Jumat, 22 Maret 2019
16 Rajab 1440 H
x
Ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah Ronald Yusuf Wijaya di seminar nasional fintech syariah. (foto/dok) romy.sharianews.com
Ia mencontohkan negara seperti Inggris, umat Muslimnya tidak banyak, tetapi literasi ekonomi syariahnya sangat tinggi.

Sharianews.com, Jakarta ~ Menurut survei literasi keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini sekitar 40 persen masyarakat Indonesia belum mempunyai akses langsung terhadap sektor keuangan termasuk perbankan.

Sementara, literasi keuangan syariah pada tahun 2016 hanya 8,11 persen dengan indeks inklusinya sebesar 11,6 persen. Pada tahun ini, tujuan Strategi Nasional Keuangan lnklusif (SNKI) pemerintah adalah 75 persen penduduk Indonesia memiliki akses terhadap produk keuangan.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI), Ronald Yusuf Wijaya mengatakan, bagaimana strateginya dalam mendongkrak program fintech syariah tersebut.

"Literasi masyarakat, kita sadari memang masih rendah, tapi Indonesia ini digital ready country yaitu jumlah smartphone lebih banyak daripada penduduknya. Artinya kita sudah punya aksesnya cuma bagaimana kita mengemas program bisnis syariah ini jadi menarik," ungkapnya ketika ditemui di gedung Bursa Efek Jakarta, Jakarta, Rabu (14/2).

Ia mencontohkan negara seperti Inggris, umat Muslimnya tidak banyak, tetapi literasi ekonomi syariahnya sangat tinggi.

"Karena mereka sudah sangat peduli syariah investment. Bahkan saking menariknya, yang nonmuslim pun ingin ikut investasi juga," ujar Ronald.

Saat ini, industri perbankan syariah jumlah marketshare-nya baru di angka 5 persen, fintech syariah, lebih lanjut dikatakan Ronald, berani untuk ikut bersaing dengan yang lain.

"Kami punya inovasi jawabannya, saya yakin Islam ini mindsetnya harus dirubah dengan adanya teknologi, masyarakat milenial paling tidak jadi terbuka matanya, sekarang Islam sudah kaya akan teknologi, nggak cuma ngomongin gharar, riba atau dosa doang, tapi sudah ngomongin teknologi," sambung Ronald.

Ronald menambahkan, misalnya, dalam industri halal penerapan teknologi blockchain bisa digunakan untuk memastikan makanan yang diproduksi sudah halal atau belum.

"Ketika ada makanan yang mau kita makan, sudah berapa persen sih syariahnya, berapa persen halalnya, karena halal ini industri yang lagi berkembang dinegara nonmuslim juga," ujar Ronald.

"Maka dari itu, negara-negara kaya ataupun negara maju, mereka beranggapan investasi syariah adalah etikal investment atau berinvestasi secara beretika bukan hanya bagi untung tapi juga bagi rugi," tutup Ronald. (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo