Senin, 25 Mei 2020
03 Shawwal 1441 H
Home / Fintek Syariah / Solusi Syariah dalam Menyikapi Money Game
Money Game berpotensi untuk menjadi bom waktu, terlebih skema yang dilakukan sangat beroriantasi kepada riba dalam penerapanya. Disinilah Islam hadir dengan memberikan solusi yang strategis dalam menaggulanginya.

Sharianews.com, Hati-hati jangan ikut di program investasi itu, money game...” kita seringkali mendengar hal ini ketika ada sebuah penawaran yang mengatakan bahwa, memasukkan uang sekian maka akan dapat hadiah besar ini dan itu dengan pasti, atau dapat bunga yang tinggi. Dengan kata pasti seolah-olah tidak akan ada resiko dari investasi/produk tersebut dan untungnya besar!!. Siapa yang tidak mau ditawarkan hal tersebut? Tapi kenyataan tidak semanis penawaran di awal. Mengapa? karena ada 1 titik dimana sang pengelola tidak lagi mampu untuk menarik dana segar baru yang digunakan untuk memberikan hadiah atau bunga kepada investor sebelumnya dan juga keuntungan bagi dirinya sendiri. Inilah esensi dari money game, menutup lubang dengan lubang yang baru sehingga semakin lama semakin dalam dan akhirnya tidak bisa keluar.

Setiap transaksi riba berpotensi menimbulkan money game, dengan penjelasannya sebagai berikut :

Skenario 1:

Pihak A menerima dana dari banyak Pihak total sebesar Rp1 milyar dengan janji bahwa dapat ditarik kapan saja dan akan diberikan bunga 0,5% perbulan, kemudian oleh Pihak A dana tersebut digunakan utk membunga-kan lagi uang yang diterima 1,5% per bulan x Rp700 juta dengan jangka waktu 6 bulan, sehingga sisa dana yang ada di Pihak A hanya Rp300 juta. Pada bulan 1 ada yang menarik dana hingga Rp350 juta. Maka darimana Pihak A bisa mengembalikan dananya?

Jawabannya dari Pihak berikutnya yang datang.

Skenario 2:

Pada saat penyaluran pembiayaan terjadi macet angsuran nasabah karena murni bisnis, sehingga tidak bisa mengembalikan pokok pinjamannya, berbagai langkah restrukturisasi dan negosiasi dicoba tapi tetap terjadi kerugian sehingga dana banyak Pihak pada Pihak A berkurang, padahal banyak Pihak tersebut tidak siap menerima resiko. Apa yang dilakukan Pihak A karena ia menjanjikan bahwa pasti dapat diambil kapan saja uangnya? Jawabannya, yaitu mencari lagi Pihak lain untuk diambil uangnya dan diberikan ke Pihak yang menarik uang, sehingga tidak terlihat terjadi apa-apa.

Skenario 3:

Pihak A menjanjikan bunga secara tetap kepada banyak Pihak lalu kemudian uang tersebut disalurkan ke pembiayaan ribawi yang Pihak A meminta bunga juga secara tetap dengan prosentase lebih tinggi dari yang dijanjikannya ke banyak Pihak. ketika terjadi kemacetan pembayaran bunga dari nasabah pembiayaan sedangkan Pihak A sudah menjanjikan membayar bunga ke banyak Pihak, maka Pihak A membayarkan bunga bulanan tersebut dari uang para investornya yang ada tersisa.

Apapun manajemennya, pengamanan dan penjaminannya jika skema fundamental nya salah maka berpotensi menjadi bom waktu, yang menyebabkan harus mencari lagi dana segar untuk menutupi lobang yang ada.

Islam mempunyai solusi agar tidak terjadi “Bom Waktu” tersebut yaitu dengan cara menempatkan segala sesuatu sesuai akadnya.

Pertama, Jika seseorang menitipkan dana dan mengamanahkan untuk tidak digunakan maka gunakan akad titipan (wadiah murni), sehingga dengan model full reserve ini tidak akan ada namanya dana tidak bisa ditarik, atau membutuhkan waktu yang lama untuk ditarik. karena pada dasarnya selalu dijaga 100% dan tidak akan mungkin terjadi kegagalan pengembalian dana sebagaimana skenario 1.

Kedua, Jika seseorang ingin berinvestasi maka pastikan Ia memahami dan bersedia menanggung resiko sekecil apapun juga, dan gunakan akad investasi berbasis bagi hasil (Musyarakah atau Mudharabah murni) dimana dana tidak dapat ditarik sewaktu-waktu, dan hasil sesuai dengan hasil usahanya. Sehingga tidak terjadi missmatch persepsi konsep penggunaan dana sebagaimana skenario 2.

Ketiga, Jika seseorang menitipkan dana dan mengizinkan untuk digunakan tapi tidak ingin terkena resiko bisnisnya, maka gunakan akad pinjaman tanpa imbalan apapun (qardh murni) namun dengan catatan adanya kesiapan modal, asset yang dapat dijaminkan dan manajemen resiko yang baik dan jangka waktu peminjaman yang jelas, sehingga segalanya bisa terukur serta tidak ada bunga yang membebani sebagaimana skenario 3.

3 hal itu hanya sedikit contoh dari banyak solusi yang syariah tawarkan, dengan demikian harta akan terjaga, ekonomi bergerak sesuai dengan proporsinya dan keberkahan pun terasa. Wallahu ‘alam

 

Oleh: Budiman Indra Jaya