Minggu, 25 Oktober 2020
09 Rabi‘ al-awwal 1442 H
Home / Fokus / Siasat Industri Pariwisata Halal Agar Bertahan dari Infeksi Covid-19
Foto dok. Konevi/Pexels
Industri pariwisata menjadi salah satu sektor yang terdampak Covid-19. Bahkan bisa dikatakan sektor ini lah yang terkena dampak paling parah

Sharianews.com, Industri pariwisata menjadi salah satu sektor yang terdampak Covid-19. Bahkan, disebut-sebut sektor ini lah yang terkena dampak paling parah.

Secara umum, Ketua Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) Riyanto Sofyan mempararkan dampak Covid-19 terhadap industri pariwisata di Indonesia.

Diantaranya, pemerintah menutup 180 destinasi dan 232 desa wisata di Indonesia, penurunan kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) pada Maret 2020 sebesar 64,11 persen dibandingkan Maret 2019.

Sebanyak lebih dari 2 ribu hotel dan lebih dari 8 ribu restoran/tempat hiburan berhenti  beroperasi dan kehilangan 4 miliar dollar AS. Kemudian, 90 persen (13juta) tenaga kerja pariwisata terkena pemutusan hubungan kerja (PHK)/dirumahkan/Unpaid Leave.

Hampir 7 ribu Biro Perjalanan Wisata anggota Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) berhenti beroperasi, dan peruhaan penerbangan kehilangan 812 juta dollar AS.

Sekitar 37 ribu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak. Penjualan sektor ritel, khususnya pusat perbelanjaan, turun 95 persen. Serta mengalami potensi penurunan pendapatan Wisman devisa sebesar 1 miliar dollar AS per bulan dan wisatawan nusantara (Wisnus) spending 1,6 miliar dollar AS per bulan.

Diantara pemaparan dampak itu, tentu pariwisata halal juga terkena. Meski begitu, sebagai seorang muslim tetap harus optimis bahwa pariwisata halal mampu bangkit.

Untuk pariwisata halal, Riyanto memaparkan strategi agar industri pariwisata halal mampu bertahan saat situasi pandemi.

Diantaranya adalah overhaul business model. Bongkar pasang bisnis model perlu dilakukan pelaku pariwisata. Ia menyampaikan, dalam bisnis pariwisata masih bisa dikatakan berjalan meski dalam keadaan rugi, tapi bisnis pariwisata bisa dikatakan mati kalau arus kasnya macet.

“Di pariwisata yang paling utama adalah manajemen arus kas. Caranya otomatis kita harus merestruktur biaya yang ada, karena sekarang ini, kalau meminta pinjaman tambahan tidak akan mungkin,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Komisatis Utama PT. Sofyan Hotels Tbk ini.

Ia menjelaskan, skema kemitraan pelaku pariwisata harus dijalankan agar pariwisata mempunyai nafas yang lebih panjang dengan arus kas yang terbatas.

Kondisi di lapangan menunjukan, isebagian ndustri pariwisata mau tidak mau ada yang beralih usaha, apapun dikerjakan. Contohnya beralih usaha menjadi penjual sembako.

Strategi selanjutnya, untuk pariwisata saat ini adalah pembuatan safe procokol, sesuatu yang memerlukan biaya tambahan tapi mesti dilakukan.

Kemudian, strateginya selanjutnya yakni inovasi dan kreativitas. Industri pariwisata memiliki tantangan tersendiri dibanding industri yang lain. Pariwisata tidak menjual produk atau jasa yang bisa diantar kurir, tetapi yang dijual pariwisata menjual pengalaman dan pengalaman itu diperoleh dengan mengunjunginya langsung. Untuk itu, inovasi dan kreativitas yang dilakukan dalam hal ini sangat diperlukan.

Riyanto mengusulkan inovasi dan kreativitas itu bisa dengan menyediakan perjalanan wisata ke alam, ke tampat yang jaraknya dekat atau daerah domestik yang bisa dikembangkan sedemikan rupa. Jadi, semua yang terkait dengan pariwisata bisa tetap berjalan.

Strategi yang lain adalah kembangkan digital. Permudah pelayanan turis dengan digital. Prosedur-prosedur pariwisata bsia dijangkau secara digital.

Selanjutnya, strategi yang tidak kalah penting menurut Riyanto adalah mitigasi jika gelombang kedua pandemi Covid-19 terjadi. Serta, mitigasi bencana alam juga diperlukan.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Afdhal Aliasar menambahkan dalam gaya hidup berwisata, turis ingin mendapatkan layanan yang sesuai dengan keyakniannya.

“Bukan berarti ingin melakukan Islamisasi dari suatu destinasi, tapi bagaimana kita memandu  turis mulim, apakah dia turis muslim dari dalam negeri atau pun dari luar negeri, pada saat mereka datang ke destinasi yang ada di Indonesia, mereka bisa terlayani kebutuhannya, baik makanan dan tempat ibadahnya,” tutur Afdhal.

Afdhal mengungkapkan sektor pariwisata menjadi suatu hal yang sangat penitng untuk dikembangkan, karena sektor ini menjadi konributor dan suatu bagian yang besar untuk pengembangan ekonomi Indonesia.

Rep. Aldiansyah Nurrahman