Minggu, 28 November 2021
23 Rabi‘ at-akhir 1443 H
Home / Keuangan / Sinyal Positif dari Kinerja Bank-bank Syariah di Semester I 2018
-
Ada sinyal positif terkait pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia. Hal ini bisa terbaca  dari  Pemaparan Kinerja Semester I 2018, bank-bank syariah di Indonesia.

Ada sinyal positif terkait pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia. Hal ini bisa terbaca  dari  Pemaparan Kinerja Semester I 2018, bank-bank syariah di Indonesia. 

Sharianews.com, Jakarta. Beberapa  bank syariah dari kelompok Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) menunjukkan kinerja positif.

Berikut ini pemaparan kinerja dari tiga BUS, yaitu  Bank BNI Syariah, BCA Syariah, dan Bank Syariah Mandiri serta dua UUS, yaitu Bank Danamon Syariah dan CIMB Niaga Syariah, yang menunjukkan kinerja positif di semester I 2018.

1. PT Bank BNI syariah

PT Bank BNI Syariah misalnya, mencatatkan kenaikan signifikan dari sisi asetnya. Direktur BNI Syariah, Dhias Widhiyati, menyebut sampai dengan bulan Mei 2018 total aset BNI Syariah mencapai Rp 39,7 triliun. Jumlah tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 31,5 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Pertumbuhan aset tersebut, menurut Dhias Widhiyati, terutama  didorong oleh kenaikan dana pihak ketiga (DPK) yang cukup besar pada bulan Mei 2018, yakni 28,7 persen menjadi sebesar Rp 33,32 triliun.

Peningkatan aset perseroan juga ditopang oleh kenaikan ekuitas sebesar 50,9 persen per Mei 2018. "Hal ini didorong kenaikan DPK 28,7 persen dan kenaikan ekuitas 50,9 persen (per Mei 2018), karena penambahan modal BNI induk sebesar Rp 1 triliun di akhir 2017.

Dari sisi pembiayaan pun BNI Syariah berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 13,5 persen secara yoy per Mei 2018 menjadi Rp 24,8 triliun. Bila dirinci, dari total pembiayaan tersebut paling banyak masuk  ke segmen konsumer, terutama perumahan yang mencapai Rp 5,9 triliun. Adapun, komposisi pembiayaan BNI Syariah antara lain 55 persen konsumtif dan 45 persen produktif.

Menurut Dhias, jika  dibandingkan dengan pertumbuhan total pembiayaan industri bank umum syariah (BUS) jumlah ini sudah tumbuh lebih tinggi. Sebagai catatan saja, data Statistik Perbankan Syariah (SPS) yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2018 menunjukan, total pembiayaan BUS baru mengalami kenaikan sebesar 7,25 persen secara yoy menjadi  Rp 191,04 triliun.

Kualitas pembiyaan masih terjaga

Lebih lanjut, BNI Syariah mengungkapkan dari sisi kualitas pembiayaan juga masih terjaga. Sampai dengan Mei 2018, rasio pembiayaan bermasalah alias non-performing financing (NPF) perseroan berada di kisaran 3,2 persen. Masih lebih baik dibandingkan industri (BUS) yang menapai 4,8 pesen  per April 2018.

Dengan indikasi positif ini, BNI Syariah optimis seluruh target kinerja di 2018 yang dipatok pada awal tahun dapat terealisasi. Salah satunya pembiayaan yang ditarget dapat mencapai Rp 27 triliun pada akhir tahun 2018 serta laba bersih yang dipatok naik 31 persen dibanding pencapaian laba di tahun 2017.

"BNI Syariah akan lebih intens menggarap sektor produktif di segmen komersial dan SME (Usaha kecil menengah/UKM) dengan target pertumbuhan sekitar 20% (pembiayaan)," papar Dhias terkait targer pemibayaan di 2018.

2. PT BCA Syariah

Presiden Direktur BCA Syariah, John Kosasih dalam acara media update Pemaparan Kinerja Semester I 2018 Bank BCA Syariah, Senin (31/7) di Jakarta, menyatakan aset BCA Syariah secara tahunan meningkat sebesar 18, 6 persen secara year on year (yon) atau menjadi  Rp 6,4 tirliun, dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 5,4 triliun.

Menurut John Kosasih, pertumbuhan aset perusahaan sebesar dua digit ini, salah satunya didukung oleh peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp 5,2 triliun atau tumbuh sebesar 21,8 persen dibanding posisi Juni 2107, yang sebesar Rp 4,2 triliun.

“Laba perusahaan pada pertengahan tahun ini  tercatat senilai Rp 25 miliar meningkat sebesar 25 persen dibanding laba per Juni 2017. Salah satunya ditopang oleh pertumbuhan pembiayaan sebesar 21,3 persen, menjadi Rp 4,7 triliun (yoy).

Menurut John Kosasih, penyaluran pembiayaan BCA Syariah saat ini masih fokus pada sektor produktif khususnya segmen komersial diikuti oleh UMKM dan sektor konsumer. 

NPF yang rendah

Sementara itu, untuk rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) BCA Syariah tetap berada pada level rendah dan sehat, dengan NPF Gross 0,73 persen dan NPF Nett 0,31 persen.

“Pertumbuhan pembiayaan senantiasa diiringi dengan upaya untuk menjaga kualitasnya. BCA Syariah konsisten menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dan prudential banking practice, sehingga dapat mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan stabil,”papar John Kosasih.

Menurut John Kosasih, BCA Syariah menerapkan strategi  yang tepat untuk mendukung pertumbuhan perusahaan. Kondisi perekonomian global, situasi perbankan Indonesia, dan asumsi  pertumbuhan yang disampaikan oleh regulator, menjadi pertimbangan penting dalam  mengejar pertumbuhan.

John Kosasih memaparkan, untuk mencapai target pertumbuhan di kisaran 15-20 persen hingga akhir tahun 2018, BCA Syariah melakukan inisiatif pengembangan dari berbagai aspek. 

“Di antaranya, pengembangan delivery channel berupa perluasan jaringan cabang di wilayah Sumatra dan Jawa, pengembangan fasilitas e-channel melalui penambahan futur mobile dan internet banking, dan melakukan kerjasama strategis dengan berbagai instansi/lembaga,”paparnya.

3. PT Bank Syariah Mandiri  

Direktur Utama PT Bank Syariah Mandiri (BSM), Toni  EB Subari, memaparkan,  kinerja BSM mencatatkan pertumbuhan positif di semester I 2018. BSM membukukan laba bersih Rp 120,68 miliar pada kuartal I-2018. Laba tersebut naik 33,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang sebesar Rp 90,26 miliar.

Menurutnya, perolehan laba kuartal I-2018 ini diperoleh dari peningkatan pembiayaan yang tumbuh 10,47 persen, menjadi Rp 61,22 triliun, dibandingkan Rp 55,42 triliun periode sebelumnya.

Toni EB Subari menjelaskan, pertumbuhan pembiayaan ditopang oleh pembiayaan Segmen Ritel  yang terdiri atas pembiayaan Konsumer, serta Usaha Kecil dan Mikro yang naik 13,58 persen year on year (yoy) menjadi Rp 35,55 triliun pada kuartal  I-2018, dibanding Rp 31,3 triliun pada kuartal I-2017.

Sementara, pembiayaan segmen wholesale tumbuh 6,70 persen  (yoy) menjadi Rp 25,67 triliun per posisi kuartal I-2018 dibanding Rp 24,06 triliun per posisi kuartal I-2017. ''Peningkatan kinerja juga diimbangi perbaikan kualitas yang tercermin dari penurunan NPF Nett dari 3,16 persen  menjadi 2,49 persen,''ujarnya.

Lebih lanjut Toni EB Subari menyampaikan, pertumbuhan pembiayaan berdampak pada pendapatan margin bagi hasil yang naik 7,77 persen, semula Rp 1,71 triliun menjadi Rp 1,85 triliun. Pendapatan bagi hasil tersebut kemudian dibagihasilkan kepada nasabah (biaya bagi hasil) sebesar Rp688,36 miliar.

Perbaikan kualitas masih menjadi salah satu strategi dari lima strategis bisnis yang ditetapkan pada 2017 dan 2018. Strategi yang telah ditetapkan adalah adalah pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkesinambungan, perbaikan kualitas pembiayaan, peningkatan pendapatan berbasis biaya, produktivitas dan efisiensi, serta kontribusi  margin.

4. Bank Danamon Syariah

Direktur Syariah dan Operasional  Bank Danamon – Herry Hikmanto, dalam acara Paparan Kinerja Bank Danamon Semester I 2018 di Jakarta, baru-baru ini mengatakan hingga semester pertama 2018, total financing  Danamon Syariah tumbuh 13,3 persen  atau senilai Rp  400 miliar.

Danamon Syarian, yang merupakan UUS dari Bank Danamon, ini membukukan total Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 12,8 persen. Selain itu, Danamon syariah juga mencatatkan laba bersih sebesar  Rp 151 miliar.

Herry Hikmanto, menuturkan dengan pencapaian tersebut di atas, pihaknya merasa cukup optimis. Danamon Syariah bisa meraih hasil kinerja bisnis yang diharapkan hingga akhir tahun.

“Jadi untuk pencapaian  sampai akhir tahun (2018), mudah mudahan kalau kita lihat untuk pertumbuhan pendanaan,  insya Allah kita tetap optimis,” jelas Herry Hikmanto.

Pihaknya  mengakui, saat ini dari sisi pertumbuhan pembiayaan memang  sedang agak melambat. “Produk KPR  yang kita luncurkan mungkin masih belum terlalu familiar oleh masyarakat,  karena masih baru. Tapi nanti insya Allah di awal agustus, kita juga akan promo atau launching secara resmi  produk tabungan haji kita,” ujarnya.

5. CIMB Niaga Syariah

Unit Usaha Syariah PT Bank CIMB Niaga Tbk. (CIMB Niaga Syariah) juga mencatatkan kinerja positif sepanjang paruh pertama tahun 2018. Kinerja positif tersebut  antara lain didorong oleh sektor infrastruktur dan pembiayaan perumahan.

Selain itu, juga  tercermin dari pertumbuhan indikator keuangan utama seperti  pembiayaan, dana pihak ketiga, dan laba sebelum pajak.

Pandji P. Djajanegara,  Direktur Syariah Banking CIMB Niaga menyatakan, penyaluran pembiayaan hingga Juni 2018 tumbuh sekitar 54 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Pertumbuhan tahunan tersebut lebih tinggi dibanding kenaikan pada Juni 2017, yang sebesar 33 persen secara year on year (yoy).

Total nilai financing pada Juni 2017 Rp13,6 triliun dan Juni 2018 sekitar Rp 21 triliun. Jadi naik sekitar 54 persen. “Lumayanlah besaran growth pada tahun ini,” katanya sebagaimana dikutip dari laman Bisnis.com, beberapa waktu lalu.

Pandji P. Djajanegara, menjelaskan, peningkatan kinerja perseroan dalam paruh pertama tahun ini antara lain terdongkrak oleh tumbuhnya permintaan, terutama dari sektor infrastruktur.

“Itu membuat bank juga terpancing untuk lebih agresif memberikan pembiayaan, tapi kalau dari sektor swasta masih tidak banyak pergerakan,” paparnya.

Pembiayaan infrastruktur  yang diberikan bank mengalir ke beberapa subbidang seperti proyek kelistrikan serta jalan tol. Penyalurannya dilakukan secara bersama-sama alias sindikasi maupun lewat pembiayaan sendiri.

Selain infrastruktur yang menopang segmen korporasi komersial, adalah juga pembiayaan perumahan di sisi segmen konsumer.

Adapun, untuk dana pihak ketiga (DPK), pertumbuhannya tidak sebesar pembiayaan. Menurut Pandji, hal tersebut adalah bagian dari strategi mengingat rasio pembiayaan terhadap pendanaan atau financing to deposit ratio (FDR) masih di level yang rendah.

Growth DPK sengaja single digit supaya FDR tidak terlalu rendah. DPK kami jaga di angka yang kurang lebih sama dengan Desember 2017 karena waktu posisi Desember 2017, angka FDR masih terlalu rendah,” tambahnya.

Membaca perkembangan kinerja perbankan syariah di sementer pertama 2018, ini boleh saja kita merasa optimis, jika pertumbuhan ekonomi dan perbankan Islam di  semester kedua tahun 2018 ini akan tetap dalam trak yang positif. Kiranya. ( Ahmad Kholil, diolah dari berbagai sumber).

 

Ahmad Kholil