Kamis, 27 Juni 2019
24 Shawwal 1440 H
Home / Lifestyle / Seorang Muslimah Boleh Bepergian Jauh Tanpa Mahrom Asalkan…
Foto: Mediamuslimah.com
Muslimah boleh bepergian jauh (safar) tanpa mahrom dengan syarat terjamin keamanan dan kehormatannya. Tapi kalau ragu, akan lebih baik membawa mahromnya.

Muslimah boleh bepergian jauh (safar) tanpa mahrom dengan syarat terjamin keamanan dan kehormatannya. Tapi kalau ragu, akan lebih baik membawa mahromnya.

Sharianews.com. Jakarta - Nabi Muhammad SAW bersabda, “Janganlah seorang perempuan melakukan safar (bepergian jauh) kecuali bersama mahramnya (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Dalam Islam, tiap Muslimah dianjurkan untuk menjaga kehormatan dirinya agar tidak jatuh pada fitnah dan kehinaan. Bagi banyak ulama, hadits di atas untuk melindungi kehormatan, kemuliaan, dan martabat Muslimah.

Safar banyak jenisnya. Mulai dari hijrah dari satu negeri ke tempat yang lebih aman, haji atau umrah, mengunjungi orangtua, ziarah, atau berwisata ke suatu tempat. Mayoritas ulama menyatakan safar adalah perjalanan yang jaraknya lebih dari 85 km.

Sebagian lainnya berpendapat, batasan suatu perjalanan disebut dengan safar atau tidak, dikembalikan pada kebiasaan masyarakat masing-masing. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih yang menyatakan: “Setiap istilah yang tidak mempunyai batasan di dalam bahasa Arab, dan tidak pula dalam syariah (Alquran dan sunnah), maka dikembalikan kepada kebiasaan masyarakat.”

Menurut Ustadz Wijayanto, Muslimah boleh bepergian tanpa mahrom dengan syarat terjamin keamanan dan kehormatannya. Tapi, lanjutnya, akan lebih baik dengan mahrom.

“Boleh saja asalkan aman dan bebas fitnah. Tapi kalau ragu, akan lebih baik bawa mahromnya,” jelas dai yang wajahnya selalu kita saksikan di layar televisi ini kepada Sharianews.com.

Ustadz Chris Januardi, menambahkan, seorang Muslimah boleh bepergian kalau sudah mengantongi izin dari suami (jika sudah menikah).

“Yang penting didampingi. Kalau sudah ada rombongan wanita lain yang bisa dipercayai tidak apa-apa. Tentu setelah meminta izin kepada suaminya (bagi yang sudah berkeluarga),” imbuh Pimpinan Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Al-Utsmani Pusat ini. (*)

 

Reporter: Linda Sarifatun. Editor: A.Rifki