Sabtu, 23 Maret 2019
17 Rajab 1440 H
x

Social Style dan Lifestyle

Rabu, 26 Desember 2018 05:12
FOTO | Dok. pribadi
Perasaan aman dan nyaman di dekat keluarga dapat melenakan seseorang dari beraktivitas produktif dan mandiri, sehingga tingkat ketergantungan menjadi tinggi.

Oleh: Laily Dwi Arsyianti | Staf pengajar Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, FEM, IPB.

 

Keluarga merupakan bagian terkecil dari kehidupan bermasyarakat. Masyarakat Indonesia terbiasa hidup dan berkehidupan dengan keluarga bahkan sampai anak sudah menikah dan mempunyai anak (cucu). Subjektivitas terhadap keluarga menjadi meningkat seiring dengan meningkatnya kedekatan hubungan dengan keluarga.

Interaksi sosial seperti social support merupakan salah satu penentu subjective well-being. Sementara itu, salah satu aspek dari social support adalah kedekatan sosial, yaitu intensitas dengan jaringan sosial di sekitarnya atau social embeddedness (Kamaliya, 2016).

Dukungan sosial yang diperoleh dari keluarga, kerabat dekat, dan tetangga inilah kemudian mampu membentuk pola kehidupan keuangan seseorang. Perasaan aman dan nyaman di dekat keluarga dapat melenakan seseorang dari beraktivitas produktif dan mandiri, sehingga tingkat ketergantungan menjadi tinggi.

Terlebih lagi ketika hal ini terjadi pada lingkaran masyarakat menengah ke bawah. Optimisme menghadapi keadaan di masa mendatang dipengaruhi oleh kedekatan seseorang dengan social support-nya.

Tidak heran ketika kemudian Bank Dunia (2015) merilis data bahwa sebagian besar masyarakat yang berada pada golongan piramida ekonomi terbawah mendapatkan dana eksternal dari keluarga dan kerabat dekat, tepatnya sebesar 43.77 persen. Hanya sebagian kecil dari populasi ini yang mendapatkan dana eksternal dari lembaga keuangan formal.

Kemudahan akses yang diperoleh seseorang dari keluarga dan kerabat dekatnya merupakan salah satu alasan dari mana dana eksternal tersebut diperoleh. Alasan lain adalah kemudahan persyaratan, dengan kemungkinan yang sangat kecil terdapat persyaratan formal untuk memperoleh dana eksternal dari keluarga dan kerabat dekat. Demikian pula dengan kemudahan pengawasan.

Hal ini pula yang mungkin mengantarkan portofolio asuransi kita masih rendah. Rasa aman dan nyaman berada dalam dukungan keluarga, melemahkan keinginan masyarakat untuk berasuransi karena merasa ada yang akan menanggung jika di kemudian hari terjadi kerugian atau kecelakaan. Jika dibandingkan dengan perusahaan asuransi, maka masyarakat lebih mempercayakan pertanggungan kepada keluarga dan kerabat dekatnya, meskipun tanpa kontribusi premi apapun.

World Giving Index (WGI) 2018

Pada sisi lain, Charities Aid Foundation (CAF) merilis World Giving Index (WGI) 2018 dengan Indonesia menempati posisi pertama untuk pertama kali, menggeser Myanmar yang sekarang menduduki posisi ke-sembilan.

WGI meneliti tiga aspek utama, yaitu menolong orang asing atau seseorang yang tidak diketahui, menginfakkan uang, serta menyisihkan waktu sebagai volunteer dari suatu organisasi. Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Australia dan Selandia Baru. Dari 146 negara yang diteliti, hanya 10 negara maju yang menempati 20 posisi teratas, sementara 10 teratas lainnya ditempati oleh negara berkembang termasuk Indonesia.

Keunggulan Indonesia didominasi oleh infak dan kegiatan volunteer. Sementara Australia dan Selandia Baru unggul pada kegiatan berinfak dan menolong orang asing. Pada lima tahun terakhir, posisi ke-20 negara teratas tidak banyak berubah dan dikuasai oleh negara yang itu saja, yaitu: Indonesia, Myanmar, Amerika, Selandia Baru, Australia, Irlandia, Kanada, Inggris, Kenya, Srilanka, Belanda, Uni Emirat Arab, Malaysia, Bhutan, Malta, Norwegia, Islandia, Singapura, Jerman, dan Denmark.

Subjective well-being masyarakat Indonesia tumbuh dimulai sejak tradisi terdahulu sebagaimana sesuai dengan syariah bahwa jangan sampai kita tertidur lelap jika kita tidak membagikan makanan yang dihidangkan di rumah sementara tetangga menderita kelaparan.

Kedekatan dengan tetangga merupakan suatu asset penting bagi masyarakat. Gotong royong dan bekerjasama dalam berbagai kepanitiaan seperti 17 Agustusan, Lebaran hajian, dan kepanitiaan lainnya menjadikan subjective well-being masyarakat Indonesia kuat karena kedekatan yang terbina selain dengan keluarga.

Kondisi masyarakat Indonesia yang demikian dapat menjadi peluang bagi industri keuangan syariah Indonesia. Konsep tolong menolong dari dana tabarru’ seharusnya dapat menjadi kekuatan asuransi syariah karena konsep ini hanya ada dalam asuransi syariah dan tidak ada dalam skema transaksi dengan lembaga keuangan komersial lainnya.

Kekuatan instrumen keuangan dalam ekonomi syariah lainnya yang mampu menampung peluang kondisi masyarakat Indonesia adalah instrumen keuangan sosial Islam, yaitu zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Sebagaimana disampaikan oleh CAF dalam laporan WGI 2018, Indonesia memiliki keunggulan dalam berinfak. Selanjutnya adalah bagaimana mengarahkan infak tersebut agar lebih terorganisir dengan baik melalui zakat dan wakaf.

Zakat merupakan instrumen unik yang memiliki petugas khusus dan didistribusikan untuk kalangan tertentu saja. Sementara wakaf merupakan instrumen yang mampu membantu pembangunan karena nilai yang dikandung tidak boleh berkurang sehingga pemanfaatannya dapat diperuntukkan untuk investasi yang bertahan lama seperti pembangunan berbagai infrastruktur dan pembangunan sumber daya manusia.

Berdasarkan sedikit uraian di atas, kehidupan sosial masyarakat Indonesia mampu membentuk gaya hidup termasuk dalam pola keuangan. Keuangan yang sesuai syariah telah menawarkan berbagai instrumen keuangan yang sesuai dengan fitrah, terutama kehidupan masyarakat Indonesia. Kehidupan tolong menolong, berinfak, dan menjadi volunteer untuk berbagai program kemasyarakatan sangat sesuai dengan skema berbagai instrumen keuangan syariah. (*)

 

Oleh: Laily Dwi Arsyianti