Kamis, 17 Oktober 2019
18 Ṣafar 1441 H
Home / Lifestyle / Singularity: Prediksi Trend Forecasting 2019-2020
“Ada 4 tema menarik yang menjadi representasi dari singularity untuk Indonesia tahun 2019-2020”

Sharianews.com, Jakarta. Tahun 2018 Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan  Indonesia Trend Forecasting (ITF) meluncurkan hasil riset trend forecasting untuk memberikan arahan tren subsector fashion, kriya, desain interior dan desain produk untuk tahun 2019-2020 mendatang.

Dia Midiani menyebutkan bahwa hasil riset trend forecasting tersebut juga hadir dalam format konten impulse sebagai tema besar dan decoding sebagai acuan penerapannya.

“Penerapannya hanya sekali, tren forecast ini dikawinkan dengan kekayaan unsur lokal yang kita miliki” Tegas Dia Midiani selaku koordinator tim penyusun ITF (27/9/18).

Tema besar trend forecasting kali ini adalah singularity. Terinspirasi dari paradoks terbesar abad 21 dengan beberapa pertanyaan yang mendasari, misalnya, apakah eksistensi kita akan terhapus oleh mesin? Atau justru keberadan mesin tersebut akan memperbaiki eksistensi kita menjadi manusia super?

Istri Dhaniswari menjelaskan, keganjilan teknologi (singularity) adalah sebuah hipotesis yang memprediksi bahwa penemuan kecerdasan artifisal super, akan memicu secara tiba-tiba pertumbuhan teknologi yang menghasilkan kecerdasan super, yang secara kualitatif akan jauh melampui seluruh kecerdasan manusia. Hal ini merupakan titik kritis untuk mempertanyakan masa depan supremasi manusia di muka bumi.

“Ada 4 tema menarik yang menjadi representasi dari singularity untuk Indonesia tahun 2019-2020” kata Dhaniswari yang juga konseptor dan penulis dari tim ITF

Keempat tema tersebut adalah

1. Exuberant

Tema Exuberant, sebuah karakter kemanusiaan yang dinamis dan cerdas dan menjadi spirit positif untuk menguasai singularity. Berkarakter hidup, senang dan bersemangat dipenuhi oleh energi antusiasme. Diilhami oleh subkultur Asia-Amerika yang meneyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara Asia, termasuk musik tap-rap, yang membuat rapper Indonesia, Brian Imanuel, melejit dalam bisnis hiburan internasional, inklusivitas antar generasi merupakan bagian dalam keseharian. Sebuah semangat yang secara mangejutkan juga ditemukan pada gaya hidup yang dipilih oleh generasi baby boomers dan generasi sebelumnya, yang kini memiliki kecenderungan untuk hidup secara dinamis, aktif dan kreatif.

Karakter dasar dari tema ini adalah santai, ramah sedikit nerdy, namun tetap stylish dan lucu. Kehidupan yang tidak lepas dari teknologi digital merangkul rekonsiliasi budaya musik, hiburan dan seni yang divisualisasikan grafis yang berwarna, street art, komik, dan kartun.

2. Neo Medieval

Adalah pola pikir yang menjadikan kemajuan tenologi sebagai sebuah paradoks dalam singularity. Globalisasi mengakibatkan sebuah tren yang menyerupai abad pertengahan. Tema-tema ini menjadi pesona dalam dunia modern dan berteknologi tinggi, karena sebuah narasi romantis sejarah sangat dibutuhkan untuk menjelaskan pandangan yang membingungkan akan situasi politik dan budaya saat ini. Meski bernapas di abad pertengahan, namun sangat futuristis dan terlihat berlatar belakang teknologi tinggi. Tema ini membuat kita bebas berimajinasi dan berkreativitas untuk menghidupkan gaya historis-futuristis.

3. Svarga

Tema yang mewakili potensi kemanusiaan yang inklusif dan berempati pada latar belakang kultural sehingga memperkuat posisi manusia singularity. Kata Svarga berasal dari bahasa sansekerta yang berari surga, kata ini menggambarkan pendekatan manusia secara spiritual.

Svarga merupakan simbol dari dampak yang dihasilkan jika umat manusia bersatu, bekerjasama, memberikan kemurahan hati dan pengetahuan dengan imbalan rasa bahagia. Menciptakan semacam surga di atas bumi, mengurangi kerusakan dan penyakit sosial yang tercipta dengan berjalanya sejarah umat manusia. Desain ini memperlihatkan produk-produk berbasis kriya bernilai tinggi, untuk menghormati warisan tradisi yang tak ternilai harganya dan keraifan lokal pelaku kriya tradisional, yang eksistensinya kini telah berubah menjadi preservasi budaya.

4. Cortex

Tema tren yang mewakili sistem dasa yang mendistrupsi kehidupan dalam singularity. Algoritma dari media sosial yang digunakan untuk mendikte selera, tendensi, bahkan cara berfikir kita. Sementara, kita masih percaya bahwa apapun yang ada dalam kepala kita merupakan hasil murni dari proses berpikir.

Ada hiptosis yang cenderung membingkai kecerdasan buatan (AI) sebagai sebuah cara untuk membuat sintesis manusia dengan mesin, yang akan membesut kita menjadi manusia super. Dalam proses pengembangan desain, telah dibuktikan bahwa AI bukan hanya berfungsi sebagai alat pembantu desainer, melainkan juga bisa menjadi desainer itu sendiri. Pada mulanya hal tersebut terasa mengerikan, akan tetapi, AI juga bisa berarti sebuah harapan bagi dunia yang lebih baik.

Tema ini menggambarkan AI sebagai neokorteks eksternal bagi umat manusia, yang berlaku sebagai alat untuk mengeksplorasi bentuk, material, dan medium dalam riset desain. Hasilnya seringkali tak terduga, membuka horizon baru mengenai visi, bentuk dan material.(*)

Reporter: Linda Sarifatun Editor: Achi Hartoyo