Kamis, 12 Desember 2019
15 Rabi‘ at-akhir 1441 H
Home / Lifestyle / Sertifikasi Halal Menambah Kepercayaan Diri dan Bermanfaat
FOTO I dok. Freemalaysiatoday.com
Implementasi sertifikasi halal bagi setiap produk masih menjadi polemik para pelaku usaha, khususnya usaha kecil dan mikro.

Sharianews.com, Jakarta. Di saat otoritas masih menunggu satu paraf lagi dari kementerian, sebelum akhirnya Peraturan Presiden tentang sertifikasi halal bisa dibuat untuk semua pelaku usaha, implementasi sertifikasi halal bagi setiap produk masih menjadi polemik para pelaku usaha, khususnya usaha kecil dan mikro. Mereka masih mempertanyakan kenapa produk usahanya perlu dibuat sertifikasi halal.

"Landscape sertifikasi nantinya berpindah dari MUI ke BPJPH, saya ketemu Prof Sukoso sebagai Chairman BPJPH, dan mengatakan memang banyak friksi mengenai sertifikasi, terutama terkait dengan biaya yang mahal dan proses yang panjang," ujar Rafi-Uddin Shikoh, CEO DinarStandard kepada media, Jumat (21/12/2018).

Namun sebetulnya, sertifikasi bisa menambah kepercayaan diri di kalangan industri dan memberi nilai tambah yang bermanfaat. Itu mengapa menurut Shikoh, meski di negara-negara Asia lainnya seperti di Thailand, korea, dan Hongkong persyaratan proses sertifikasi halal dibuat lebih ketat, tetapi aturannya sangat jelas.

Laporan DinarStandard, lembaga riset yang berkedudukan di Newyork dan Dubai menyebutkan, setidaknya ada 26 sub sektor daftar prioritas, yang bisa menjadi target pengembangan pasar halal yang paling tepat untuk produsen ekonomi halal di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah sektor makanan dan minuman, fashion, traveling, farmasi dan kosmetika.

DinarStandard bekerjasama dengan Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) ingin ikut berperan mengembangkan potensi industri halal global, termasuk di Indonesia. Itu mengapa DinarStandard menandatangani nota kerjasama dalam bidang riset dan penelitian serta forum seminar bertaraf internasional dengan IHCL.

Ikbal Irfani, penggiat halal lifestyle dari IPB mengatakan, secara keseluruhan dari laporan DinarStandard, Indonesia diproyeksikan mendapatkan sekitar 3,8 milyar dolar AS dari halal industri ini.

"Peluang ini harus ditangkap, bukan hanya masalah sertifikasinya saja, tetapi masalah industrialisasinya yang diperkirakan mencapai 3,8 milar dolar AS atau sekitar 0,4 dari total GDP kita sekarang," ujar Ikbar Irfan yang juga dosen IPB. (*)

 

Reporter: Romy Syawal Editor: Ahmad Kholil