Senin, 1 Juni 2020
10 Shawwal 1441 H
Home / Ekbis / Sinergi BI Genjot Industri Halal
-
Bank Indonesia terus berupaya untuk mempercepat laju bank syariah dan industri halal melalui sinergi dengan semua otoritas pemerintahan dan keuangan negeri ini.

Bank Indonesia terus berupaya untuk mempercepat laju bank syariah dan industri halal melalui sinergi dengan semua otoritas pemerintahan dan keuangan negeri ini.

Sharianews.com. Jakarta - Bank Indonesia (BI) menaruh perhatian besar terhadap ekonomi dan keuangan syariah dari hulu hingga hilirnya. Tak hanya soal bank, tapi juga industri halal dari berbagai sektornya.

Hal itu disampaikan Kepala Divisi Kerjasama Ekonomi dan Keuangan Syariah Domestik dan Internasional, Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah, Bank Indonesia, Rifki Ismal. Poin itu selalu ia sampaikan saat bertemu dengan delegasi dari berbagai negara.

“Bila berbicara industri syariah Indonesia, sudah tidak relevan hanya bicara soal bank syariah. Ketika bicara syariah di Indonesia itu mesti bicara bank syariah dan juga industri halalnya,” jelasnya kepada Sharianews.com.

Posisi perbankan syariah, tambahnya, tidak seperti lima sampai enam tahun lalu. Sudah mulai recovery. Bank-bank syariah juga sudah mulai aktif melakukan berbagai pembiayaan.

“Perbankan syariah mulai meningkat. Sekarang yang didorong BI bukan dari sisi banknya lagi, bank sudah kewenangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sekarang BI mendorong suplainya,” ulasnya.

Ia mengibaratkannya seperti sebuah bus. Bus bank Syariah ini sudah bagus-bagus. Tinggal mencari dan memasukkan penumpangnya.

“Busnya sudah banyak. Penumpangnya yang masih sedikit. Penumpang itu masyarakat, para nasabah bank syariah dan pengguna produk halal. Nah, ini yang mau BI masukkan,” papar Rifki.

Pangsa Pasar Besar

Selain bank syariah, akunya, pangsa pasar industri atau produk halal Indonesia juga sangat besar. Mulai dari wisata halal, mode busana Islami, kosmetik syar’i, obat-obatan halal, pengobatan seperti bekam hingga sekolah-sekolah Islami atau pesantren.

“Industri halal dari pendidikan pesantren saja di Indonesia itu nomor satu di dunia. Dari jumlah yang terdaftar sudah lebih dari 30 ribu pesantren. Bahkan bisa jadi lebih dari itu jika dihitung yang belum terdaftar. Di negara lain tidak ada yang lebih dari itu,” ulasnya.

Hal itu, lanjutnya, belum termasuk sekolah Islam. Muhammadiyah saja memiliki sekitar 11 ribu sekolah dari bangku taman kanak-kanak (TK) sampai universitas.

“Belum lagi sekolah Nahdlatul Ulama dan juga organisasi masyarakat lainnya,” terangnya.

Potensi industri halal lain, kata Rifki, dapat dilihat dari mode busana Muslim. “Banyak desainer Indonesia yang berpotensi, hanya saja kurang panggung di dunia,” imbuhnya.

Begitu juga label halal MUI yang kini sudah menjadi rujukan 15 negara di dunia. “Ini bisa dikembangkan menjadi labelisasi halal di seluruh dunia,” jelasnya.

BI terus mendorong agar masyarakat lebih condong menggunakan produk halal dan menjadikannya sebagai gaya hidup halal atau Islami. Rifki menerangkan, tak hanya BI, tapi juga menjadi perhatian Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) dan semua otoritas di wilayah masing-masing memberikan perannya untuk mendorong hal itu.

Begitu juga, katanya, dengan Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) yang mendorong melalui fatwa-fatwa tentang produk halal seperti fatwa vaksin Measles Rubella (MR) kemarin.  

Kementrian Pariwisata, terangnya, juga mendorong wisata Islami. Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) mendorong UKM syariah. Kementrian Agama mendorong kemajuan pesantren. (*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman. Editor: A.Rifki.