan sebagai tahun krusial bagi sector bisnis di Indonesia. Perlambatan Ekonomi yang terjadi memberikan dampak negative bagi perkembangan bisnis tak terkecuali sector perbankan yang mengalami kelesuan bisnisnya hingga nyaris tidak menyampai target bisnis yang dicanangkan. Namun kabar baiknya tahun 2016 adalah tahun transformasi, yang mana progress ekonomi diprediksi tumbuh signifikan berdasarkan siklus optimisme bisnis 2016 secara keseluruhan. Pada titik ini peran strategi bisnis dan optimisme untuk terus tumbuh sangatlah dominan dalam rangka mencapai target dan perkembangan bisnis menuju yang lebih baik.

Dengan kondisi ekonomi di tahun 2015, bagaimana menurut Anda terhadap kondisi ekonomi Indonesia yang diprediksi akan tumbuh pada tahun 2016 ?

Berbicara mengenai pertumbuhan Ekonomi, terdapat beberapa factor yang mengindikasi Ekonomi dapat dikatakan tumbuh yaitu : 1. Semakin banyaknya investasi yang dibutuhkan, 2. Tingkat kesejahteraan rakyat meningkat, 3. Peningkatan keterbukaan lapangan usaha. Dari 3 faktor inilah kita dapat melihat secara komprehensip tingkat produktifitas Ekonomi khususnya di Indonesia. Optimisme untuk tumbuh pada tahun 2016 sangat positif, itupun didukung oleh gairah sector-sektor bisnis untuk terus ekspansi dan berkembang, tentunya lebih baik dari tahun 2015.

Lebih spesifik lagi kepada sector perbankan, bagaimanakah bapak melihat produktifitas sector perbankan untuk tumbuh pada tahun 2016 ?

Dengan 3 faktor diatas, seperti peningkatan lapangan usaha dan keterbukaan investasi sangat sedikit sekali orang bisa membiayai usahanya dengan dana sendiri, untuk tumbuh mereka perlu dana pihak ketiga dan sebaliknya kalau dana pihak ketiga tidak ada maka pinjaman di bank akan menurun. Hal ini mengindikasi bahwa apabila tidak ada dana lebih dari pihak ketiga maka mereka tidak akan berinvestasi/menabung, sehingga logika dasarnya adalah masyarakat butuh pinjaman untuk mengembangkan usaha dan orang yang berhasil akan menaruh uangnya.

Disinilah tantangan ekonomi secara simbosi mutualis sangat berpengaruh kepada pertumbuhan sector perbankan, tidak hanya dilihat berdasarkan strategi bisnis bank saja namun lebih daripada itu adalah seperti 3 faktor diatas (Investasi, Kesejahteraan dan Lapangan Kerja)

Core bisnis dari HIK adalah usaha Mikro, bagaimanakah Anda melihat sector mikro dalam kondisi ekonomi saat ini ?

Ditengah perekonomi lesu justru yang lebih bertahan adalah mikro, ini terkadang berbanding terbalik antara sector besar dan sector kecil, yang biasanya bertahan adalah yang mikro, karena lebih tahan banting, karena sector mikro terpecah/terdistribusi kebeberapa tempat. Tingkat resiko terhadap total pembiayaanpun akan tersebar. Hal ini sangat berbeda dengan pola korporasi yg bertumpu pada 1 tempat dan potensial risknya sangat besar.

HIK memberikan pembiayaan yang sangat dekat dengan kebutuhan rakyat, katakanlah pembiayaan kepada pedagang sayur keliling, masyarakat pasti butuh sayur tiap hari, Cuma saja ketika terjadi kenaikan harga pedagang sayur akan mengalami pengurangan keuntungan sedikit dan tidak terlalu berimbas kepada sector lain yang dibiayai oleh HIK

Mikro ini unik, uniknya adalah walaupun secara cost lebih tinggi, namun karena pola perhitungannya adalah harian jadi lebih lebih aman, tinggal maintenance, dan itu telah dibuktikan, mengapa bank bri lebih aman karena lebih bnyaknya peminjaman ke mikro/ rakyat kecil.

Bagaimana tantangan ekspansi bisnis yang berbasiskan syariah di 2016 seperti apa?

Hingga saat ini potensi peminjam/masyarakat umum pada dasarnya belum mengetahui benar mengenai konsep syariah, masih perlu untuk terus dapat di sosialisasikan dalam rangka memberikan pemahaman yang komprehensip.

Contoh kongkrit yang mudah untuk dikukur adalah tingkat kepastian antara konsepsi syariah dan konsepsi konvensional. Masyarakat masih merasa bank syariah lebih mahal dari konvensional. Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa meyakinkan bahawa konsepsi syariah tidak hanya dalam bentuk bahwa kaidah administration side nya menggunakan kaidah syariah tetapi cost wise nya competitive di market. Selagi tidak competitive bahwa konsep syariah “berhubungan langsung dengan surgawi“ bisa kita perkenalkan dengan mereka maka tingkat kesadaran mereka akan konsep syariah belum akan total/maksimal.

Tantangannya adalah kita bersaing dengan konvensional, tetapi yang konvensional itu mudah menghitunggnya dan lebih murah, bagaimana stategi menarik pasar bahwa ke syariah itu lebih baik, sesuai syariah dan lebih murah, dijamin LPS, bagi seorang deposan mendapakan hasil lebih tinggi dan Insya Allah masuk surge. Hal inilah yang harus kita fikirkan bagaimana syariah tapi lebih murah daripada konvensional.

Secara umum bagaimana Bisnis HIK hingga saat ini ?

HIK dari trendnya sudah menunjukan perkembangan yang bagus dan signifikan, namun yang perlu diteliti oleh managemen adalah, apa perbedaan antara HIK dan bisnis perbankan lainnya, HIK harus melakukan benchmarking, apakah bedanya HIK dengan BPRS sekitar dan bank konvensional yang ada di wilayah sekitar area. HIK harus punya nilai jual lebih dari bisnis bank lainnya, masyarakat membeli barang idak selalu melihat harga tetapi juga kualitas layanan dan kualitas after sell. HIK harus mempunyai pegangan nilai lebih yang dapat dijual kepada nasabah.

Apa dan bagaiamana strategi produktif bagi HIK untuk tahun 2016 ?

Saya yakin dan optimis bisnis syariah akan tetap tumbuh. Yang saya lihat tumbuh dan aman saat ini adalah sector konsumtif, contohnya para guru menjaminkan sertifikatnya(kolektif) aman bagi bprs namun tidak produktif bagi guru, terkecuali untuk pembelian motor dan motornya dipakai untuk usaha ojek. Banyak sector produktif seperti manafucturing, HIK harus piawai untuk melihat sector-sektor produktif dalam bisnis. Untuk tumbuh BPRS harus blanded ,gabungan antara sector produktif dan konsumtif, sekarang pertanyaanya adalah mau berkembang untuk kebutuhan apa dan bagaimana? Mak HIK harus melihat potensi-potensi pengembangan bisnis kedepan untuk terus dapat merespon tantangan ekonomi di tahun 2016.

Harapan utama dan besar kepada jaringan HIK?

Sebenarnya kebutuhan dasar dari Grup HIK adalah sumber dana, ketika HIK mendapatkan dana pihak ketiga yang besar, maka HIK akan menjual lebih tinggi lagi. Saya lagi berfikir keras bagaimana menghidupkan holding ini yang memiliki kepemilikian di semua bank adalah mayoritas. Jadi ketika holding ini ingin berkembang sangat mudah untuk ekspansi dan berkembang pesat serta tidak terpaku dengan sub perusahaan yang ada dibawahnya.

Sementara ini banyak penempatan yang diberikan ke anak-anak perusahaan sehingga pertumbuhannya lamban. HIK butuh injeksi besar untuk dapat berkembang pesat. Karena value dariapda HIK Grup sangat bagus, nilai perusahaan.

Tags: