Selasa, 17 September 2019
18 Muḥarram 1441 H
Home / Ziswaf / Sikap ACT Hadapi Bencana Kekeringan yang Mematikan di Indonesia
Foto/dok.romy
Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah menyalurkan bantuan jutaan liter air bersih di berbagai daerah dan membangun sumur wakaf di 263 titik lokasi.

Sharianews.com, JakartaBadan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika menyatakan musim kemarau tahun 2019 akan terjadi kekeringan panjang akibat beberapa faktor yaitu fenomena El Nino, kuatnya Muson Australia, dan anomali peningkatan suhu udara akibat perubahan iklim.

Dalam menghadapi bencana kekeringan ini, Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah menyalurkan bantuan jutaan liter air bersih di berbagai daerah dan membangun sumur wakaf di 263 titik lokasi untuk ratusan ribu penerima manfaat di seluruh Indonesia yang akan masih terus berlangsung.

Wahyu Nowan, Director Social Distribution Program (SDP) ACT menambahkan, saat ini, hampir 3,5 juta warga menjadi korban dampak kekeringan. Bahkan 55 kota/kabupaten, 28 persen provinsi telah terdampak. Artinya lebih dari 2/3 dari total semua provinsi di Indonesia.

”Hasil dari pemetaan kita, ada lingkaran setan yang perlu diputus. Hal ini karena kemarau yang muncul merupakan dampak dari perubahan iklim yang ekstrem di dunia hingga pemanasan global yang dapat berdampak pada kekurangan gizi pada anak, kemiskinan hingga kematian, jika terus dibiarkan ini dapat menyebabkan last generation. Hal ini yang perlu dijadikan perhatian utama," ucapnya dalam keterangan tertulis, Selasa (20/8).

Merespon kondisi ini, ACT akan mendistribusikan 2,1 juta liter air bersih per hari, di 28 cabang kantor ACT dengan target bisa memberikan 500.000 penerima manfaat per hari.

Wahyu juga menambahkan, kekeringan memang bukan bencana yang bisa secara Iangsung berdampak pada kematian, tetapi kekeringan merupakan bencana yang sangat laten. ”Kekeringan bukan bencana rapid on set namun slow on set. Slow on set ini memliki dampak mematikan, dengan kondisi air bersih di dunia sekarang hanya sebesar 3 persen. Ini akan memberikan dampak untuk generasi mendatang hingga last generation. Tentunya, dengan bahaya laten kekeringan ini kami mengajak partisipasi masyarakat untuk benar-benar peduli dengan bencana yang dampaknya tidak hanya terjadi saat ini namun hingga ke generasi berikutnya,” tambah Wahyu.

Senior Manager Global Medic Action ACT, dr. Rizal Alimin pun menyampaikan, bahwa bencana kekeringan yang menimpa hampir di seluruh daerah Indonesia tentu memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat. ”Di musim kemarau, akan terdapat banyak kemungkinan peningkatan penyebaran hepatitis A, tifus, malaria hingga demam berdarah, dan penyakit lainnya. Meskipun, semua ini akan dipengaruhi juga tingkat keparahan kekeringan di daerah tersebut dan ketahanan fisik warganya. Selain itu, secara jangka panjang pengaruh buruk kekeringan panjang akan berdampak peningkatan stunting bagi anak-anak. Hal ini karena dengan bencana kekeringan ekstrim akan memengaruhi pola makan, pola asuh hingga sanitasi pada warga yang terdampak,” ungkapnya.(*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo